
Amira menatap jendela kamarnya dengan sendu. Sejak terakhir Digo meninggalkannya, ia tak pernah lagi bertemu dengan pria itu. Pikirannya mengingat bagaimana Digo kembali, biasanya Digo selalu mencari dan menemukannya tak peduli apa yang terjadi.
Namun saat ini, bahkan sekedar kabar tentang Digo pun tak lagi ia dengar. Ia melihat pintu pagar rumahnya, mengingat ketika beberapa kali Digo datang ke rumahnya dan masuk melalui pintu itu. Amira pun menangis. Merasakan sakitnya rindu yang sebenarnya ia buat sendiri.
Niatnya ingin melupakan Digo, namun mengapa sesakit ini? Dari sekian banyak manusa di bumi ini, kenapa aku harus mencintai kamu? Ketika yang lain sedang bahagia bersama orang yang mereka cintai, kenapa aku harus bersedih dengan rasa rindu untuk melupakanmu?
Amira masih merenung sambil menangis sendiri. Menangisi nasib cintanya, mengapa tak seberuntung orang lain?
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu. Amira tersentak, rasa rindunya yang besar untuk Digo membuatnya berfikir bahwa itu mungkin adalah Digo. Pria yang seperti biasa, selalu mencari dan menemukan keberadaannya. Amira berjalan mendekati pintu lalu membukanya.
Ia terkejut begitu yang dilihatnya adalah Nisa. Wanita yang menjadi penyebab hubungannya dan Digo tidak bisa bersatu. Wanita yang… juga ia sayangi.
Nisa yang awalnya tersenyum karena telah dibukakan pintu oleh Amira, namun ketika melihat wajah Amira yang sembab dengan mata bengkak senyumnya langsung hilang.
“Mir, kamu kenapa? Kamu seperti habis menangis,” tanya Nisa khawatir.
Amira semakin tak kuasa menahan kesedihannya. Ia pun memeluk Nisa lalu terisak dalam pelukan gadis itu. Nisa yang bingung langsung membalas pelukan Amira. Diusapnya punggung Amira dengan penuh kasih. Nisa tak banyak bicara, ia juga tak bertanya ada apa pada Amira.
Ia hanya memeluk, mengusap punggung Amira, dan menunggu gadis itu menangis, menumpahkan segala kesedihannya tanpa Nisa tanya kenapa. Mungkin inilah yang dibutuhkan Amira saat ini, pikirnya.
Setelah tangisannya mulai mereda, Amira perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus sisa airmata yang masih mengalir di wajahnya. Lalu ia berjalan masuk dan diikuti oleh Nisa. Nisa mengikuti Amira hingga masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu kenapa Mir?” tanya Nisa setelah mereka duduk di tempat tidur milik Amira. Namun tak langsung dijawab Amira. Gadis itu masih diam dan tertunduk. Sungguh Amira tak tahu harus mengatakan apa. Karena sakit yang Amira rasakan dalam hatinya saat ini sebagian besar justru karena Nisa.
“Mir?” tanya Nisa lagi sambil memegang pundak Amira.
Amira menggeleng lemah, masih sesekali meneteskan airmata. “Aku.. aku inget orang yang aku cintai Nis.”
“Aku merindukan kehadirannya di sisiku," ucap Amira dengan sesenggukan nya.
__ADS_1
Nisa merasa kasihan melihat Amira. Kemudian ia memajukan badannya dan memeluk pundak Amira dari samping. Diusap-usapnya punggung Amira, agar sesak dalam hatinya bisa berkurang.
“Maafin aku Mir, ini karena aku kemarin ngasih liat foto dia sedang berpelukan ke kamu ya?” tanya Nisa dengan polosnya. Ia yang berpikir bahwa laki-laki yang dimaksud Amira adalah Riko, merasa bersalah karena telah membuat Amira menangis mengenang laki-laki itu.
Mendengar itu Amira terkejut, ia baru sadar jika Nisa tidak mengetahui hubungannya dengan Digo. Amira pun menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa Nis, kamu gak salah kok,” ucap Amira kemudian menatap Nisa.
“Kamu ada apa kesini? Tumben gak bilang dulu?” tanya Amira mencoba tersenyum kepada Nisa.
“Oh, tadi aku ke toko aksesoris, aku liat gelang lucu banget jadi aku beli dua,” sahutnya sambil mengambil gelang yang ia simpan di dalam tasnya.
“ini,” Nisa memperlihatkan gelang tersebut. “Nih, satu buat kamu, satu lagi buat aku," ucap Nisa lagi, kemudian memasangkan satu gelang di tangan Amira.
Amira melihat itu jadi ingin menangis lagi. Bagaimana ia bisa mengecewakan wanita di hadapannya ini? Rindunya pada Digo serta rasa kehilangan sosok pria itu, sempat membuat ia berpikir untuk memiliki Digo saja untuk dirinya sendiri. Tapi, rasanya ia tak sanggup membuat Nisa kembali menangisi lukanya.
Tanpa sadar Amira meneteskan lagi airmata nya. Nisa yang baru selesai memasangkan gelang itu pun terkejut melihat Amira.
“Kamu boleh nangis sepuas kami Mir, jangan dipendam sendiri ya, aku akan ada buat kamu," ucap Nisa mengusap punggung Amira.
Amira tak menjawab Nisa. Ia hanya terdiam dalam pelukan Nisa dengan tatapan kosong. Kemudian Amira melepaskan pelukan Nisa lalu memandangnya lekat.
“Jangan sedih lagi ya Mir, aku sedih liat kamu nangis kaya gini. Kamu masih sayang sama Riko? Kalo iya, aku bantu kamu ya, aku temuin Riko untuk nanya hubungan kalian,” ujar Nisa dengan polosnya.
Amira menggeleng lalu mengusap airmata nya. “Gak perlu Nis, aku bisa kok lewatin ini.”
"Aku cuma perlu waktu aja untuk membiasakan diri aku tanpa kehadirannya.” Amira mengatakan itu dengan pandangan nanar ke depan dan pikirannya membayangkan Digo.
“Kalo kamu memang sayang sama dia, jangan lepasin dia Mir, aku gak mau kamu jadi seperti aku. Aku gak mau kamu hidup dalam penyesalan seperti yang aku rasakan saat ini,” Ucap Nisa sambil memegang pundak Amira.
__ADS_1
Amira tertunduk. Mencoba berpikir sejernih mungkin.
Amira menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menatap Nisa. “Nis, kamu mau ketemu sama yang namanya Digo?”
Nisa terkejut hingga membelalakkan matanya. “Kamu kenal Digo?”
“Enggak, aku ga kenal sama dia, tapi aku inget kalo dia adalah kakak tingkatnya Kak Riko,” jawab Amira
“Benarkah?” tanya Nisa penuh harap.
Amira mengangguk. “Aku bisa bantu kamu untuk pertemukan kamu dengan Digo Nis.”
Amira memegang tangan Nisa lalu tersenyum. “Kamu mau?”
Nisa mengangguk senang lalu kembali memeluk Amira. “Mir, kamu benar-benar sahabat terbaik aku, padahal tadi aku yang mau menolong kamu untuk kembali sama Riko, tapi malah kamu yang nolong aku untuk ketemu Digo.”
Amira berusaha untuk tersenyum kemudian melepas pelukannya. “Dia mau wisuda lusa Nis.”
“Digo? Dia baru mau wisuda?” tanya Nisa.
“Iya, dan jadwal dia wisuda adalah lusa. Riko bilang dia tak memiliki pendamping Nis, mungkin kamu cocok untuk menjadi pendamping wisudanya," ucap Amira dengan menahan rasa sakit di hatinya.
“Tapi, apa dia gak kaget dan mau kalo aku jadi pendamping wisudanya?” tanya Nisa merasa khawatir.
“Kamu tenang aja Nis, gak ada yang bisa nolak perempuan semanis dan sebaik kamu, aku tau dimana tempatnya, nanti aku yang antar kamu,” jawab Amira.
“Baiklah Mir, aku akan datang dan bertemu dengannya. Walau mungkin ini adalah pertemuan yang terakhir kami, yang terpenting rinduku selama ini padanya sudah terbayar," sahut Nisa dengan tatapan sendu.
“Jangan buat itu jadi yang terakhir, jika kamu masih mau meneruskannya Nis,” ucap Amira kemudian. Ia mencoba mengembalikan cinta di tempat yang seharusnya.
__ADS_1
“Aku ikhlas,” ucap Amira dalam hatinya.