
Digo hari ini berencana mendatangi Amira karena ia merasa terlalu senang telah mengetahui isi hati Amira yang selama ini dinantinya, walaupun belum dikatakan oleh gadis itu, tapi Digo yakin saat ini Amira mulai menyadari perasaanya.
Selesai bersiap Digo berjalan ke garasi rumahnya dan mulai menjalankan mobil menuju rumah Amira. Ia tak mengabarkan kepada gadis itu bahwa dia akan ke rumahnya hari ini, karena takut gadis itu menolak jika ia bilang ingin mengunjunginya.
Setibanya Digo di rumah Amira, ia melihat gadis pujaannya itu sedang menyiram bunga di halaman rumah. Digo memarkirkan mobilnya di depan pagar lalu ia masuk menghampiri Amira.
“Pagi cantik,” sapa Digo yang telah berdiri di belakang Amira.
Amira yang terkejut karena tiba-tiba ada suara yang sangat ia kenal di dekatnya segera menoleh ke sumber suara.
“Kak Digo, ngagetin aja,”sahut Amira lalu mematikan selang airnya.
Amira berjalan mendekat ke arah Digo. “Kakak ngapain disini?”
“Kakak pengen ketemu kamu Mi, boleh kan?” jawab Digo sambil berjalan mengikuti Amira menuju teras rumahnya.
“Iya boleh, maksudku kenapa ga ngabarin dulu?” tanya Amira.
“Ga kepikiran mau ngabarin mi, oh iya.. ini ,”ucap Digo sambil menyerahkan bucket kecil berisi beberapa cokelat dan beberapa tangkai bunga mawar menghiasinya, yang sedari tadi dibawanya.
“Buat aku?” tanya Amira melihat bucket itu.
“Iya lah buat kamu emang ada siapa lagi di sini? Atau buat mama kamu aja nih?” goda Digo.
Amira mengambil cokelat itu dan membawanya masuk ke rumahnya karena sekalian ingin menyediakan Digo air dan cemilan.
“Ini kak diminum dulu,” ucap Amira sambil meletakkan minuman dan cemilan di atas meja.
“Makasih Mi,” jawab Digo dan meminum jus buatan Amira.
Digo menatap Amira. “Kemarin kamu kemana Mi?”
Amira menoleh ke arah Digo. “Kakak tau dari mana aku gak dirumah?"
__ADS_1
“Kakak liat kamu pulang sama Riko,”jawab Digo.
Amira menunduk. Ia bingung harus menjawab apa ke Digo. Apakah ia harus jujur saja jika ia saat ini mengenal wanita yang menjadi masa lalu Digo? Tapi untuk apa?
“Mi?” panggilan Digo menyadarkan Amira.
“Kemarin Kak Riko jemput aku dari rumah Tasya,” jawab Amira terpaksa berbohong.
“Kenapa ga minta jemput kakak Mi?” tanya Digo merasa sedikit kesal karena Amira meminta Riko menjemputnya.
Amira menggeleng cepat. “Aku ga mau ngerepotin kakak.”
“Buat kamu kakak ga pernah ngerasa direpotkan Mi, lebih baik kakak capek nganter kamu kemana-mana daripada harus orang lain. Cukup kemarin di rumah Erwin kakak liat kamu memilih pergi sama Riko,” ucap Digo dengan intonasi yang agak berbeda, seperti orang yang menahan kesal.
"Tunggu, kakak tau aku sama Kak Riko apa artinya kakak ada di rumahku kemarin?" tanya Amira yang baru menyadari perkataan Digo yang ambigu.
"Ya, kakak ke sini kemarin, tapi kakak tungguin kamu ga keluar rumah, rupanya kamu dateng sama Riko," jawab Digo sedikit kesal.
“hmmm.. Tapi kan kita ga ada hubungan apa-apa kak,”ucap Amira merasa bingung dengan situasi ini.
Amira terdiam. Sungguh ia ingin sekali saat ini bersorak sorai karena ungkapan Digo padanya. Namun ia teringat Nisa, perempuan yang saat ini menjadi sahabat barunya. Perempuan yang juga mencintai Digo mungkin lebih besar darinya.
“Aku seperti berada di antara maya dan nyata jika aku berada di dekatmu kak. Kau tak tau kan jika ini menyedihkan?” ucap Amira di dalam hatinya.
Digo memegang tangan Amira. “Apa yang harus kakak lakukan untuk membuat kamu percaya cinta yang kakak punya ini nyata Mi?”
Digo seolah tau apa yang sedang Amira pikirkan saat ini. Sungguh ia ingin sekali meyakinkan gadis itu akan perasaannya.
Tapi bagaimana? Hati Amira seperti dinding berlapis batu yang sulit sekali untuk dilewatinya.
“Mi?” panggil Digo lagi.
“Apakah sebesar itu juga perasaan kakak untuk Dia?”
__ADS_1
“Dia? Dia siapa?” tanya Digo heran.
“Nisa. Apakah kakak ga merindukannya? Kalian begituu dekat, semudah itukah melupakannya?”
“Mi, Nisa cuma masa lalu kakak, ga ada hubungannya dengan ini semua. Kalaupun wajah kalian mirip, tapi kamu itu bukan Nisa. Dan yang kakak cintai itu kamu, bukan Nisa,” Digo berusaha meyakinkan Amira.
“Kak, selama ini aku belajar mencintai lewat luka. Aku sudah cukup lelah menahan luka yang telah digoreskan hampir setiap hari oleh kak Riko. Aku merasa ga mampu jika kakak ikut menambahkan luka di hatiku,” ucap Amira lirih.
“Luka apa Mi? Kakak sayang kamu, kakak ga akan melukai hati kamu, kenapa kamu bisa bilang gitu?”
“Pada kenyataannya luka itu telah menggores hatiku kak,” batin Amira menatap Digo yang saat ini memandangnya sendu.
“Aku bukanlah pemilik mu kak, tapi di luar sana, ada dia yang mencintaimu begitu hebat dengan menahan rindu pada orang yang sama selama bertahun-tahun. Aku tak tahu berapa banyak airmata yang ia habiskan hanya untuk membuatnya bertahan. Aku sungguh tak bisa mengambil satu-satunya penawar rindunya,” ucap Amira dalam hatinya dengan pilu.
Tanpa sengaja airmata mulai jatuh di wajah Amira. Sungguh jika bisa, ia ingin sekali memeluk pria di depannya ini dan mengatakan betapa ia sangat ingin menyambut cintanya, betapa ia saat ini membutuhkannya.
Tapi bayangan Nisa yang menangisi Digo di depannya dan bagaimana lemahnya wanita itu terus saja berputar di pikirannya.
"Mi? Kenapa kamu diam?” tanya Digo yang masih memegang tangan Amira.
Amira menggeleng pelan. “Ibunya Kak Erwin sampai mengira aku adalah Nisa, apakah semirip itu aku dengannya?”
Amira berusaha mengalihkan pembahasan yang saat ini sedang menunggu jawabannya. Karena Amira tak tahu harus menjawab apa.
“Bagaimana jika ia datang kembali ke sisi kakak? Apa kakak yakin ga akan merubah perasaan yang saat ini kakak bilang untukku? Atau kakak akan kembali bersamanya?”
“Jika dia di sini, kakak akan ngomong sama dia kalau kakak udah menemukan orang yang menjadi tempat kakak pulang, yaitu kamu,” Digo mencoba meyakinkan Amira.
“Mi kakak minta maaf untuk kejadian kemarin, tapi sungguh Nisa hanyalah masa lalu untuk kakak. Kalau hati kamu sakit karena itu, bukankah itu artinya kamu juga mencintai kakak?”
"Mi, apa kamu pernah memikirkan hati kakak? Pernahkah kamu berpikir seberapa sakitnya hati kakak setiap kali melihat kamu datang ke Riko?
Atau pernahkah kamu memikirkan bagaimana cara kakak menahan rasa sakit di hati kakak ketika kakak memeluk kamu saat kamu menangisi laki-laki lain?
__ADS_1
Pernahkah kakak mengungkapkan semua rasa sakit itu sama kamu?” ucap Digo dengan sisa-sisa kekuatannya.