Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 15 Patah Hati 2


__ADS_3

Amira berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Baginya, cepat pergi dari tempat itu lebih baik.


Tanpa terasa dia berjalan menuju halte lalu langsung menaiki angkutan umum yang lewat di depannya.


Amira sampai lupa, kalau ia tak membawa uang atau dompet sama sekali, karena tas dan buku nya pun masih berada di kelasnya. Ia lupa tujuan awalnya kemana.


Ajeng yang melihat itu kaget dan langsung berteriak memanggil Amira.


“Amira… Amira….”, teriak Ajeng panik.


Riko yang hendak berjalan ke parkiran melihat Ajeng berteriak memanggil nama Amira seperti itu kaget.


Dia mau menghampiri Ajeng namun di depan lab masih ada Desi yang sedang duduk bersama temannya.


Riko buru-buru mengambil ponsel nya dan mencari nama Ajeng. Ia ingat kalau dia menyimpan semua nomor ponsel sahabatnya Amira.


Telepon tersambung.


“Halo Ajeng, ini Riko, Amira kenapa?” terdengar suara Riko yang tak kalah paniknya.


“Oh Kak Riko, Amira pergi naik angkutan umum tapi dia ga bawa uang kak dan angkutannya juga jurusannya salah,” jawab Ajeng.


“Angkutan umum jurusan apa?” tanya Riko.


“Angkot jurusan Yos Yudarso kak,” jawab Ajeng.


Riko langsung menutup telepon nya dan bergegas pergi untuk mengejar Amira.


Sementara Digo yang dari tadi diam-diam mengikuti Amira sudah lepas landas. Motornya kini sudah berada di belakang angkot Amira.


Walaupun Digo senang melihat kejadian tadi, tapi dia tahu kalau Amira pasti sedih. Dia khawatir akan Amira.


Dan benar saja Amira bertindak tanpa berpikir panjang.


Digo dengan sabar mengikuti kemana angkutan Amira berjalan tanpa melakukan apapun. Sampai angkutan umum yang ditumpangi Amira berhenti di penghentian terkahir.


“dDuh gue kan ga bawa uang, gimana nih,” batin Amira bingung.


Amira semakin merasa sedih karena kebodohannya.


“Udah lagi sedih, malah kejadian kayak gini sih,” batin Amira.


Amira terpaksa turun dari angkotnya dengan pikiran yang kacau.


Lalu tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang, sontak Amira kaget dan melihat ke arah orang tersebut.


Digo dengan sigap mengeluarkan uang untuk dibayarkan kepada sang supir angkot sambil terus menggenggam tangan Amira.


Kemudian Digo membawa Amira ke arah motornya yang terparkir di pinggir jalan. Tanpa banyak bicara, Digo memakaikan helmnya kepada Amira.

__ADS_1


Melihat sikap Digo yang memperlakukannya seperti itu membuat Amira menangis. Tumpah semua airmata yang sedari tadi ditahannya.


Digo langsung memeluk Amira sambil menepuk-nepuk pundaknya.


Amira menangis dalam pelukan Digo. Dalam hatinya berfikir, kenapa bukan laki-laki ini saja yang dicintainya, kenapa dia malah mencintai laki-laki yang jelas-jelas membuatnya sakit itu.


Namun Riko sudah terlalu memenuhi hati dan pikirannya.


Entahlah, Amira hanya ingin menangis sekarang.


Sementara tak jauh dari tempat meraka, terlihat Riko yang sudah menghentikan motornya dan melihat Digo memeluk Amira.


Seketika hatinya langsung sakit, hancur berkeping-keping.


Ketakutannya akan kehilangan Amira seakan terlihat jelas saat ini.


Riko berdiri terdiam. Ia terus memperhatikan pemandangan di depannya itu.


Hatinya sakit melihat Amira yang saat ini sedang menangis di pelukan Digo. Tapi ia tetap berada di sana sampai Amira berhenti menangis.


Digo dengan setia menunggu hingga tangisan Amira reda tanpa banyak bicara. Amira melepaskan pelukan Digo, diusapnya air matanya.


“kakak kok bisa ada di sini ?”tanya Amira pada Digo.


“Tadi kakak ga sengaja lewat sini dan liat kamu turun dari angkutan itu, jadi kakak samperin kamu,” jawab Digo berbohong.


“Kakak anter pulang ya? Atau kamu mau kemana ?”tanya Digo lembut.


“Ya udah, ayuk,” ajak Digo.


Setelah Digo dan Amira pergi, Riko pun menghidupkan motornya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Pikirannya sudah kemana-mana.


“Amira dan Kak Digo pergi kemana setelah ini?”batin Riko berfikir.


“Amira, harusnya aku yang meluk dia, menenangkan perasaannya sekarang, harusnya aku,” batin Riko sedih.


Riko memutuskan untuk mengikuti Digo dan Amira. Ia merasa hatinya benar-benar sangat kacau hari ini.


Ia sampai tak tahu harus melakukan apa, harus kemana. Ia hanya ingin menemui Amira saat ini, tapi itu pun tak bisa dilakukannya.


Sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Amira dan Digo.


Sementara itu, sepanjang jalan Amira dan Digo hanya saling diam.


Digo tak mau menambah beban pikiran Amira. Baginya, bisa menjadi tempat orang yang dicintainya menangis dan bisa menemani Amira pada saat seperti ini sudah cukup.


Karena Digo pun sudah mengetahui penyebab Amira menangis hari ini.

__ADS_1


“Semoga kamu sadar ya mi siapa yang lebih pantes kamu cintai,” ucap Digo dalam hati.


Digo menghentikan motornya di depan pagar rumah Amira.


“Makasih ya kak udah nganter aku pulang,” ucap Amira sambil mengembalikan helm milik Digo.


“iya Mi,” jawab Digo sambil tersenyum.


Amira bingung mau mempersilahkan Digo masuk atau harus menyuruhnya langsung pulang saja. Karena sejujurnya Amira saat ini ingin sendiri, tapi dia tak enak jika harus meminta Digo langsung pulang.


Digo yang mengerti dengan kondisi Amira langsung pamit kepada Amira.


“Ya udah kamu masuk gih, kakak pamit ya,” ucap Digo pada Amira.


Amira merasa lega dengan pengertian Digo.


“Iya kak, makasih banyak ya, maaf ngerepotin kakak hari ini,” ucap Amira lagi.


“Kamu ga ngerepotin kok,” jawab Digo sambil menghidupkan motornya.


“mMasuk gih mMi, kakak pulang kalo kamu udah masuk rumah,” ucap Digo.


“Oh ya udah kak, hati-hati ya pulangnya,” ucap Amira sambil pamit kepada Digo dan mulai berjalan memasuki rumahnya.


Setelah Amira benar-benar tak terlihat lagi, Digo pun pergi. Digo sebenarnya tahu kalau Riko mengikuti mereka.


Karena itu Digo meminta Amira masuk ke dalam rumahnya agar Riko tak menemui Amira di saat kondisi hati Amira seperti ini.


Apalagi Riko lah yang menjadi penyebab Amira menangis seperti tadi.


Riko yang memarkirkan motornya agak jauh dari rumah Amira merasa tenang Ketika melihat Amira sudah masuk ke rumahnya tanpa Digo.


Kekhawatirannya sedikit berkurang saat ini.


Lalu ia memutuskan untuk pergi dari rumah Amira. Jangan ganggu Amira dulu untuk saat ini, begitu pikir Riko.


“Amira tolong jangan tinggalin kakak, jangan pergi dari kakak,” batin Riko.


“kamu satu-satunya yang kakak cintai Amira, bukan orang lain,” ucap riko sambil membawa motornya entah kemana.


“Maafin kakak amira, maaf udah buat kamu nangis hari ini,” batin Riko lirih.


Riko melajukan motornya ke arah café yang tak jauh dari rumah Amira. Ia memutuskan untuk menenangkan diri di sana, sambil minum secangkir kopi yang mungkin akan lebih menenangkannya.


Agar pikirannya saat ini bisa jernih lagi dan tau harus melakukan apa setelah ini.


Terutama dengan Amira, ia harus menahan gadis itu untuk tetap di sisinya. Dia tak boleh kehilangan Amira.


Riko pun terus berjalan hingga sampai di tujuannya, “Kopi Andalan Café”.

__ADS_1


Dia memarkirkan motornya, lalu bergegas masuk ke dalam café tersebut.


__ADS_2