
Pagi itu Amira sedang bersiap ke kampus, ia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut panjangnya.
Ia melihat dirinya yang memakai setelan kemeja berenda di dada lengan Panjang dipadukan dengan celana jeans. Ia menjepit rambutnya sebelah dengan jepitan Mutiara putih.
Cantik sekali aku hari ini, pikir Amira dalam hati.
Amira sangat senang karena hari ini ia akan menemui kak Riko dengan dalih menemani Tasya.
Tiba-tiba ponsel Amira berbunyi menandakan pesan wa masuk. Ia buka chat itu tertera nomor yang tidak dikenal.
“Hari ini kita kuliah bareng, kakak tunggu kamu di depan pintu fakultas dari sekarang, kita jalan bareng ke kelas. -Digo ganteng- .“ isi chat yang baru saja dibukanya.
Amira melotot kaget melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Semula ia mengira itu Riko namun betapa terkejutnya ternyata yang mengirim adalah Digo.
“Apa-apaan ini? Tau darimana dia nomer gue?” batin Amira penasaran.
“Ah pasti dari Andi dkk, gue lupa kalo mereka deket." Celetuk Amira lagi.
“Terus dia mau apa sih? Ke kelas aja mesti jalan bareng. Mana ditungguin di pintu fakultas lagi, mau lewat mana gue selain lewat situ? Huh,” Amira mendengus kesal.
Sementara dari gerbang fakultas, sepasang mata coklat tersenyum sambil menatap tulisan Amira Dania di ponsel miliknya.
“Kamu harus jalan sama kakak hari ini Ami, biar Riko tau siapa yang lagi ngejar kamu." ucap Digo sinis.
“Riko harusnya tau kalo dia ga akan mungkin dapetin Amira karena gue yang ngejar amira, dia harusnya mundur setelah ini,” Digo berkata pada dirinya sendiri sambil duduk di pinggiran jalan.
Di dalam angkot, Amira merasa bingung sendiri harus gimana. Perasaan yang sedari pagi berbunga-bunga karena memikirkan mau bertemu Riko, kini hilang entah kemana memikirkan dia akan dihadang oleh Digo.
“Apa gue ga usah ngampus aja ya? atau gue datang telat aja?" batin Amira berfikir.
“Tapi masa cuma gara-gara ini gue alpha sih?" lirih Amira.
“Ahh ya udahlah liat nanti aja pusing amat gue pikirin”, batin Amira kesal.
Sesampainya Amira di gerbang Fakultas Amira kaget melihat pemandangan di depannya.
Benar saja Digo masih setia menunggunya, padahal tadi ia sengaja mampir dan duduk di kedai dekat halte untuk sekedar minum teh hangat agar Digo segera pergi dan tidak lagi menunggunya dia sudah menghabiskan waktu 1 jam 30 menit.
__ADS_1
Tapi apa ini, Digo bahkan tidak bergerak dari tempat awal menunggu Amira.
“Dia bener-bener nungguin gue sejam setengah setelah dia wa gue tadi? Apa dia ga ada kerjaan?” gumam Amira takjub dan juga memuji dalam hatinya akan kelakuan Digo yang setia menunggunya.
Namun dia segera menepis kekaguman akan Digo itu.
Digo yang melihat kedatangan Amira segera berjalan menghampiri gadis cantik itu.
“Cantik sekali dia hari ini,” pikir Digo sambil memandangi penampilan Amira.
Amira hanya bisa terdiam melihat Digo yang sedang berjalan menghampirinya.
“Kok chat kakak ga dibalesi?” tanya Digo lembut pada Amira.
“Oh iya kak, tadi aku buru-buru karena mau berangkat ngampus,” jawab Amira berbohong.
Dia memang tak berniat untuk membalas chat kakak tingkatnya itu.
“Ya udah nggak apa-apa, sekarang kan kita udah ketemu, yuk kita jalan sampe depan kelas bareng, kakak udah capek nih nungguin kamu dari tadi,”ajak Digo pada Amira.
Amira dan Digo berjalan beriringan, melewati beberapa Gedung termasuk Gedung laboratorium Kimia Dasar. Tempat dimana para asisten sering berkumpul.
Ya, Digo memang sengaja merancang pertemuan dia dan Amira kali ini agar melewati Lab Kimia Dasar dan kemudian bisa dilihat oleh Riko.
Benar saja, Ketika melewati Gedung lab, Riko sedang duduk Bersama Tofan dan melihat Amira yang sedang berjalan beriringan dengan Digo.
Digo yang menyadari tatapan Riko ke Amira, segera mengajak Amira mengobrol agar pandangan Amira hanya kepadanya, tidak menoleh kemanapun termasuk ke Gedung Lab.
Sehingga Amira tak menyadari kehadiran Riko di depan laboratorium kimia dasar itu.
Riko terus menatap Amira dan Digo sampai mereka menghilang dari pandangannya.
“Hampir ga pernah liat kak Digo jalan bareng perempuan di kampus, kenapa ini dia jalan sama Amira?" pikir Riko bingung.
“Apa kak Digo juga suka sama Amira? Tapi aku ga mau kehilangan perhatian Amira. Aku harus pastiin ini sendiri ke Amira,” batinnya.
“Itu Amira, cewek yang lo certain kemaren kan Rik?"tanya Tofan pada Riko.
__ADS_1
“Kok dia jalan sama kak Digo ya? Apa mereka lagi PDKT?” tanya Tofan lagi.
“Mereka ga PDKT, karena gue ngerasa Amira punya perasaan sama gue fan, tapi apa mungkin kak Digo suka sama Amira juga ya?” sahut Riko.
“Hah?? kalo kak Digo suka sama Amira gitu Lo yakin mau bersaing sama kak Digo Rik?"tanya Tofan tak percaya.
“Mungkin sulit bersaing sama dia, tapi gue ga mau melepas Amira fan, gue udah terlanjur punya perasaan yang udah lama banget ga pernah gue rasain, gue mau dapetin Amira,” jawab Riko mantap.
“hmmm…tapi gimana soal hubungan lo sama Desi? Kalian kan belum putus,” ucap Tofan ragu-ragu.
“Lo tau kan fan Selama 3 tahun ini gue bertahan sama dia hanya karena gue ga tega mutusin dia karena dulu dia pernah alpha 5 hari setelah gue putusin. Apalagi dia sekarang lagi skripsi, bisa-bisa skripsinya hancur kalo gue putusin.” Jawab Riko.
“Gue bertahan dengan status ini walau gue ga ngerasain apa-apa, gelap, ga bahagia, ga jatuh cinta, malah kaya terkurung sendiri dalam lingkaran yang gue buat. Tapi begitu Amira dateng di hidup gue, gue ngerasa hati gue terang dan ada semangat gue untuk aktivitas setiap hari,” jelas Riko pada Tofan.
“Ya tapi lo ga bisa dong pacaran cewek 2 sekaligus, apalagi kalo Amira ga tau lo punya pacar Desi,” Tofan mengingatkan.
“Gue tau, gue emang rencana putusin Desi pas skripsi dia selesai, dan itu bentar lagi. Masalah Amira, gue yang nanti akan cerita sendiri sama dia, untuk sekarang biar begini dulu aja karena gue belum bilang perasaan gue ke Amira,”jawab Riko.
"Gue ngerasa Lo agak egois Rik," ucap Tofan
"Ya memang, perasaan gue yang terlalu menyayangi Amira ngebuat gue jadi egois, gue terlalu menginginkan Amira dalam hidup gue," lirih Riko.
"Tapi Rik, Amira tu ibarat bunga yang lagi mekar mekar nya terus mau Lo petik gitu aja? Sementara di tangan Lo udah ada bunga lain yang harus hidup. Apa Lo tega lakuin itu ke Amira? Biar dia mekar dengan sendirinya Riko," Tofan menasihati sahabatnya itu.
"Gue ga bisa fan, gue ga bisa biarin bunga itu dipetik orang lain, dia terlalu indah untuk menjadi milik orang lain dan gue ga bisa biarin itu," jawab Riko.
"Gue akan jaga dia, gue akan mengobati semua luka nya nanti kalo memang dia terluka karena gue, apapun akan gue lakukan asal bukan ngelepas dia fan," imbuh Riko terdengar lirih.
“Yaa udah deh, gue cuma bisa ngasih saran, lo tau lah gimana baiknya buat lo, tapi gue saranin hati-hati Rik, karena saingan lo itu Kak Digo, bukan sembarangan orang yang bisa lo singkirkan,” Tofan mengingatkan lagi.
“Iya gue paham,” jawab Riko sambil berfikir akan hubungan Digo dan Amira.
Riko benar-benar tak mau melepaskan Amira sekalipun untuk Digo. Karena selama 4 tahun ini dia baru ini merasakan dunianya yang Bahagia, semangat dalam menjalani sesuatu, apalagi jika langkahnya itu bertujuan ke kampus.
yaitu karena sosok Amira.
__ADS_1