
Nisa saat ini masih dalam perjalanan ke rumah Amira. Sepanjang jalan ia menyalahkan dirinya sendiri dengan kepergian Amira. Kenapa dia tidak bisa merasakan betapa sakitnya Amira. Kenapa dia tak bisa mengerti bahwa airmata Amira yang berkali-kali dilihatnya adalah menangisinya bersama Digo, bukan karena Riko.
“Dasar bodoh kamu Nis, kenapa kamu ga bisa nebak ketika Mira menangis memandang foto kamu bersama Digo?” batin Nisa kesal.
“Mir, harusnya kamu jujur aja sama aku Mir, bukankah kita ini sahabat? Kenapa kamu memutuskan semua ini sendiri? Kamu harusnya bisa diskusikan ini bersamaku Mir,” ucap Nisa sedih.
Tak lama kemudian, Nisa telah tiba di rumah Amira. Ia memencet bel rumah Amira dengan tidak sabaran, berharap bisa menemui Amira saat itu juga.
Tak menunggu lama, terdengar suara kunci pintu dibuka. Terlihatlah wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya.
Wanita paruh baya itu tak lain adalah Ibunya Amira. Sesaat ia merasa sedikit terkejut melihat kemiripan Amira dengan tamu yang saat ini ada di depannya.
“Kamu.. temen Amira?” tanya Bu Rani sambil menatap Nisa.
“Iya tante, saya Nisa, boleh saya bertemu dengan Amira?” tanya Nisa ramah.
“Hmm.. boleh, silahkan masuk dulu nak,” ajak Bu Rani sambil membukakan pagar rumahnya.
“Terima kasih,” jawab Nisa senang sambil melangkahkan kakinya masuk.
Bu Rani sedikit banyak tahu cerita Amira tentang Riko, Digo dan Nisa, juga yang menjadi penyebab Amira memutuskan merantau di luar kota.
“Silahkan duduk Nis, sebentar ya tante mau minta buatkan minum untuk kamu dulu,” ucap Bu Rani lalu berjalan menuju dapur.
Nisa menunggu dalam diam. Ingin sekali rasanya ia langsung masuk saja ke dalam kamar Amira yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berada.
“Amira ada di rumah? Baguslah, aku ingin menanyakan semua ini kepadanya,” batinnya.
Bu Rani telah datang kembali dengan membawa cemilan, dan minuman yang dibawakan oleh si mbak.
__ADS_1
“Tante repot-repot banget,” jawab Nisa merasa tidak enak.
“Nggak apa-apa Nis, dicicipi dulu,” pinta Bu Rani ramah.
Nisa mengambil sedikit kue lalu memakannya kemudian minum teh yag tersedia di meja.
“Tante, Amira nya mana ya?” tanya Nisa dengan mata yang menoleh ke arah kamar Amira.
Bu Rani terdiam sebentar, lalu mengajak Nisa untuk ke kamar Amira. “Masuk ke kamar Amira yuk.”
Nisa pikir Amira ada di dalam kamar sehingga ia mengikuti Bu Rani tanpa banyak bertanya. Ketika sudah ada di dalam kamar Amira, Nisa melihat kamar itu kosong, bahkan bisa dibilang hampir kosong dengan barang-barang yang pernah ia lihat. Nisa memandang kamar Amira dengan bingung, kenapa kamar ini terasa begitu sepi?
“Boleh tante tahu ada apa kamu mencari Amira?” tanya Bu Rani ketika keduanya telah duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur Amira.
“Hmm Amira ga bisa dihubungin tante, sepertinya ada kesalahpahaman yang terjadi diantara kami, aku mau menjelaskan sesuatu padanya dan…ingin menanyakan sesuatu juga tante,” jawab Nisa jujur.
Bu Rani memperhatikan Nisa, terlihat raut wajah penyesalan dan juga kesedihan. Ia tampak ragu, apakah harus memberitahukan tentang Amira kepada Nisa. Ia sudah berjanji pada Amira bahwa ia akan mengizinkan Amira untuk merantau dan tak menceritakan apapun kepada siapapun.
“Tante? Gimana? Aku boleh ketemu Amira? Aku mau ketemu dia tante,” ucap Nisa memohon.
“Sebenernya Amira ga ada di sini,” jawab Bu Rani sedih.
“Maksud tante?” tanya Nisa bingung.
“Amira udah pergi ke luar kota dan berencana pindah kuliah di kota itu,” jawab bu Rani dengan kepala sedikit tertunduk.
“Apa?? Tapi, kenapa tante?” tanya Nisa semakin tak mengerti.
Bu Rani menatap Nisa. “Amira butuh waktu untuk memulihkan kondisi hati dan mentalnya nak, jadi dia minta izin ke kami untuk pindah kota dimana dia tak mengenal siapapun, supaya hatinya bis cepat pulih.”
__ADS_1
“Dia ingin melupakan semua kenangan yang membuatnya sedih selama dia kuliah di sini,” Bu Rani akhirnya menjelaskan kepada Nisa.
Nisa terdiam, melupakan kenangan yang menyakiti Amira, itu artinya ia termasuk di dalamnya. Harusnya ia tak muncul di tengah-tengah hubungan Digo dan Amira, karena pada kenyataannya dia dan Digo juga tak akan pernah bisa kembali bersama.
“Sebenarnya tante dan om juga ga mau kalau Amira sampai pergi seperti ini, tapi menahan dia untuk tetap ada di sini juga ga akan membuat Amira sembuh dari sakitnya, tante takut dia malah sulit berkonsentrasi dengan kuliahnya karena masih berhadapan dengan kenangan-kenangan yang membuatnya sakit, jadi dengan sangat terpaksa om dan tante mengizinkan dia pergi,” Bu Rani menambahkan.
“Dia pergi kemana tante?” tanya Nisa dengan tatapan sendunya, bahkan rasanya airmata nya sudah ga sabar mau menetes.
“Tante udah janji ga akan cerita ke siapapun…” ucapan Bu Rani terhenti karena Nisa sudah memotongnya.
“Tante, semua ini terjadi karena saya, jadi saya mohon izinkan saya yang membantu tante untuk bisa mengembalikan Amira ke sini ya? Saya mohon tante, kalau tante gak mengizinkan, saya akan merasa bersalah seumur hidup saya,” pinta Nisa dengan serius.
Bu Rani terlihat sedikit ragu. Ia menatap Nisa sambil berpikir.
“Tante, saya sama Amira itu sahabat, dan saya gak mau kehilangan sahabat seperti Amira tante, jadi saya mohon jangan pisahin saya sama Amira ya? Yante mau Amira kembali kan? Aku janji akan buat dia kembali tante, tanpa membawa rasa sakit lagi,” ucap Nisa mencoba meyakinkan Bu Rani.
“Baiklah, Tante percaya sama kamu, apa salahnya kita coba,” jawab Bu Rani tersenyum.
“Amira saat ini berada di kota Yogyakarta, dan dia mendaftar di universitas X untuk kuliah barunya,” ucap Bu Rani pada akhirnya.
“Terima kasih informasinya tante, ini udah cukup buat saya,” jawab Nisa senang.
“Oh iya, sama ada satu hal lagi,” ucap Bu Rani kemudian berjalan menuju meja belajar Amira. Ia mengambil buku kecil seperti buku diary lalu membawanya kepada Nisa.
“Tante menemukan ini di laci meja Amira, mungkin kamu perlu tahu tentang ini,” ucap Tante menyerahkan buku itu.
Nisa menatap buku itu sebentar lalu kembali menatap Bu Rani. “Terima kasih tante.”
Bu Rani tersenyum lalu membelai rambut Nisa. “Kamu gadis yang baik Nisa, pantas saja Amira begitu menyayangi kamu, semoga kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan ya nak.”
__ADS_1
Nisa mengangguk dan tersenyum hangat kepada Bu Rani. Lalu ia pun izin pamit pulang karena hari sudah sore.