Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 34 Nisa


__ADS_3

Hari itu Digo dan teman-temannya sedang main biliar di tempat langganan Digo.


“Gila, lo udah nyolong start aja Win dari gue,” ucap Digo sambil menggilir bola biliar nya.


“Ya gimana lagi, kalo nungguin lo mah kelamaan Go, ntar keburu Lena diambil orang kali,” jawab Erwin dengan memegang stik biliar atau yang biasa disebut Cue.


“Lagian sebenernya lo sama Amira tu gimana sih Go?” tanya Riski bingung.


“Ya gue juga lagi berusaha buat memenangkan hatinya,” jawab Digo.


“Tapi kemarin kata Lena, dia tau loh kalo dia tuh mirip sama mantan lo Go,” ucap Erwin yang tiba-tiba teringat dengan cerita Lena kemarin.


“Oh iya tah?” tanya Digo nampak kaget.


Digo kemudian berhenti bermain. Pikirannya melamun, mengingat hari dimana ia ke rumah Amira saat hujan.


Saat itu Riko bilang jika Amira memiliki ini wajah yang mirip dengan Nisa. Apakah Riko tau dari Amira?


Lalu ia teringat perkataan Amira saat di dalam mobil ketika Digo mengantarnya pulang terakhir kali.


Amira mengatakan apakah yg sedang dilihatnya itu adalah Amira atau orang lain.


Ah benar, ini berhubungan.


Digo tertegun, bagaimana Amira bisa mengetahui itu? Sedangkan ia tak pernah menceritakan tentang masa lalunya.


“Heh, malah bengong,” senggol Erwin.


“Ntar kesambet loh,”imbuhnya.


Digo menoleh ke arah Erwin. "Gue baru inget, waktu gue terakhir ke rumah Amira dan ketemu Riko disana, dia sempet juga ngebahas itu, Amira mirip mantan gue,” jelas Digo.


“Siapa yang ngebahas?”tanya Riski.


“Si Riko, darimana coba dia tau? Apa mungin dia tau dari Amira?” analisis Digo.


“Ya mungkin aja sih,” jawab Riski terlihat berfikir.


“Tapi Amira tau dari mana ya tentang ini?” tanya Digo heran.


“Lena bilang waktu itu Andi sama Irwan yang ngasih tau ke mereka, kayaknya belum lama sih,” jawab Erwin.


“Emang masalah ya kalo Amira tau?” tanya Riski bingung.


“Ya masalah ga masalah sih, namanya cewek, mana ada sih yang mau disamain dengan cewek lain?” jawab Erwin.


“Gue rasa ini juga deh yang jadi salah satu alesan kenapa Amira tu ga bisa berpaling ke lo dari Riko,” ucap Erwin.


Digo dan Riski menatap Erwin tak mengerti.


“Kemarin sih Lena bilang sama gue, Amira tuh jangankan buat ngebuka hatinya untuk elo Go, mau mulai menyukai lo aja dia takut,” jelas Erwin.

__ADS_1


“Mungkin takut sakit hati, atau dia takut lo ga beneran sayang sama dia, atau dia ga percaya sma lo atau dia nganggap lo belum selesai dengan masa lalu lo, semua itu mungkin kan? Kita ga tau apa yang ada dalam hatinya dan apa yang dirasainnya sekarang,” Imbuhnya.


Digo merenung. Haruskah ia paksa mengambil Amira dari genggaman hati Riko dengan caranya? Kenapa semua hal seakan tidak ada jalan? Jika memang itu yang Amira rasakan, bagaimana ia bisa merebut Amira dari genggaman Riko?


*****


Amira sedang pergi bersama ibunya ke Rumah sakit. Siang tadi, Bu Rani di telpon bibinya Amira mengabarkan bahwa anaknya sedang sakit. Katanya terkena sakit demam berdarah.


Karena di ruang rawat begitu ramai yang menjenguk, Amira pun keluar dan bermaksud ingin berjalan-jalan sebentar.


Amira berjalan menuju taman rumah sakit, dimana banyak pengunjung dan juga pasien sedang berjalan-jalan.


Amira duduk di kursi taman sambil melihat pemandangan yang lumayan bagus menurutnya.


Taman itu dihiasi dengan beberapa bunga lili dan juga mawar. Ada juga bunga anggrek putih digantung pada ranting-ranting pohon menambah


keindahannya.


Seketika mata Amira berhenti di satu objek. Seorang pasien wanita sedang duduk di kursi roda, sendirian.


“Nisa,” batin Amira.


Entah kenapa, hanya melihat wajah perempuan itu membuat hati Amira agak sesak. Apakah perempuan itu benar mantan kekasih Kak Digo? Pria yang pernah bilang mencintainya itu?


Amira memberanikan diri beranjak dan mendekati perempuan itu.


“Hai,” sapa Amira.


Gadis itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. “oh hai Amira.”


“Tentu saja, cuma kamu yang memiliki wajah hampir mirip denganku,” jawabnya sambil tersenyum.


“Oh benar juga, itu juga yang membuatku ingat padamu sewaktu aku melihatmu tadi. Kamu sendirian?” Tanya Amira.


“Ya, aku tadi ke sini sama suster, nanti suster akan menjemput ku lagi jika aku ingin kembali ke ruang rawat,” jawab Nisa.


“Boleh aku menemanimu?” tanya Amira.


“Tentu saja mira, justru aku senang ada yang menemaniku,” jawab Nisa jujur.


“Baiklah, kita duduk di sana saja yuk, supaya aku bisa duduk, kalo di sini aku berdiri,” canda Amira kemudian membawa kursi roda Nisa menuju sebuah kursi taman.


“Aku masih heran, kenapa ya wajah kita mirip? Ya walau ga 100% tapi setidaknya kalau orang melihat sekilas, pasti hampir sama,” ucap Nisa membuka obrolan.


Amira tertawa kecil. “Aku juga heran, emmm siapa aku harus memanggilmu? Mba atau.”


“Panggil saja aku Nisa,” jawab Nisa.


“Kalau boleh tau memangnya berapa umurmu?"tanya Amira.


“Umurku 21 tahun, kalau kamu?” tanya nya kembali.

__ADS_1


“Aku 19 tahun,” jawab Amira tersenyum.


“Wah kamu lebih muda dariku ternyata, sayang sekali ya,” jawab Nisa.


“Sayang kenapa?” tanya Amira heran.


“Aku pikir kamu adalah saudara kembarku yang hilang, tapi ternyata umur kita saja berbeda,” jawab Nisa tertawa pelan.


“Memangnya kamu punya saudara kembar yang hilang?” tanya Amira terkejut.


“Ah bukan. Bukan itu maksudku. Aku pikir mungkin aku memiliki saudara kembar, namun hilang terpisah ketika masih bayi,” jawab Nisa menjelaskan.


Amira tertawa. “Pikiranmu kaya sinetron saja Nis,"


“Terkadang sinetron itu dibuat seperti realita kehidupan yang ada. Contohnya seperti cinta segitiga, atau ibu tiri yang jahat, atau tentang fitnah kehidupan.


Seperti kehidupan, kita pun punya skenario kehidupan kita sendiri, dimana kita adalah tokoh utama di dalamnya,” ucap Nisa.


“Benar juga ya,” sahut Amira. manggut-manggut.


“Kenapa tidak ada yang menemanimu di rumah sakit?” tanya Amra .


“Aku tak punya saudara yang dekat denganku, ayah dan ibuku saat ini sedang bekerja, mereka meminta suster untuk menjagaku sampai mereka datang kesini,” Jawab Nisa.


“Kau tak punya kekasih?” tanya Amira lagi.


Sekilas Nisa menoleh ke arah Amira.


“Kamu seperti sedang menginterogasi ku saja Mira,” sahut Nisa tertawa.


“Umm, sorry aku ga bermaksud. Kalau kamu ga mau cerita nggak apa-apa kok Nis,” ucap Amira.


Nisa tersenyum kepada Amira. “Kau mau menjadi teman ceritaku?” tanya nya.


Amira menganggukkan kepala. “Tentu saja, kau bahkan boleh menganggap ku saudara, seperti yang kau bilang tadi, kembaranmu.


Nisa tertawa mendengar itu. “Kau sungguh baik Mira, padahal kita baru kenal, tapi kamu bersedia menemaniku seperti ini, bahkan mau menjadi teman ceritaku,” ucap Nisa.


“Bukankah tugas manusia berbuat baik kepada sesama? Kamu tidak perlu berlebihan Nisa,” sahut Amira.


“Terima kasih ya Mir,” ucap Nisa kemudian.


“Terima kasih untuk apa? Kamu belum menceritakan apa-apa padaku, tapi sudah mengucapkan terima kasih,” jawab Amira


“Oh iya ya, lupa hehehe,” sahut Nisa dan Amira pun tertawa.


Pandangan Nisa Kembali menatap ke depan.


“Aku tidak punya kekasih Mir, sejak hampir 3 tahun tahun yang lalu.”


Amira tertegun.

__ADS_1


Apakah itu, Ketika dia Bersama Kak Digo?" batinnya terasa sedikit sakit.


Mengapa?” batin Amira.


__ADS_2