Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 75 Janji


__ADS_3

Digo mencium Amira seperti orang yang kelaparan saja, benar-benar tidak ada jeda bahkan untuk menarik nafas. Amira yang sudah merasa terengah-engah mengimbangi ci*man Digo pun akhirnya berusaha mendorong wajah Digo.


Digo yang merasa kaget karena bibirnya terlepas dari bibir Amira pun menatap gadis itu.


"Kok dilepas sih Mi?" Protesnya.


"Aku gak bisa nafas kak," jawab Amira menundukkan kepalanya.


Digo pun tersenyum mendengar perkataan Amira. Karena terhanyut suasana ia sampai lupa memberi jeda pada Amira untuk bernafas.


Sementara Amira yang merasa malu karena ci*man tadi hanya menundukkan kepalanya.


Digo memperhatikan Amira. "Mi, liat kakak dong masa nunduk gitu."


Amira masih tetap menunduk. Ia malu jika ketahuan wajahnya saat ini memerah seperti tomat.


Digo yang gemas akhirnya mengangkat dagu Amira agar gadis itu melihat dirinya. "Kamu kenapa? Kok wajahnya merah?"


Amira menggeleng tanpa menatap Digo. Ini ci*man pertama bagi Amira. Jadi dia bingung harus bagaimana ya setelah orang berciuman?


Digo tersenyum lalu mencium bibir Amira lagi. Tapi kali ini hanya mengecupnya.


"Kamu malu ya?"


Amira mengangguk.


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan hal begini," ucap Digo menggoda Amira.


"Ih apa sih kakak kok jadi cabul gini," jawab Amira cemberut.


"Kok cabul sih? Ini tuh namanya bumbu-bumbu cinta," jawab Digo santai.


Tiba-tiba Digo teringat sesuatu. Dia menatap Amira lekat lalu mengusap bibir gadis itu lembut.


"Apa kamu pernah ci*man begini dengan Riko?" Tanya Digo.


"Aku sama Kak Riko gak pernah ci*man kak, hemm.. kakak orang pertama yang ci*m bibir aku," jawab Amira malu-malu.


"Benarkah?" Tanya Digo senang lalu memeluk Amira.


"Ah kehormatan sekali jadi orang pertama dan terakhir," ucapnya.


"Terakhir?" Tanya Amira bingung.


Digo melepaskan pelukannya lalu memegang pundak Amira dan menatapnya.


"Kamu mau ci*man sama siapa lagi Mi? Pacar kamu kan kakak dan nanti suami kamu itu juga kakak, jadi cuma kakak yang bisa ci*um kamu," ucap Digo mulai sewot.


"Oh iya ya? Iya..iya kakak pertama dan terakhir yang cium aku," jawab Amira tersenyum.

__ADS_1


"Kalo gini? Udah pernah sama Riko?" Tanya Digo lalu memeluk Amira.


Amira mengerutkan dahinya. "Pelukan maksudnya?"


"Iya, pelukan," jawab Digo masih memeluk Amira.


"Pernah," jawab Amira.


Digo yang mendengar itu hatinya kembali memanas. Lalu ia melepaskan pelukannya pada Amira.


"Kurang ajar banget Riko ini berani-berani nya meluk kamu, wanitanya Digo!" Ucapnya kesal.


"Ya ampun kakak, itu kan udah lewat dan gak sering kok," jawab Amira mencoba menenangkan.


Digo tetap kesal mendengarnya. Rasanya ingin menghajar Riko sekali lagi.


Melihat Digo yang ngambek itu pun Amira memeluk Digo lagi.


"Jangan ngambek dong kakak, kan aku sekarang milik kakak, jadi mulai sekarang cuma kakak yang akan aku peluk begini, aku janji akan sering-sering peluk kakak," ucap Amira.


Digo yang mendapat pelukan Amira pun mulai melembut. "Janji?"


Amira mengangguk. Lalu Digo melepaskan pelukannya dan mencium bibir Amira lagi. Ci*man hangat yang tidak selama tadi.


"Kalo ini, sering-sering juga gak?" Tanya Digo genit.


"Ih kakak ini, kenapa jadi genit sih?" Sahut Amira memukul lembut lengan Digo.


"Nggak boleh sering-sering ah, bukan muhrim," jawab Amira lagi.


"Kalo gitu kakak buat muhrim deh, pulang dari sini kakak langsung lamar kamu ya, terus kita nikah," ucap Digo bersemangat.


"Nikah? Aku kan masih kuliah kak, masa mau dinikahin sih?" Jawab Amira heran.


"Pokoknya gak ada penolakan!" Sahut Digo kesal.


"Ya udah iya aku nurut aja sama kakak kalo gitu, aku gak apa-apa juga kalo nikah masih kuliah, toh gak ada lagi laki-laki yang mau aku cari lagi," jawab Amira pasrah.


"Emang kamu mau cari laki-laki lagi Mi?" Tanya Digo mulai protektif.


"Enggak, kan tadi aku bilang gak ada lagi kak," jawab Amira benar-benar pusing meladeni Digo.


"Oh ya udah kalo gitu, kirain kamu masih mau cari laki-laki lain. Mulai sekarang kakak gak akan melunak sama siapapun loh Mi kaya sama Riko kemarin," ucap Digo mengingatkan Amira.


"Iya kak, aku nurut aja deh sama kakak, tapi kalo nikah pas kuliah gitu, nanti aku lulus mau kerja dimana kak?" Tanya Amira.


"Ngapain kerja sih Mi? Kakak bisa menghidupi kamu bahkan sampe tujuh turunan," sahut Digo heran dengan pemikiran Amira.


"Ya kan aku kuliah biar bisa ngerasain kerja kak," sahut Amira ragu.

__ADS_1


"Oh ya udah kerja melayani kakak aja, yang penting kerja kan?" Tanya Digo asal.


"Ih maksud aku bukan kerja yang kaya gitu, maksudnya kaya orang-orang itu loh yang kerjanya di kantor," sahut Amira kesal.


"Oh gitu, itu mah gampang, nanti kerja sama kakak aja di perusahaan kakak, nanti kakak kasih posisi yang terbaik," ucap Digo.


"Posisi apa kak?" Tanya Amira senang.


"Pendamping kakak kerja," jawab Digo.


"Ih sama aja melayani kakak cuma beda tempat," jawab Amira sewot lalu berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Digo.


"Mau lanjut beres-beres kak, katanya mau pulang, ini gak selesai-selesai kalo kita malah pacaran terus," sahut Amira yang mulai membenahi barang-barangnya.


"Oh iya sampe lupa," jawab Digo lalu membantu Amira membenahi barangnya.


"Apa nih yang bisa kakak bantu?" tanya Digo ketika berdiri di samping Amira.


"Kakak bisa bantu keluarin baju aku di lemari box itu kak," ucap Amira sambil menunjukkan lemari box yang dimaksud.


Digo pun menuruti Amira. Ia berjalan mendekati lemari itu dan membuka laci pertamanya.


Amira yang sedang merapihkan peralatan belajarnya pun tiba-tiba berhenti. Ia menyadari sesuatu. Lalu ia segera berlari menghampiri Digo.


Sudah terlambat, yang saat ini Digo buka adalah laci pakaian dalam Amira. Dengan mesumnya Digo mengambil sepasang pakaian itu lalu ditempelkan pada dirinya.


Amira yang melihat itu benar-benar sangat malu. Ia langsung merebut pakaian dalam yang ada di tangan Digo lalu memasukkannya kembali dalam lemari box.


"Ih Kak Digo beresin yang di sana aja deh itu yang tadi aku beresin," usir Amira dengan mendorong tubuh Digo menjauh.


"Lah kenapa Mi? Kakak mau beresin yang ini aja," sahut Digo tak mau pergi.


"Nggak boleh!" Sahut Amira dengan berdiri di depan lemari box nya.


"Bantu yang di sana aja," ucap Amira lagi lalu mendorong tubuh Digo agar pergi dari sana.


Mau tak mau Digo bergerak menjauh dari Amira. Lalu ia pun membenahi barang yang Amira minta dengan wajah tersenyum bahagia.


"Kenapa rasanya pengen nikah muda ya," batinnya sambil membayangkan Amira menggunakan pakaian dalam tadi membuat Digo tak berhenti tertawa sendiri.


Amira heran melihat Digo bertingkah aneh seperti itu, ia pun mempercepat aktivitasnya memasukkan baju ke dalam kopernya. Setelah selesai, ia menghampiri Digo yang masih senyum-senyum sendiri.


"Kakak ini kenapa sih? Bikin aku takut aja, kakak gak kesurupan kan?" tanya Amira ketika telah berada di hadapan Digo lalu menempelkan telapak tangannya pada dahi Digo.


"Enak aja kakak kesurupan, orang lagi bahagia gini," ucap Digo memandang Amira lalu memeluknya.


"Rasanya masih kaya mimpi bisa begini sama kamu Mi, setelah sakit yang selama ini kakak rasakan, kakak bener-bener gak mau melepas kamu. Selamanya kamu harus hidup sama kakak," ucap Digo dalam pelukannya.

__ADS_1


Amira tersenyum membalas pelukan Digo. "Kemarin waktu aku merelakan kakak, semua perasaan sakit dan sedih yang aku tanggung ternyata gak sebanding dengan kebahagiaan saat ini kak. Makasih ya karena terus perjuangin aku."


"Kakak mencintai kamu Mi," ucap Digo kemudian mengeratkan pelukannya.


__ADS_2