
POV Amira
Sepanjang hari aku menghabiskannya dengan memikirkan ucapan Kak Digo.
Dia benar, aku mencintainya. Aku mencintainya dalam setiap nafasku. Aku membutuhkannya sebagai rumah, dimana aku dapat kembali ketika dunia kurasa kan tak lagi berpihak padaku.
Aku mencintainya.
Aku mencintainya hingga aku tak pernah sadar bahwa tak ada satupun sudut kosong dalam hatiku karena kehadirannya.
Aku tak menyadari jika selama ini dia telah mengambil seluruh ku, menjadikanku utuh pada jiwa yang selama ini aku rasakan separuh.
Kak Digo, jika Tuhan mengizinkan aku untuk menyampaikan semua yang kurasakan ini, akankah tak ada yang tersakiti?
Bagaimana dengan Kak Riko, selama ini aku berpikir semestaku hanya ada dirinya, namun ternyata kamulah pemilikku.
Mungkinkah dia akan patah seperti patahku ketika aku tau dia telah berdua?
Bagaimana dengan Nisa, wanita yang selama ini mencintaimu dengan hebatnya? Wanita yang selalu berjuang keluar dari rasa rindunya yang tak terbayar. Tega kah aku mengambil satu-satunya penawar baginya?
Namun..bagaimana dengan diriku sendiri? Bisakah aku sekuat Nisa, menghabiskan hari-hariku dengan rasa rindu yang tak berujung? Bisakah aku menahan rinduku padamu di sepanjang sisa hidupku?
Bahkan saat ini pun aku tak mampu menahan rinduku kak, kau terlalu indah untuk aku lupakan.
Bagaimana aku bisa melupakanmu? Jika cinta yang kau berikan adalah versi terbaik yang pernah aku temui.
Kau tetap memelukku walau saat itu hatimu aku buat patah.
Kau tetap berjalan kepadaku meski kau tau arah jalanku menuju cinta selain dirimu.
Sungguh aku menginginkanmu kak, Tuhanku menjadi saksi atas rasa yang dititipkanNya padaku.
Tapi aku tak mampu mengkhianati Nisa.
Dialah wanita yang telah begitu lama memelihara rasa cintanya padamu kak, aku merasa tak memiliki hak untuk mengambil mu darinya.
Sungguh, kenyataan ini kembali menamparku, membuatku tersesat di sudut maya dan mulai tersingkir dari dunia nyata.
Aku menuliskan kata-kata itu dalam diary ku dengan airmata sebagai penghiasnya. Ku tutup buku ku dan ku simpan ke dalam laci mejaku.
Kelak buku ini akan menjadi pengingat ku, bahwa aku pernah mati-matian berperang melawan kenyataan dan juga cintaku.
__ADS_1
Aku berjalan ke kasurku, lalu ku rebahkan diriku dengan mata terpejam. Kubayangkan sekali lagi wajah orang yang selama ini ku sembunyikan dari cintaku.
Semua yang ia lakukan, semua cinta yang ia berikan, terekam jelas dalam ingatanku.
Mengapa aku begitu bodoh? Bahkan dalam kerapuhan hatinya, ia masih menemuiku dengan cinta. Ah rupanya begini rasanya menjadi dirimu kak. Sakit sekali ternyata membiarkan orang yang kita inginkan untuk ada di sisi kita tapi justru kita lepaskan untuk bersama orang lain.
Aku mencoba tertidur dalam isakanku. Nafasku berat, hidungku terasa sakit. Bahkan mataku berdenyut karena lelah menangis. Tanganku terus sibuk menyeka airmata yang tak jua berhenti.
Lelah sekali...
Rasanya tidak ingin tidur dalam keadaan seperti ini. Tapi aku harus memaksakan diriku agar untuk tertidur. Karena hanya dengan terlelap aku mampu menyingkirkan rasa sakit yang ada di hatiku.
****
POV Digo
Aku bejalan gontai memasuki ruang kesayanganku. Kemudian aku duduk di tepian jendela kamarku yang kini menjadi tempat favoritku sejak aku memikirkan tentangmu Amira.
Ya, masih selalu kamu yang menjadi topik utama dalam narasi hidupku. Selama 5 tahun berlalu aku tak pernah menemukan orang yang begitu aku inginkan hingga aku bertemu denganmu.
Aku pikir Tuhan mengirim dirimu untuk menjadi penyembuh luka ku. Luka lama ku yang telah mengering dimakan waktu.
Tapi ternyata Tuhan menitipkan luka yang lebih perih dari luka lama ku melalui dirimu.
Apakah karena kebodohanku ini yang membuatmu tak mau menerimaku?
Aku kira aku telah berhasil mengetuk pintu hatimu. Tapi ternyata kau membentengi pintu itu dengan tembok besi yang begitu sulit untuk aku lewati.
Mengapa begitu sulit hatimu untuk ku singgahi?
Tak bisakah kau melihat cintaku?
Apakah aku harus berdarah-darah agar kamu menoleh sekali saja ke arahku?
Aku mencintaimu Amira, sungguh..
Hanya dirimu
Pandanganku nanar menatap sisi jalan yang terlihat dari dalam kamarku.
Berharap aku tak mengingat tentangmu untuk sementara ini saja.
__ADS_1
Tapi bahkan dalam keadaan seperti ini aku masih mampu melihat bayanganmu Amira.
Padahal tempat ini belum pernah terjamah olehmu. Hadirmu pun belum pernah aku rasakan di tempat ini.
Tapi mengapa bayangmu mampu mengejar ku kesini? Dimana lagi tempat yang harus aku datangi tanpa ku temui bayanganmu Amira?
Sampai kapan kau menyiksaku dengan cinta yang tak bertepi ini?
Aku berjalan ke kasurku, ku rebahkan diriku melepaskan lelah yang kupikul sedari tadi. Aku menatap langit-langit kamarku berharap sakit di hatiku hilang.
Sungguh aku ingin sakit ini menghilang dari hatiku. Tapi selama aku membuka mata, selama itu pula rasa ini menjalar di seluruh tubuhku.
Kemudian aku memejamkan mataku, berharap lelap ku membawaku pada kedamaian abadi. Atau setidaknya menghilangkan sejenak rasa sakitku.
*******
Amira dan Digo sama-sama tertidur berbalut perih yang dibawanya hingga pagi menjelang.
Amira terbangun mendengar suara ponselnya yang sedari tadi berdering. Ternyata telpon masuk dari Tasya. Amira membuka matanya yang terasa masih sangat berat lalu mengambil ponsel yang terletak di sisi kanannya.
“Halo,” sapa Amira dengan suara khas bangun tidur.
“Heh Mi, dari tadi gue telponin lo belum bangun? Gila apa lo udah jam segini baru bangun,” sahut Tasya yang terdengar ada di keramaian.
“Tasy lo berisik banget sih, lo dimana emangnya?”Amira malah bertanya balik.
“Gue lagi di jalan ini mau ke kampus. Lo lupa kita ada ujian? Cepet bangun sana ntar lo ketinggalan loh.” ucap Tasya dengan suara setengah berteriak karena khawatir suaranya tak terdengar.
“Lah iya kita mau ujian ya? Lupa gue Tasy gue ga kebangun kalo lo ga bangunin gue,” sahut Amira panik dengan tangan menepuk jidatnya.
“Ih untung aja gue nelponin lo terus Mi, kalo tadi ga gue telpon bisa-bisa lo masih tidur sampe kita selesai ujian. Ya udah sana lo sia-siap udah mepet ini,” ucap Tasya mengingatkan.
“Iya iya gue siap-siap dulu, ya udah gue tutup telponnya ya gue mau mandi,” jawab Amira lalu menutup telponnya.
Ia terduduk di kasur untuk mengumpulkan nyawanya yang masih belum sempurna akibat bangun tidur dengan kaget.
Kak Digo.
Pertama kali yang terlintas di Pikirannya adalah nama itu. Ia mulai mengingat jika semalam tertidur sambil menangis.
Ah ternyata sakitnya masih tertinggal. Amira tersenyum miris.
__ADS_1
Tak ada waktu untuk menangis, karena hari ini ia harus bersiap-siap untuk ke kampus dan mengerjakan ujian. Harus lulus ujian agar mempermudah langkahnya ke depan.
Apapun yang ia rasakan, ia harus melewati ujian ini dulu, pikirnya.