
Hari itu kelas Amira mengikuti ujian Kimia konstektual. Mata kuliah itu adalah mata kuliah yang diikuti Digo juga.
Digo sebenarnya ingin menjemput Amira untuk berangkat bersama. Namun hal itu urung dilakukannya. Akhirnya ia berangkat sendiri ke kampusnya tanpa menjemput Amira, dan sekarang sudah duduk manis di bangkunya.
Matanya menyapu seluruh ruangan, ia kira dirinya yang terlambat tapi rupanya kelas belum dimulai bahkan Amira belum kelihatan.
Tak lama seseorang datang dengan membawa tumpukan kertas memasuki kelas tersebut. Ia berjalan lalu duduk di meja dosen dengan meletakkan kertas yang tadi dibawanya.
“Riko,” batin Digo.
Hari ini Riko menggantikan Dosen Kimia konstektual untuk mengawas ujian atas permintaan Dosen itu. Mata Riko tertuju kepada Digo yang juga saat ini sedang menatapnya.
“Hari ini saya yang diminta Pak Luis untuk menggantikannya mengawas ya, mohon untuk dapat mengerjakan ujian dengan tenang,” ucap Riko di depan kelas.
Kemudian matanya menyapu ke seluruh ruangan. "Kemana Amira? Tau begitu tadi aku jemput saja,” pikirnya ketika tak menemukan keberadaan gadis yang dicintainya itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Riko dan semua yang berada di kelas tersebut menoleh. Terlihat Amira yang terengah-engah berdiri menatap Riko.
Amira terkejut melihat yang berdiri di meja dosen adalah Riko, bukan Pak Luis.
Entah ini keberuntungannya atau memang kebetulan tapi ia sangat bersyukur kali ini. Karena hanya dia yang terlambat datang untuk mengikuti ujian.
“Maaf kak saya terlambat,” ucap Amira sambil menundukkan kepalanya kepada Riko.
“Iya ga apa-apa, langsung masuk dan duduk aja ya,” sahut Riko tersenyum pada Amira namun pandangan matanya menyiratkan pertanyaan kamu darimana saja sayang?
Amira berjalan menuju tempat duduk yang kosong dan sialnya hanya tersisa satu, yaitu di sebelah Digo. Amira berdiri sejenak melihat seluruh ruangan, berharap masih ada kursi lain yang tersisa. Tapi sayangnya..tidak ada.
Digo menatap Amira dengan hati tak menentu. Ada rindu, marah, kesal, sayang dan khawatir dalam pancaran matanya.
Amira menatap Digo, sesaat mata mereka bertemu. Jantung Amira seperti mau copot saja, baru semalam menangisi dan merindukan Digo, kini orangnya ada di depan matanya.
Amira lalu duduk dan mulai menyiapkan peralatan belajarnya.
Riko yang sedari tadi memperhatikan mereka dari depan merasa ingin sekali memisahkan tempat duduk mereka. Ia lalu berjalan dan mulai membagikan kertas ujian satu persatu.
__ADS_1
Sebenarnya kertas itu bisa dibagikan secara estafet kepada mahasiswa yang duduk paling depan, tapi ia ingin mengunjungi Amira dengan membagikan kertas itu sendiri padanya.
Saat kertas itu sampai pada meja Amira, Digo melihat Riko tersenyum lembut pada Amira seolah memberi semangat kepada gadis itu.
Digo berdecak kesal, "Bisa-bisanya dia senyum-senyum ke Amira doang.”
“Kertas saya juga dong,” ucap Digo tiba-tiba dengan nada ketus yang seketika menghentikan senyuman di wajah Riko.
Tatapan Riko beralih kepadanya lalu menyerahkan kertas ujian dengan senyum palsu sebentar lalu berubah menjadi ekspresi datar.
Kertas itu melewati Amira karena Riko memberikan kepada Digo saat posisinya ada di sebelah Amira.
Digo menerimanya kemudian melengos begitu saja. “Kesal sekali rasanya,” batinnya.
Amira menatap mereka bergantian, memperhatikan tingkah kedua kakak tingkatnya itu.
Heran sekali, kenapa seperti anak kecil saja,” pikirnya sambil menggelengkan kepalanya.
Kemudian dengan hati gusar Riko melanjutkan pembagian kertasnya kembali dan mulai berjalan menjauhi Amira dan Digo.
Sesakit-sakitnya Digo menahan rasanya pada Amira kemarin, ternyata kehadiran Amira juga lah yang membuat kesedihan dan rasa sakitnya hilang. Hanya dengan berada di dekatnya saja, seketika kesedihan yang kemarin dirasakannya berganti keceriaan.
Digo memegang tangan Amira iseng ketika gadis itu sedang menulis namanya. Amira terkejut lalu menatap Digo dengan tatapan kaget.
Digo tertawa melihatnya lalu menggoda Amira. “Serius amat sih Mi.”
Amira melotot lalu menepis tangannya yang masih berada di bawah tangan Digo.
“Lepas kak, ini di kelas,” ucap Amira pelan dengan mata yang masih sedikit melotot.
“Biarin aja di kelas, ga ada yang protes ini,” jawab Digo tak peduli.
Amira mengacuhkan perkataan Digo dan masih berusaha melepas tangannya. Tapi Digo tetap memegang tangan Amira sambil terus menggodanya.
Riko yang melihat itu segera menghampiri mereka berdua lalu dengan sengaja berhenti tengah-tengah mereka. Membuat tangan Digo terlepas dari Amira.
__ADS_1
Digo melihat Riko dengan tatapan kesal begitu juga dengan Riko. Ingin sekali rasanya menegur dengan kata-kata yang tidak sopan, namun Riko masih menahannya karena Digo adalah kakak tingkatnya.
“Kerjakan soal dengan tenang ya teman-teman,” ucap Riko kepada peserta ujian namun seperti menyindir Digo.
Amira yang melihat itu hanya diam saja, menatap Riko dan Digo bergantian sebentar lalu memilih melanjutkan pekerjaannya.
Riko memperhatikan Amira yang sudah sibuk dengan kertas ujiannya. Riko bermaksud menghampiri Amira namun tiba-tiba Digo menepuk tangan Riko agar menoleh ke arahnya.
“Tolong jelasin ini dong maksud soalnya apa, saya gak ngerti deh,” tanya Digo sengaja mengalihkan pandangan Riko.
Riko menoleh ke arah Digo dengan malas lalu menjawab pertanyaannya secepat kilat. Kemudian Riko kembali menuju meja kerjanya, ia rasa tak ada gunanya disitu karena Digo pasti terus mencari ulah agar dia tak mengganggu Amira.
Riko duduk sambil memperhatikan Amira dan Digo. Padahal kelas itu berisi sekitar 20 orang tapi mata Riko hanya tertuju pada kursi Amira dan Digo yang sungguh sial malah bersebelahan.
Digo menyentuh lengan Amira. “Mi pinjem penghapus dong,” Digo mencari alasan.
Amira menoleh sekilas, lalu mengambil penghapus yang ada di mejanya dan menyerahkannya kepada Digo.
Digo mengambil penghapus itu dengan sedikit menyentuh tangan Amira. Lalu tersenyum manis pada gadisnya itu.
Amira hanya menatap Digo heran lalu menggelengkan kepalanya diperhatikannya tingkah Digo yang menurutnya agak aneh itu.
“Apa yang dihapus sih kak? Liat kertasnya dong itu mau ngapus yang mana jangan liatin aku,” ucap Amira gemas karena melihat Digo yang menghapus kertas sambil menatapnya dengan senyuman sumringah.
Riko yang memperhatikan mereka lagi-lagi merasa kesal dan beranjak dari mejanya. Ia berjalan menghampiri Digo dan Amira tepat berdiri di tengah-tengah kursi mereka.
"Ehhemm ehhemmm... " Riko berpura-pura batuk.
Digo menatap Riko kesal. “Ngapain lagi sih nih anak.”
Riko memutuskan untuk mengawasi ujian dari tempat Amira dan Digo saja daripada ia kesal melihat tingkah Digo yang usil kepada Amira.
Kebetulan Amira dan Digo berada ada barisan kursi yang paling belakang namun masih menyisakan space ruang di belakang kursinya.
Riko membawa kursi nya dan meletakkan di belakang Amira dan Digo. Jadilah sepanjang ujian mereka diawasi Riko dari belakang.
__ADS_1
“Menyebalkan,” ucap Digo mendengus kesal.