Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 65 Mencintai


__ADS_3

Setelah malam itu, Nisa mendapatkan nomor Riko melalui Digo. Saat memberikan nomor Riko, terlihat wajah Digo seperti menahan amarah. Nisa yang awalnya sempat bingung dengan ekspresi Digo, memilih tak menghiraukannya karena baginya bisa menemui Amira adalah yang terpenting untuk saat ini.


Nisa mengambil ponselnya lalu mencoba menekan nomor yang diberikan Digo. Panggilan pertama tak diangkat oleh Riko. Ia mencoba untuk menelpon kembali nomor tersebut. Hingga panggilan ketiga baru diangkat oleh Riko.


“Halo, dengan siapa ini?” tanya Riko dari seberang Telpon. Karena merasa nomor asing maka Riko tidak berminat mengangkatnya.


“Halo, benar ini dengan Riko?” tanya Nisa hati-hati.


“Benar, ini dengan siapa saya bicara?” tanya Riko kembali.


“Hai Rik, aku Nisa, teman Mira, maksudku Amira, kamu masih ingat?” tanya Nisa.


Deg. Hati Riko menjadi bergejolak ketika mendengar nama Amira disebut. Pikirannya langsung mengingat kenangan bersama wanita yang dicintainya itu.


“Halo?” suara Nisa memanggil untuk memastikan apakah telpon masih tersambung atau tidak, karena tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.


“Halo?? Benar ini Riko pacarnya Amira kan?” tanya Nisa lagi.


Riko membuyarkan lamunannya. “Eh iya benar, aku masih ingat kamu, maaf tapi ada apa kamu menelponku?”


“Aku ingin bicara mengenai Amira, kita bisa bertemu?” tanya Nisa memastikan.


“Mau ketemu kapan?” tanya Riko lagi.


“Siang ini ya nanti tempatnya aku kirim ke kamu ya Rik,” sahut Nisa dengan nada bicara yang sok dekat.


“Baiklah,” jawab Riko pada akhirnya lalu menutup telponnya.


Riko berpikir sejenak, ada apa dengan Amira? Sejak memutuskan melepaskannya, dia tak pernah lagi bertemu dengan Amira, bahkan telpon atau chat. Kenapa Nisa sampai mencarinya hanya untuk membicarakan Amira?


Ponsel Riko pun berbunyi, menandakan adanya pesan masuk dan saat dibuka chat itu adalah Nisa. Ia mengirimkan lokasi tempat pertemuannya. Riko segera bersiap-siap untuk datang ke lokasi tersebut.


Setelah tiba di lokasi, terlihat Nisa sudah datang. Ia sedang duduk sambil minum jus Sirsak yang dipesannya. Riko pun berjalan menghampirinya.

__ADS_1


“Hai,” sapa Riko ketika telah tiba di dekat Nisa.


“Oh hai Riko, silahkan duduk,” sahut Nisa sambil menunjukkan kursi yang ada di depannya.


Riko pun menarik kursi itu lalu mendudukinya.


“Udah lama?” tanya nya.


“Belum terlalu kok, aku yang terlalu ontime kayaknya hehe,” sahut Nisa lalu tertawa kecil.


Riko pun ikut tertawa kecil mendengar Nisa berkata seperti itu. Kemudian ia menatap Nisa dalam diamnya.


“Dia benar-benar mirip dengan Amira, walau tak sama persis, tapi melihatnya seperti melihat Amira,” batin Riko sambil memperhatikan Nisa.


“Itu aku udah pesenin kamu minum Rik, tapi aku ga tau deh kamu suka apa ga,” ujar Nisa yang seperti sok akrab dengan Riko sambil menunjuk jus Melon yang ada di meja.


“Oh ga apa-apa aku suka hampir semua jus kok Nis,” jawab Riko seadanya, diikuti Nisa yang manggut-manggut.


Nisa menarik nafas sebentar. Lalu memulai ceritanya. “Amira sudah dua minggu ini ga bisa dihubungi Rik, bahkan aku ke rumah nya pun katanya dia lagi pergi.”


Riko terkejut, sudah sebegitu lamanya ia dan Amira berpisah, sehingga tak mengetahui tentang Amira sama sekali.


“Aku ga tau dia kemana, karena si mbak yang ada di rumahnya ga bilang ke aku. Awalnya aku pikir dia cuma pergi dengan orang tuanya untuk berlibur atau ke tempat sanak saudaranya, tapi kenapa ya udah 2 minggu handphone nya ga bisa dihubungi?” ujar Nisa panjang lebar.


Riko terlihat berpikir. Rasanya tak pernah Amira menghilang seperti ini. Kali ini kenapa?


“Kapan terakhir kali kamu bertemu dengannya?” tanya Riko.


“Dua minggu lalu, dia nganterin aku ke wisudanya temen lamaku, kakak tingkat kamu Rik,” jawab Nisa dengan polosnya.


“Maksud kamu? Wisuda Digo?” tanya Riko menegaskan apakah pikirannya benar.


“Iya, wisuda Digo, dia nganter aku untuk ketemu Digo di acara wisudanya, tapi setelah itu aku telpon dia, nomornya udah ga aktif,” jawab Nisa dengan tatapan bingung dan juga sedih.

__ADS_1


Mendengar itu, sepertinya Riko mengerti duduk permasalahannya mengapa Amira seolah menghilang.


“Nis, maaf apakah kamu memiliki hubungan dengan Digo?” tanya Riko sedikit ragu-ragu.


“Aku? Hmmm ga ada, Digo sebenarnya masa lalu ku, lebih tepatnya mantan pacar, kenapa?” tanya Nisa bingung.


“Apakah kamu tahu hubungan Amira dengan Digo?” tanya Riko lagi.


Nisa sedikit terkejut mendengar Riko. “Hubungan? Hubungan apa maksud kamu Rik? Bukannya Mira itu pacar kamu?”


“Sebelumnya kami memang pernah memiliki hubungan, bukan pacaran sih, tapi semacam saling mencintai dan saling memiliki saja, namun itu sudah berakhir,” jawab Riko.


“Iya aku tahu soal itu Rik, Mira pernah menceritakannya padaku ketika kamu dan dia putus. Dan oh ya, aku juga pernah liat kamu pelukan sama perempuan di restoran di jalan Cut Nyak Dien, lalu aku datang menemui Amira dan menceritakannya. Apa karena itu dia pergi?” tanya Nisa masih dengan ketidaktahuannya.


“Pelukan?” ujar Riko sambil mengingat-ingat. “Oh maksud kamu perempuan berhijab? Kami tidak ada hubungan apa-apa lagi, hanya salam teman dan perpisahan.”


“Terus kenapa kamu memutuskan hubungan kamu dengan Mira? Apa kamu ga tau gimana sedihnya dia kehilangan kamu?” tanya Nisa yang mulai kesal.


“Seperti yang aku katakan tadi Nis, aku tak memiliki hubungan resmi semacam itu bersama Amira. Memang aku sangat mencintainya, tapi kita tak ada dalam hubungan itu."


“Terus maksud kamu gimana? Aku bener-bener ga paham,” sahut Nisa yang benar-benar kesal karena sepertinya berbelit sekali.


“Ya, aku memang mencintai Amira, tapi hari itu aku memutuskan untuk melepaskan Amira, bukan karena aku berhenti mencintainya, tapi justru demi kebahagiaannya Nis, karena orang yang dia cintai bukan aku,” jawab Riko.


“Maksud kamu?” tanya Nisa semakin tak mengerti.


“Ya, bukan aku orang yang dia cintai Nis, tapi Digo. Handigo Prasetyo,” jawab Riko dengan tegas membuat Nisa menatap Riko tak percaya.


“Maksud kamu, Mira mencintai Digo? Digo yang selama ini adalah mantan kekasihku?” tanya Nisa sekali lagi untuk memastikan.


“Ya, Amira mencintai Digo Nis, karena itu aku melepaskannya agar dia bisa bahagia dengan pilihannya. Selama dia bersamaku, dia tak pernah aku buat bahagia, aku berharap dengan melepaskannya akan membuat dia bahagia,” jawab Riko menjelaskan.


Nisa yang sangat shock mendengar penjelasan Riko, masih diam mematung tak percaya. Jadi selama ini, ia bercerita kesedihan dan rasa cintanya kepada wanita yang juga mencintai Digo? Mengapa Amira tak pernah memberitahunya? Mengapa Amira justru memelukku dan menyimpan itu untuk dirinya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2