Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 29 Menyesal


__ADS_3

Setelah kejadian di taman tadi, Amira akhirnya pulang bersama Digo, dan Riko pun pulang besama Desi.


Gagal sudah rencana Riko yang ingin memberikan kejutan untuk Amira, berniat memberi moment romantis, malah menjadi moment kesedihan bagi Amira.


Masihkah Riko begitu egois menahan Amira untuk di sisinya?


Sementara itu, di dalam mobil Digo, Amira terlihat diam saja. Pandangannya tertunduk ke bawah. Sesekali ia menatap keluar jendela berharap kesedihannya hilang.


Sungguh saat ini tidak ada yang Amira inginkan selain pulang.


“Mi, kamu udah makan?” tanya Digo.


Ami menoleh ke arah Digo sekilas lalu kembali menatap ke depan.


” Belum,” jawabnya singkat.


Digo melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, menunjukkan saat ini sudah pukul 16.00 WIB.


"Sudah terlalu sore untuk makan siang, dan Amira belum makan?” pikirnya.


"Kita mampir sebentar ke tempat makan ya Mi,” ucap Digo pada Amira.


Amira menggeleng. ” Aku mau langsung pulang aja kak,” jawabnya.


“Sebentar aja ya Mi, kamu belum makan, dan kakak pun juga belum makan, kita makan sebentar ya? Itu di depan ada warung makan enak, sekalian kita lewat ini,” ajak Digo masih berusaha.


Amira menoleh ke arah Digo. Ditatapnya lelaki bermata coklat berwajah campuran Belanda Indonesia itu.


“Kamu selalu ada saat aku merasa sakit kak, kamu seolah menjadi obat penawar ketika luka ku basah karena Riko, tapi sekarang dengan sikap kamu yang seperti ini apakah aku bisa percaya bahwa yang kau lihat itu adalah aku?” batin Amira.


“Mengapa aku seperti mendapat 2 luka dalam waktu yang bersamaan?” batinnya lagi.


Digo merasa heran saat ditatap intens oleh Amira seperti itu.


“Mi, kenapa liatin kakak begitu?” tanya Digo sambil menyetir dengan sesekali menoleh ke arah Amira.


Amira yang tersadar dari lamunannya pun kembali membetulkan posisinya dan matanya untuk melihat ke depan lagi.


“Mi?” panggil Digo.


Amira menoleh ke arah Digo sebentar, kemudian kembali menatap jalan di depannya.


“Enggak, nggak apa-apa kok kak,” jawabnya.


“Ya udah, ini kita udah sampe, sekarang kita makan dulu ya, baru setelah ini kakak anter kamu pulang,” ajak Digo sambil memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Baru saja Amira ingin menjawab Digo, sudah dipotong oleh ucapan digo lagi.


“Ga ada penolakan, oke?”


Lalu Digo membuka pintu mobil nya,


kemudian berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuk Amira.


Amira tersenyum miris. Baik Digo atau pun Riko sama-sama memaksakan kehendak mereka kepadanya.


Sama-sama mencintai Amira, namun sama-sama tanpa sengaja melukainya.


“Tak bisakah aku memutuskan sesuatu untuk diriku sendiri?” pikir Amira saat berjalan di samping Digo.


Digo memesankan makanan untuk Amira, karena Amira masih terlihat enggan untuk memilih menu.


Dan akhirnya pun mereka makan bersama, mau tak mau Amira harus memakan makanan yang sudah tersaji di depannya.


Sementara itu Riko yang telah tiba di rumah Desi, mengantarkan Desi sampai ke pintu gerbangnya.


“Kamu kok tumben sih bawain aku bunga kaya gini?” tanya Desi.


“Tadi kebetulan lewat aja di toko bunga,” jawab Riko singkat.


"Kamu kenapa bisa tau kalo aku ada di taman itu?” tanya Desi lagi.


“Ah Riko, kenapa kamu malah jawab begitu, itu artinya kamu semakin memberi harapan pada Desi, dasar bodoh,” rutuk Riko dalam hatinya.


“Hmm ya udah, makasih ya Ko, udah kasih aku bunga, kamu mau mampir? Aku buatin teh hijau kesukaan kamu,” ajak Desi.


“Ga usah Des, aku mau langsung pulang aja, udah sore,” jawab Riko sambil tersenyum paksa.


“Ya udah kalo gitu, kamu hati-hati ya pulangnya,” ucap Desi pada akhirnya.


“Oke, pamit ya.” Ucap Riko kemudian berjalan meninggalkan Desi.


Sepanjang perjalanan ke rumah, Riko menyesali yang dilakukannya hari ini. Harusnya tadi dia jujur saja pada Desi dan tidak membiarkan Amira melihatnya terluka sendirian karena melihat ia bersama Desi. Membiarkan Amira dipeluk oleh Digo yang sialnya karena dirinya sendiri.


“Kenapa aku masih ga tega untuk mutusin Desi? Kenapa? Kenapa aku malah membiarkan Amira menanggung luka nya bersama Digo? “ ucap Riko setengah berteriak sambal memukul-mukul stir mobilnya.


“Setelah ini apa yang menjadi keyakinanku bahwa Amira akan memilihku daripada Digo?” batinnya merasa menyesal.


“Kenapa cinta ini rumit sekali, tak bisakah Kau biarkan aku bahagia bersama Amira Tuhan? tak bisakah membiarkan cinta kami bersambut?" lirih Riko.


Digo telah sampai di rumah Amira dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Amira.

__ADS_1


Setelah mematikan mesin mobilnya, Digo memutar badannya agak menyamping, sehingga jadi menghadap ke Amira.


“Kakak udah pernah bilang kan, kalo kakak ga mau liat kamu nangis lagi Mi?” ucap Digo sambil menatap Amira.


Amira hanya diam saat mendengar Digo berkata seperti itu, Ia hanya menundukkan kepala.


“Amira? Liat kakak,” ucap Digo lagi. Masih terus menatap Amira.


“iya kakak pernah bilang kakak akan lindungin aku dari airmata aku dan sekarang kakak udah tepatin janji itu. Kakak ada di samping aku ketika aku terluka dan menangis.” Ucap Amira tiba-tiba, membuat Digo tersentak.


“Tapi…” ucapan Amira terhenti dengan perkataan yang menggantung.


“Tapi apa?” tanya Digo.


“Tapi bisakah kakak melindungi aku dari airmata yang disebabkan oleh kakak sendiri?” tanya Amira kemudian.


Mendapat pertanyaan seperti itu Digo tentu saja bingung. Dia tak pernah merasa menyakiti atau akan menyakiti Amira.


Dia begitu menyayangi Amira, tak mungkin rasanya dia menyakiti gadis yang dicintainya itu.


"Mengapa Amira menanyakan pertanyaan aneh begitu?” pikirnya tak mengerti.


“Maksud kamu?” tanya Digo.


“Gimana kalo nanti yang membuat aku nangis justru kakak sendiri? Apa kakak bisa lindungin aku?” tanya Amira lagi.


“Kakak ga mau nyakitin kamu Mi, kamu berharga untuk kakak, dan ga ada niat sedikitpun terlintas dalam pikiran kakak untuk nyakitin kamu” jawab Digo.


Amira terdiam, mencoba mencerna kata-kata Digo. Tiba-tiba ia ingat perkataan Andi tentang masa lalu Digo.


“Terus sekarang, yang kakak liat saat ini tuh aku atau orang lain?”tanya Amira membuat Digo semakin tak mengerti.


Digo mengernyitkan dahinya mencoba memahami yang Amira katakan.


“Kamu ini kenapa sih Mi? pertanyaan kamu aneh-aneh banget hari ini?”tanya Digo frustasi.


Amira memejamkan matanya sejenak, lalu tanpa sadar airmata nya menetes kembali.


Digo yang melihat itu terkejut dan langsung memeluk Amira.


“Mi, tolong jangan nangis ya, kakak ga mau liat kamu nangis, kakak…” ucapannya terhenti dan mengambil nafas sesaat.


“Kakak sayang sama kamu Mi, kakak akan berusaha untuk selalu menyayangi kamu dan ga nyakitin kamu,”ucap Digo lagi dengan suara yang tertahan.


Mendengar itu Airmata Amira jatuh semakin deras.

__ADS_1


“Kenapa malah sakit ya mendengar Kak Digo mengatakan ini? Sebenarnya kepada siapa kata-kata itu diucapkan?


Apakah untukku? Atau untuk masa lalunya yang berwajah mirip denganku?”batin Amira.


__ADS_2