Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 56 Menangis


__ADS_3

Riko tak kuasa menahan airmata nya, ia pun berbalik dan berjalan kembali meninggalkan tempt dimana ia melihat luka yang nyata.


“Riko.” Terdengar suara yang sangat ia kenal. Riko yang semula berjalan menunduk karena sambil meneteskan airmata, menegakkan kepalanya melihat seseorang yang memanggilnya tadi.


Pandangannya bertemu dengan sosok gadis mungil berhijab yang beberapa hari lalu telah menjadi mantan kekasihnya.


“Desi,” ucap Riko dengan suara yang sangat pelan.


Desi melihat Riko yang tampak sendu pun heran. Terlihat masih tersisa titik air mata di ujung bulu matanya. Desi menoleh ke arah belakang punggung Riko, ingin tahu apa yang menjadi penyebab sebenarnya Riko menangis.


Terlihat Digo dan seorang perempuan, adik tingkatnya yang sedang berdiri berdua di depan papan pengumuman. Apakah ini yang membuat Riko menangis?


Desi kembali menatap Riko.


“Riko, kamu menangis?” tanya Desi masih dengan suara lembutnya.


Riko tak menjawab Desi lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Desi berjalan mendekat lalu memberikan dua lembar tissue untuk Riko.


“Pakai ini,” ucap Desi sambil menyodorkan dua lembar tissue.


Riko mengambil tissue itu lalu menghapus sisa airmata yang tertinggal di bulu matanya tanpa bicara.


Desi pun mengerti bahwa tak ada apa pun yang ingin diceritakan Riko kepadanya. Desi tersenyum lalu pamit kepada Riko karena mau mengurus tanda tangan syarat wisudanya.


Riko mempersilahkan Desi melewatinya. Saat melewati Riko, Desi mengucapkan pesan kepdanya.


“Dengan berpisah dariku, kamu harus bahagia Riko,” ucap Desi lalu pergi meninggalkan Riko.


Amira yang sedang bersama Digo, karena jaraknya tak jauh dari Riko seketika menoleh karena mendengar langkah kaki Desi yang menggunakan sepatu pantofel.


Amira melihat itu tertegun. Ia menatap Riko dengan tatapan sendu. Hingga Desi telah berjalan melewatinya, menatapnya sesaat, lalu melanjutkan perjalanannya.


Riko pun akhirnya berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sekalipun, membuat Amira sedih melihatnya.


Sementara Digo memperhatikan ekspresi Amira. Ada guratan kesedihan dalam pancaran matanya. Namun itu bukan sedih karena sakit atau cemburu, tetapi karena rasa bersalah yang cukup besar.


“Mi?” panggil Digo masih dengan menatap Amira.

__ADS_1


Amira tersadar dari lamunannya kemudian menoleh ke arah Digo. “Iya kak?”


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Digo.


Amira menggeleng cepat. “Aku gak apa-apa,” jawabnya lalu tersenyum.


Digo pun menganggukkan kepalanya lalu menggenggam tangan Amira. “Kakak jadi wisuda bulan depan Mi.”


“Aku tau,” ucap Amira dengan menganggukkan kepalanya.


“Jadilah pendamping wisuda kakak ya," ucap Digo lagi


Amira terdiam. Ia memandang lekat mata coklat lelaki yang dicintainya itu.


Sebenarnya, jika hubungannya dengan Digo normal seperti orang lain, Amira ingin sekali menjadi pendamping wisudanya Digo. Melihatnya memakai toga dengan senyuman kebahagiaan.


Tapi sayangnya saat ini ia dan Digo berada dalam hubungan yang sulit dimengerti. Apalagi dengan kehadiran Nisa, membuat Amira merasa seba salah jika ia yang menjadi pendamping wisuda Digo.


Melihat Amira hanya diam, Digo semakin mengeratkan genggamannya. “Kamu mau kan Amira?”


Digo merasa sangat senang. Senyum di wajahnya langsung mengembang lalu tanpa sadar memeluk Amira.


Amira terperanjat kaget Digo tiba-tiba memeluknya. Seketika rasanya ingin menangis. Pelukan inilah yang dirindukannya selama ini. Rasa nyamannya, rasa hangatnya, dan aroma tubuhnya. Sungguh Amira sangat merindukan pelukan Digo.


Ini adalah pelukan Digo pertama bagi Amira dalam keadaan hatinya yang telah mencintai Digo. Rasanya begitu menenangkan. Tapi mungkin menjadi pelukan terakhir yang dapat ia rasakan. Tak terasa air mata Amira menetes membasahi baju Digo.


Digo yang tersadar karena bajunya basah segera melepas pelukannya.


“Mi, kamu kenapa nangis?” tanya Digo merasa heran. Lalu menghapus sisa-sisa airmata Amira.


Amira menggeleng pelan, lalu melepaskan tangan Digo dari wajahnya. “Aku mau pulang ya kak,” ucap Amira lelah.


“Ya udah kakak anter ya," jawab Digo.


“Nggak usah kak, aku pulang sama temen-temen aku aja,” tolak Amira.


“Kakak anter aja pulangnya," ucap Digo setengah memaksa lalu menggandeng tangan Amira.

__ADS_1


“Kak Digo, tunggu kak,” ucap Amira sambil berusaha melepaskan tangannya.


Digo tak mempedulikan Amira yang terus mencoba melepaskan genggaman tangannya. Ia terus berjalan tanpa menoleh.


“Kak Digo aku gak mau pulang sama kakak," ucap Amira pada akhirnya


Digo berhenti berjalan, melepas cengkraman tangannya pada Amira. Ia membalikkan badannya, lalu menatap Amira dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Kenapa Mi? Kenapa kamu ga mau pulang sama kakak? Apa sebenarnya salah kakak sama kamu?” ucap Digo dengan penuh penekanan. Ia sudah sangat lelah menghadapi sikap Amira yang selalu ingin pergi darinya.


Amira terkejut mendengar Digo mengatakan itu. Terlihat sekali raut kesedihan, kekecewaan, bahkan kemarahan dalam wajah Digo.


Amira terdiam, dalam hatinya ia sudah menangis. Rasanya sedih sekali melihat Digo seperti itu.


“Bilang sama kakak Mi, apa salah kakak? Apa karena Nisa? Karena masa lalu kakak yang kebetulan wajahnya mirip kamu?? Karena itu?” ucap Digo dengan nada yang agak meninggi.


Lalu Digo mengusap kasar wajahnya. “Kamu bisa berikan cinta kamu ke Riko yang jelas-jelas ketika itu dia udah punya pacar, tapi kenapa gak bisa untuk kakak?” suara Digo mulai melemah. Digo terlihat sangat putus asa.


Amira masih tetap pada diamnya. Ia hanya bisa menangis dalam hatinya.


“Kakak capek Mi, setiap hari terus berusaha berpikir gimana caranya untuk menangin hati kamu. Kamu tau? Sejak kenal sama kamu hari-hari kakak berubah jadi perjuangan. Perjuangan untuk dapetin hati kamu. Tapi kenapa yang kamu lihat itu selalu Riko dan Riko?


Kamu pernah gak sih liat kakak Mi, sekali aja? Apa semua yang kakak lakukan ini gak cukup buat kamu paham kalo kakak mencintai kamu? Harus dengan apa lagi kakak meyakinkan kamu kalo perasaan kakak gak main-main?


Digo merasa sangat frustasi saat ini. Sudah bicara panjang lebar, namun Amira masih diam tanpa ekspresi, hanya pandangannya yang menunduk.


“Amira,” panggil Digo merasa gemas dengan Amira.


Amira masih tertunduk tanpa bicara. Digo yang melihat itu mengusap lagi wajahnya dengan kasar.


”Baiklah, mulai sekarang terserah kamu mau dibawa kemana cinta kakak Mi, kakak capek, kakak capek berjuang dan mengejar cinta kamu yang gak ada artinya di mata kamu,” ucap Digo dengan marah lalu pergi meninggalkan Amira.


Amira menatap Digo dengan tatapan sendu. Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah begitu saja.


“Kak Digo, andai kamu tau betapa menangisnya hati aku karena harus menjauhkan diriku dari kamu, padahal aku sebenarnya sangat ingin bersama kamu,” ucap Amira sambil menangis. Lalu ia terduduk dengan tangan terlipat di atas lutut.


"Aku kira ini tidak akan sakit, tapi ternyata rasanya sakit sekali," ucap Amira pelan lalu membenamkan kepalanya diantara tangan dan lutut sambil menangis terisak.

__ADS_1


__ADS_2