Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 26 Berenang


__ADS_3

Digo membuka pintu mobilnya lalu meletakkan Amira di kursi sebelah kemudi.


Amira yang masih terus meronta-ronta merasa kesal. “Kak Digo ini kenapa sih? Maksa banget.”


Digo tak menanggapi cuitannya Amira, ia masih fokus memposisikan duduk Amira hingga nyaman, lalu memakaikan seatbelt.


Ketika memasang seatbelt, Amira langsung terdiam, jarak mereka terlalu dekat.


Digo menoleh ke arah Amira, membuat wajahnya hanya berjarak 3 cm saja dari wajah Amira.


Melihat wajah Amira dari dekat membuat jantung Digo bergetar hebat.


“Rasanya ingin sekali aku menciumnya,” ucap Digo dalam hati.


Namun Digo menepis pikiran anehnya itu lalu segera fokus ke tujuan awalnya pada Amira.


“Jadilah perempuan cantik yang penurut kali ini,” ucap Digo sambil membelai wajah Amira, menyibakkan helaian rambut yang menutupi pipi rona Amira.


Amira hanya diam tak bergerak, membiarkan Digo melakukan apa yang diinginkannya. Ia seperti tersihir oleh ketampanan wajah Indonesia-Belanda nya Digo.


Setelah itu Digo menutup pintu mobilnya dan berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu pada kursi kemudi kemudian mendudukinya.


Tak lama Erwin dan Riski telah sampai di mobil Digo.


“Go buka bagasi dong, mau naruh karpet dan barang-barang nih,” ucap Erwin sambil mengetuk jendela mobil Digo.


Digo segera keluar dari mobil lalu menekan tombol bagasi yang ada di samping joknya.


“Dasar main kabur aja lo bukannya bantuin bawa,” sewot Riski pada Digo.


“Gue kan tadi juga bawa sesuatu, tangan gue ga cukup,” jawab Digo santai sambil kembali memasuki mobilnya.


“Iya tapi yang lo bawa anak orang bukan barang, huh,” celetuk Riski masih sewot.


Digo hanya tertawa saja dalam mobilnya mendengar sewotannya Riski.


Amira sesekali menoleh ke arah Digo, lalu menatap kembali ke jendelanya.


Digo menoleh ke arah Amira. “Telepon temen-temen kamu Mi, udah pada jalan belum ke Atlantis,” ucap Digo.


Amira baru sadar ternyata ia tak membawa ponselnya. “Hp aku ketinggalan di tikar tadi kak, kakak sih main gendong aja jadi aku lupa kan ga kebawa hape nya,” jawab Amira cemberut.


“Mereka udah jalan kok, tadi sebelum kesini mereka udah masuk mobil semua,” ucap Erwin yang baru saja menaiki mobil Digo.


“Oke deh kalo gitu, kita berangkat ya,” jawab Digo kemudian menghidupkan mesinnya.


Di Waterboom

__ADS_1


Tasya, Ajeng dan Lena sudah berganti pakaian renangnya dan berjalan ke tepian kolam renang.


Tasya memperhatikan pakaian yang digunakan Lena.


“Len lo serius mau berenang pake baju ini?” tanya Tasya heran sambil menatap Lena dari atas sampai bawah.


Lena mengenakan sweater rajut panjang agak longgar dan celana training panjang.


“Ini sih lebih mirip outfit ke puncak daripada berenang Len,” ucap Tasya sambal tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Ajeng.


Lena yang hanya bisa pasrah dengan perintah Erwin pun merasa malu dan tak percaya diri dengan penampilannya.


“Hiks, gimana dong kalo ga gini gue ga bisa berenang, kan sayang banget udah masuk sini kagak berenang,” jawab Lena lesu.


“Iya sih mending gini daripada Amira, ga tau dah tuh nasibnya gimana,” ucap Ajeng kemudian.


Tasya baru mau menjawab Ajeng namun ia melihat Digo dan rombongan sudah dekat mengarah ke mereka, sehingga ia mengurungkan niatnya.


“Eh udah pada ganti rupanya,” ucap Erwin.


Lena dan yang lainnya hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Erwin.


Kemudian Erwin dan Riski segera ke ruang ganti untuk menukar bajunya.


“Lo ga renang Mi?” tanya Tasya.


Membuat wajah tampannya semakin berkilau di bawah terik matahari.


Tanpa sadar banyak perempuan yang menatap kagum pada Digo. Siang ini ketampanan Digo memang terlihat seperti dewa romawi. Tubuh tinggi, badan atletis, kulit putih dan rambut hitam sedikit kecoklatan.


Tasya, Ajeng dan Lena saja sempat terpesona dibuatnya.


“Kalian berenang aja sma Erwin dan Riski, Amira sama kakak,” ucap Digo lagi.


“Yuk Mi,” ajak Digo dan menggandeng Amira pergi dari sana.


Amira yang tak punya pilihan menurut saja dengan ajakan Digo.


“Hemm yaudah yuk kita renang aja, toh Amira dijagain sama kak Digo,” ajak Tasya.


Mereka pun berjalan menuju waterboom, rasanya sudah tidak sabar ingin menaikinya.


“Hei tunggu dong,” teriak pria di belakang mereka yang tak lain adalah Erwin.


“Buru-buru amat sih, kakak baru aja selesai ganti baju,” ucap Erwin kemudian.


“Oh kirain masih lama kak,” jawab Lena yang berjalan menghampiri Erwin.

__ADS_1


“Ya elah gue macam obat nyamuk aja nih di sini, nyesel gue ikut,” celetuk Riski.


“Apaan sih lo Ki, lebay banget orang ini juga rame,” jawab Erwin sambal senyum senyum.


“Ya udah yuk naik waterboom itu,” ajak Lena.


Sementara itu Digo membawa Amira ke café yang ada di dekat Atlantis. Berhubung mereka baru saja makan, jadinya Digo membawa Amira ke Excelso café untuk menghilangkan penat karena menunggu teman-temannya berenang sambil ngopi cantik.


“Kok kita ga nungguin mereka aja sih di dalem kak deket kolam renang?” tanya Amira.


“Males ah Mi, panas. Lagian enak di sini kan bisa sambil ngopi, tempatnya juga adem,”jawab Digo.


“Bener juga sih,”batin Amira.


“Terus aku kenapa ga boleh berenang?” tanya Amira lagi.


“Ya buat apalagi memangnya? Buat nemenin kakak di sini lah, ngopi,” jawab Digo berbohong.


Ia tak mau Amira mengetahui alasan ia melarangnya berenang, karena tak mau bentuk tubuh Amira akan terekspos dengan kaos oblong cream nya.


“Ih dasar aneh, bayar tiket renang tapi cuma mau ngopi doang, padahal dimana aja juga bisa ngopi ngapain harus jauh-jauh ke Atlantis,"ucap Amira merasa heran.


“Mau tau ga apa bedanya ngopi di luar sama disini?” tanya Digo.


“Apa?” tanya Amir lagi.


“Suasananya beda”, jawab Digo singkat.


Amira semakin tak mengerti maksud Digo, padahal café seperti ini diluar pun banyak dan bahkan suasananya kadang jauh lebih baik daripada yang ada di sini.


“Padahal mah menurut aku sama aja, bangunannya begini, interiornya sama. Excelso ya Excelso, tetep aja sama dengan Excelso yang lain,” cuit Amira.


Digo tersenyum mendengar perkataan Amira, kemudian ia memajukan wajah dan badannya lebih dekat ke Amira.


“Bukan suasana Excelso nya yang beda,” jawab Digo menatap Amira.


Amira jadi salah tingkah karena sikap Digo yang seperti itu. Siapa sih yang ga salah tingkah jika diperlakukan seperti itu oleh pria tampan seperti Digo?


“Terus apa?” tanya Amira.


“Kamu,” jawab Digo lalu tersenyum simpul kemudian kembali ke posisi duduknya semula.


“Aku ga ngerti,” jawab Amira dengan polosnya.


“Amira.. Amira, kamu ini ya, gini nih.. kalo kakak ngopi di luar memang tempat nya atau interiornya sama kaya di sini, ya ga beda jauhlah. Tapi kalo kakak di sini sekarang, kakak ditemenin sama kamu. Belum tentu di luar sana kakak bisa duduk begini sama kamu,” jelas Digo lalu meminum kopinya.


“Ohh,” Amira yang merasa bodoh hanya menjawab itu saja yang terpikir olehnya.

__ADS_1


__ADS_2