
“Aku tidak punya kekasih Mir, sejak hampir 3 tahun yang lalu.”
"Amira tertegun. Apakah itu, ketika dia Bersama Kak Digo?" batinnya terasa sedikit sakit.
Mengapa?” batin Amira
“Dulu aku pernah punya kekasih, dia laki-laki yang baik, kami pacaran sejak kelas 1 SMA. Kebetulan kami belajar di sekolah yang sama, hanya berbeda kelas. Saat itu dia kelas 3 sedangkan Aku kelas 1 SMA.” Nisa mulai bercerita.
“Hubungan kami berjalan dengan baik, dia sangat menyayangiku, hingga ia lulus sekolah pun ia masih sering menemui ku, menjemput ku, mengajak jalan, yah selayaknya orang pacaran. Tapi saat 3 tahun hubungan kami, aku dijodohkan dengan lelaki pilihan ibuku."
Lalu?” tanya Amira
"Aku memutuskan menjalin hubungan dengannya tanpa diketahui kekasihku. Aku pikir ini hanya sebatas menuruti permintaan ibuku saja. Namun siapa sangka laki-laki itu pun jatuh hati padaku. Suatu Ketika aku sedang pergi bersamanya, karena saat itu ibuku menyuruhku untuk pergi bersamanya.
Namun mungkin hari itu adalah takdir yang buruk untukku, kekasihku melihat kami lalu ia mengira aku selingkuh darinya.” Nisa terdiam dan meneteskan air mata.
Amira memberikan tisu yang ia bawa kepada Nisa.
“Kalian salah paham?” tanya Amira dengan hati tak lagi menentu.
“Beberapa hari aku menjelaskan kejadian sebenarnya padanya, namun ia tetap tidak bisa menerimanya. Ia bilang terlanjur terluka. Memang salahku, jika aku menceritakan segalanya di awal pertemuanku itu mungkin dia tak akan semarah ini, setidaknya dia tau yang aku lakukan,” jelas Nisa
“Lalu kalian putus?” tanya Amira.
“Ya, kami akhirnya memutuskan untuk jalan masing-masing, dan aku mencoba membuka hatiku untuk pria ini. Dia pria yang sama baiknya, dan setelah aku lulus kuliah, aku pergi ke luar negeri untuk melanjutkan belajarku, namun baru setahun aku kembali lagi ke sini, ke Indonesia,” ucap Nisa.
“Kenapa?” tanya Amira
“Aku mengambil cuti, aku merindukan Indonesia, dan aku merindukan dia,” jawab Nisa dengan mata menerawang jauh ke depan.
“Dia?” tanya Amira mengernyitkan dahinya.
Nisa menoleh ke arah Amira sebentar, lalu pandangannya menatap ke depan lagi.
“Aku merindukannya, dia yang ku pikir telah jadi masa laluku, namun masih terbalut rapih dalam memoriku, dia bernama Handigo Prasetya,” Ucap Nisa tertahan, lalu meneteskan air matanya.
Amira terkejut, seperti ada kilat yang menyambar hatinya saat itu juga.
“Jadi benar, dia adalah mantan kekasih Kak Digo,” batinnya lirih.
__ADS_1
Tiba-tiba saja rasanya ingin menangis.
Kenapa rasanya sakit ya?” tanya nya pada diri sendiri.
Amira tertunduk, Ia mencoba mengontrol ekspresinya agar Nisa tak tahu bahwa ia mengenal Digo.
Ditatapnya wajah nisa yang sedang menatap kosong ke depan. Terlihat sekali raut wajah penuh penyesalan dan kesedihan yang menyelimutinya.
“Kau masih mencintainya?” tanya Amira hati-hati.
Nisa mengangguk. “Setelah berpisah dengannya aku menyadari, ternyata dialah pemilik tahta tertinggi di hatiku. Semua hal yang aku lakukan bersama kevin, tak bisa mengubah apapun. Hati dan pikiranku selalu kembali kepada Digo. Aku sangat menyesal, melepaskan orang yang memiliki hampir seluruh ku, seluruh jiwaku.”
Mendengar itu Amira hanya terdiam. Ia bahkan tak bisa lagi menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Hatinya seperti ingin meledak. Ia rasanya ingin menemui Digo saat ini juga, tapi untuk apa?
Entahlah yang ia tahu hatinya sakit saat ini, dan ia tak tahu harus marah pada siapa. Namun melihat airmata Nisa, seketika amarah nya hilang berganti dengan iba.
“Nis, lalu laki-laki yang bernama kevin itu-bagaimana?” tanya Amira.
“Dia masih setia menghubungiku, mungkin dalam beberapa waktu dia akan kesini menemui ku. Entahlah, dia masih banyak deadline yang harus dikerjakannya di sana,” jawab Nisa.
“Lalu, jika yang menjadi alasanmu adalah mantan kekasihmu, apakah kamu sudah bertemu dengannya?” tanya Amira dengan hati bergetar. Sepertinya suaranya pun ikut bergetar.
Nisa menggeleng. “Aku tak punya keberanian untuk menemuinya Mir, terakhir aku menghubunginya sewaktu aku berada di Singapura, dia tak membalas pesanku.”
“Kira-kira 2 bulan yang lalu,” jawab Nisa.
Amira berfikir sejenak. Dua bulan yang lalu, apakah saat berada di taman kota?
“Seharusnya aku tidak berharap apapun, tapi rasa rinduku terlalu besar. Aku bahkan sampai ga tau berapa banyak air mata yang aku teteskan untuk menangisi penyesalanku,” ucap nisa sendu dengan airmata yang terus berjatuhan.
“Apakah jika ada kesempatan bertemu dengannya, kamu ingin bertemu?” tanya Amira
Nisa mengangguk. “Tidak ada yang lebih aku inginkan selain bertemu dengannya Mir.”
“Ya Tuhan apa artinya ini? Apakah aku harus terluka sekali lagi?”batin Amira miris.
Tidak kah cukup luka yang ia dapatkan dari cinta Riko selama ini? Mengapa luka itu kembali ditawarkan oleh masa lalu Digo?
Tiba-tiba ponsel Amira berbunyi. Panggilan masuk dari ibunya. Amira mengangkat telpon itu.
__ADS_1
“Halo mah.”
“Kamu dimana mi?”
“Aku sama temenku mah, dia kebetulan di rawat di rumah sakit ini, jadi aku nemenin dia dulu, mama klo mau pulang nggak apa-apa duluan aja ya.”
“Oh gitu, iya mama udah mau pulang ini, ya udah kalo gitu mama pulang duluan ya Mi, kamu jangan kesorean pulangnya ya."
“Iya mah, hati-hati di jalan ya,” ucap Amira mengakhiri telponnya.
Nisa menoleh ke arah Amira. “Mir, kalo kamu mau pulang nggak apa-apa kok, sebentar lagi orang tuaku juga datang,” ucap Nisa merasa tidak enak.
“Nggak apa-apa kok Nis, mama ku juga pasti pulang bareng keluarga yang lain, sempit mobilnya hehe,” jawab Amira berdalih.
“Oh gitu, btw makasi ya Mir kamu udah mau jadi pendengar aku,” ucap Nisa dengan tersenyum.
“sama-sama Nis, aku seneng bisa jadi orang yang kamu percaya,” jawab Amira.
“Mungkin karena awalnya aku menganggap kamu tuh kembaranku kali ya, makanya aku nyaman dan percaya sama kamu untuk cerita ini semua,” ucap Nisa lagi.
Mendengar itu Amira tersenyum. Sungguh ia malu terhadap dirinya sendiri karena sebelumnya sempat menaruh rasa benci kepada gadis baik di sebelahnya, hanya karena ia tak suka wajahnya mirip dengan mantan pacar Digo.
“Aku minta nomor ponsel kamu dong Mir, buat temen chat hehe," ucap Nisa.
“Boleh Nis, sini aku yang save,” sahut Amira.
Nisa memberikan ponselnya kepada Amira. Ketika membuka ponsel tersebut, amira terkejut melihat wallpaper ponsel itu adalah foto Digo bersama Nisa sewaktu memakai pakaian putih abu-abu.
Digo merangkul Nisa dengan penuh cinta, sedangkan Nisa tersenyum bahagia.
Amira memasukkan nomor ponselnya dengan tangan bergetar lalu mengembalikan ponsel itu kembali ke Nisa.
“Terima kasih ya Mir,” ucap Nisa riang.
“Sama-sama,” jawab Amira dengan senyum yang dipaksakan.
Suster yang merawat Nisa sudah datang hendak membawa Nisa ke ruang rawat.
“Mir, aku kembali ke ruang rawat ya, kamu pulang gih, nanti kesorean,” pamit Nisa.
__ADS_1
“Iya aku bentar lagi pulang, kamu cepet sembuh ya,” ucap Amira sambil melambaikan tangannya.
Tak kusangka, aku sudah terlalu akrab dengan Luka,” ucap Amira lirih pada dirinya sendiri.