Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 58 Wisuda


__ADS_3

Akhirnya hari wisuda Digo pun tiba. Amira menunggu kedatangan Nisa untuk menjemputnya. Setiap malam menjelang hari H Amira tak bisa tidur nyenyak. Seluruh hati dan pikirannya terasa sesak dan sakit. Namun ia berharap setelah hari ini, hari ia melepaskan Digo, ia akan merasa lebih baik.


Amira telah membeli tiket tujuan Jakarta-Yogyakarta untuk keberangkatan hari ini pukul 2 siang hari. Setelah menyerahkan Nisa kepada Digo, Amira bermaksud akan langsung pergi meninggalkan Jakarta. Ia juga sudah menyiapkan berkas untuk mengambil cuti di kampusnya dan dititipkannya kepada Lena.


Diantara teman-temannya, hanya Lena saja yang mengetahui rencananya.


Semua barang-barang Amira telah siap dibawa oleh si mbak ke Stasiun kereta menjelang jam keberangkatan keretanya.


“Mi,” panggil Bu Rani membuyarkan lamunannya. “Kamu yakin mau pergi?”


Amira mengangguk. “Akan semakin sulit melupakan orang jika kita masih ada di sekitarnya kan mah?”


Bu Rani membelai lembut anak semata wayangnya itu. “Hati kamu itu cuma kamu sendiri yang tau nak.”


“Ami udah coba untuk gak mencintai Digo mah, Ami coba untuk menolak kehadirannya, tapi semua itu gagal setiap kali Ami melihat dia. Jika dengan pergi, Ami bisa melupakannya, Ami akan melakukannya mah.” Ucap Amira sedih.


Bu Rani membelai wajah putri kesayangannya itu. “Kamu udah dewasa sayang, kamu tau apa yang terbaik buat kamu. Selama itu bukan hal yang merugikan kamu, mama akan dukung.”


“Makasih ya mah,” jawab Amira sambil memeluk mama nya.


Tak lama kemudian Nisa datang menjemput Amira. Lalu mereka berpamitan dengan orang tuanya Amira untuk berangkat menuju Wisudanya Digo.


“Mir kamu kok tau kalo Digo wisuda hari ini?” tanya Nisa ketika mereka sudah ada di dalam mobil Nisa.


“Iya, kan dia kakak tingkatnya Kak Riko, waktu aku ketemu Kak Riko di kampus, aku liat Digo. Dan aku langsung inget foto di kamar kamu," jawab Amira berbohong.


Entah sejak kapan ia mengarang cerita seperti itu, tapi terdengar seperti bukan sebuah kebohongan.


Nisa yang mendengarkan penjelasan Amira itu pun manggut-manggut saja.


“Tapi kamu temenin aku ketemu dia kan Mir?” tanya Nisa yang mendadak cemas.


”Aku temenin kamu sampe ketemu dia Nis, selebihnya aku gak bisa temenin kamu, ya masa aku jadi obat nyamuk hehehe,” canda Amira.


“Obat nyamuk apaan coba, mana mungkin lah aku sama Digo kan bukan pacaran Mir, aku cuma pengen ketemu aja kok,” jawab Nisa sambil tertawa.


“Ya tetap aja, masa aku mau ganggu kamu yang lagi kangen-kangenan sama Digo Nis,” goda Amira lagi.


“Ih ya nggak lah, kan karena kamu aku bisa ketemu Digo,” sahut Nisa dan dibalas senyuman oleh Amira.


“Setelah ketemu apa yang mau kalian lakukan?” tanya Amira lagi.

__ADS_1


Nisa terlihat berpikir. “Ya kita bisa berteman dulu Mir, kalau memang jodoh ya kita gak tau kan? Tapi paling gak hubungan kami gak kaya gini, kaya orang musuhan saja.”


Amira tertawa kecil. “Semoga kamu bisa kembali bersama orang yang kamu cintai dan juga mencintai kamu ya Nis," ucap Amira tulus dalam hatinya.


“Kamu juga ya Mir, semoga bisa segera kembali dengan laki-laki yang kamu mau ya," sahut Nisa.


Tanpa terasa mereka telah tiba di tujuan utama, yaitu gedung GSG Universitasnya, tempat wisuda Digo. Terlihat begitu banyak orang yang sedang berfoto di stand foto buatan bersama dengan keluarga atau pasangannya.


Amira memperhatikan tempat itu, pikirannya kembali kepada Digo. Alangkah indahnya jika ia yang berfoto bersama Digo pada acara wisudanya.


“Ah sudahlah Amira, jangan menangis…. kamu ga boleh membayangkan apapun karena akan semakin sulit untuk melupakannya,” ucap Amira dalam hatinya.


Amira mengantar Nisa ke pintu tempat wisudawan fakultasnya duduk. Setelah acara pemindahan tali toga selesai, mereka nantinya akan keluar melalui pintu itu.


“Nis, aku nganter kamu sampe sini aja ya, nanti Digo keluar melalui pintu ini kok,” ucap Nisa ketika telah tiba di depan pintu.


“Yah, kamu gak nungguin?” tanya Nisa sambil memegang tangan Amira. Tangan Nisa terasa dingin, mungkin karena terlalu nervous.


“Aku ga bisa nungguin kamu Nis, udah gih touch up, sebentar lagi mereka selesai,” ucap Amira memberi semangat lalu melepaskan tangan Nisa.


Amira memeluk Nisa. “Semoga kamu selalu bahagia ya Nis.”


Nisa merasa heran dengan perkataan Amira. Namun ia pikir itu karena Amira ingin pergi dari tempat itu. “Makasih ya Mir.”


Tak lama setelah kepergian Amira, Digo keluar dari ruangan Gedung itu. Ia pun terkejut melihat ada seseorang yang menunggunya.


“Ami….” ucap Digo tertahan. Ia sadar itu bukan Amira, tapi seseorang yang mirip dengannya.


“Nisa?” ucap Digo sambil menatap wanita yang saat ini ada di depannya.


Nisa terdiam menatap Digo dengan airmata tertahan. Perlahan mereka pun melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka.


“Happy Graduation Go,” ucap Nisa ketika sudah berada di dekat Digo. Lalu ia menyerahkan bucket bunga yang dibawanya kepada Digo.


Digo menerima bunga dari Nisa dengan hati bingung. Bagaimana bisa Nisa tahu bahwa ia berkuliah di sini dan hari wisudanya?


Ayah dan ibu Digo yang memang sudah kenal dengan Nisa terlihat menyambut kedatangan Nisa.


“Yuk kita foto dulu di sana Nis buat kenang-kenangan Digo wisuda," ajak Ibu Digo sambil menunjuk salah satu stand foto wisuda yang tersedia di sana.


Nisa menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Ia melihat ke arah Digo lalu mengajak Digo yang terlihat masih bingung.

__ADS_1


Akhirnya mereka berempat foto di salah satu stand foto yang telah tersedia dengan wajah ceria.


Sementara Amira yang melihat itu dari kejauhan, di balik pohon besar yang menutupi sebagian tubuhnya terlihat sendu.


“Kak Digo..


Ketika aku telah berani untuk melepaskan mu,


percayalah.. aku telah bertarung hebat dengan hatiku.


Aku juga telah menghabiskan energi untuk menangisi mu


Menangisi keputusanku yang mungkin akan menjadi penyesalanku di sisa hidupku


Selama berhari-hari aku mencoba berteman dengan ikhlas kak


Dan ya, ternyata ikhlas itu tak semudah kata-kata


Ada banyak luka dan rasa sakit di dalamnya.


Tapi tidak apa-apa, sungguh aku tidak apa-apa kak.


Aku akan menjalani itu dengan sisa kekuatan yang aku miliki


Kamu berhak bahagia, bersama cinta yang bisa memahami kamu melebihi aku


Jadi, aku mohon berjanjilah untuk bahagia setelah ini


Jangan menangisi kepergianku,


Jangan buat ikhlas yang sedang aku usahakan menjadi sia-sia.


Terima kasih telah menjadikan aku semestamu dalam sisa waktu ini


Dari luasnya dunia ini, aku beruntung bertemu dengan kamu


Maaf untuk luka yang pernah aku tinggalkan,


aku berharap jejak luka itu bisa menghilang seiring dengan kepergianku


Aku mencintaimu kak, walau hanya aku dan Tuhanku yang tau."

__ADS_1


Amira mengatakan itu dalam hatinya, dengan airmata yang berlinang. Kemudian ia mulai meninggalkan tempat itu. Membawa rasa sakit dan kenangannya pergi bersamanya.


__ADS_2