Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 52 Menebus


__ADS_3

Nisa telah sampai di rumah Amira. Amira yang memang sedang menunggu kedatangan Nisa melihat keluar jendela kamarnya, begitu mendengar ada suara mobil datang.


Amira pun bergegas untuk membukakan pintu ruang tamunya.


“Halo Mir," sapa Nisa begitu Amira membukakan pintunya. Lalu Nisa memeluk Amira .


“Hai Nis, akhirnya kamu sampai juga ke rumahku,” ucap Amira kemudian melepaskan pelukannya.


Keduanya pun tersenyum lalu Amira mempersilahkan Nisa masuk.


“Kamu mau di ruang tamu atau di kamar aku?” Amira menawarkan.


“Terserah kamu aja, di ruang tamu boleh, di kamar kamu juga boleh,” jawab Nisa lalu duduk di kursi ruang tamu yang berada di dekatnya.


“Ya udah, di ruang tamu aja dulu ya, kalo nanti mau tiduran bisa di kamar aku," ucap Amira.


“Aku nyiapin minum dulu buat kamu ya sama bawain cemilan,” ujarnya lagi lalu berjalan ke dapur.


Tak lama Amira datang membawa nampan berisi minuman dan juga beberapa biskuit untuk mereka habiskan bersama.


“Ya ampun repot-repot Mir,” ucap Nisa ketika melihat Amira menyusun minuman dan makanan di meja.


“Apaan sih Nis, gak repot kok orang ada di belakang tinggal ambil aja,” jawab Amira lalu duduk dan meletakkan nampan yang ia bawa tadi di sebelah kursinya. Malas membawa lagi ke dapur.


“Aku minum ya,” ucap Nisa sambil mengambil minuman yang tadi dibawa Amira.


“Iya Nis,” jawaban Amira dengan menganggukkan kepalanya.


Saat minum Nisa memikirkan bagaimana menyampaikan yang dilihatnya tadi tentang Riko kepada Amira. Ia takut Amira akan terluka karena berita ini, tapi kalau tidak dibicarakan padanya ia takut Amira akan sakit hati menjalin hubungan dengan Riko.


Amira yang melihat wajah Nisa seperti orang yang sedang bingung pun berpikir daa apa dengan Nisa? Apakah masih seputar Digo?


“Kamu kenapa Nis?” tanya Amira masih memperhatikan wajah bingungnya Nisa.


“Eh aku? Aku kenapa? Aku ga apa-apa kok Mir, kenapa nanya gitu?” tanya Nisa gelagapan.


“Kamu aneh aja, kaya orang bingung dari tadi, ada apa sih?” tanya Amira masih dengan rasa penasarannya.


“Hmmm sebenarnya tadi aku ke restoran di persimpangan jalan Cut Nyk Dien, terus aku ketemu sama pacar kamu,” ucap Nisa dengan ragu-ragu.


Amira mengernyitkan dahinya. “Pacar?”

__ADS_1


Nisa mengangguk. “Yang kemarin jemput kamu ke rumah aku.”


Astaga. Amira sampai lupa, saat itu ia mengarang cerita untuk mengalihkan perhatian Nisa dari dirinya yang ketahuan memandang foto Digo.


“Oh Riko maksudnya?” tanya Amira memastikan.


“Nah iya, Riko ya namanya? Iya tadi aku ketemu sama Riko di restoran itu,” jawab Nisa.


“Oke, terus?” tanya Amira masih heran dengan yang mau disampaikan oleh Nisa.


“Emmm…” Nisa terlihat ragu-ragu mengatakannya.


"Aku tadi liat dia pelukan sama perempuan," jawab Nisa menatap Amira, takut kalau tiba-tiba Amira merasa sedih.


Amira terlihat berpikir. Ia mengingat kata-kata Riko saat terakhir bertemu dengannya.


“Apa mbak Desi? Apa akhirnya dia kembali sama Desi? Atau jadi memutuskan hubungannya? Kalau dipikir-pikir harusnya hari ini sih,” batin Amira dalam hatinya.


Melihat Amira yang termenung sendiri, Nisa mengira Amira sedang bersedih dan terpukul.


“Mir? Kamu ga apa-apa?” tanya Nisa sambil memegang tangan Amira.


Amira yang melihat itu segera tersadar dari lamunannya.


“Kamu sedih ya?” tanya Nisa lagi.


Amira tersenyum. “Enggak, cuma kaget aja, tapi aku ga apa-apa kok.”


“Kamu ga sakit hati atau sedih Mir?” tanya Nisa heran hampir tak percaya. Bisa-bisanya ada perempuan yang tau pacarnya berpelukan dengan orang lain tidak meras sedih sedikit pun.


“Bener aku ga apa-apa, aku udah putus sama Kak Riko Nis, jadi aku ga apa-apa sekarang," jelas Amira tersenyum sambil menyentuh tangan Nisa yang masih memegangnya.


“Kapan putusnya?” tanya Nisa kaget.


“Kemarin, hmm.. tepatnya dua hari yang lalu,” jawab Amira yang terlihat sambil mengingat-ingat.


“Kamu beneran ga apa-apa, atau senyuman ini senyum palsu kamu Mir?” tanya Nisa dalam hatinya.


Nisa berdiri kemudian memeluk Amira. “Mir, selama ini kamu selalu dengerin aku cerita, kamu selalu ada kalo aku lagi butuh tempat untuk bersandar dari kisah cintaku yang menyedihkan.”


“Kenapa kamu gak cerita sma aku kalo hubungan kamu dengan Riko udah berakhir? Aku juga ingin berguna untuk kamu Mira," ucap Nisa masih dengan memeluk Amira.

__ADS_1


Amira terdiam lalu membalas pelukan Nisa.


”Hatimu begitu lembut Nisa, kamu seharusnya bisa bahagia," ucap Amira dalam hatinya


“Aku gak apa-apa Nis, kamu jangan berlebihan ah,” ucap Amira.


“Gak apa-apa gimana? Jelas-jelas kemarin kamu nangis di rumah aku karena dia kan Mir? kamu mencintai dia kan?” tanya Nisa masih memeluk Amira.


Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulut Amira.


“Aku bukan menangisi Riko Nisa, tapi aku menangisi perasaan cintaku pada Digo, orang yang kamu cintai,” ucapnya dalam hati dengan tatapan kosong.


Nisa melepaskan pelukannya lalu membelai punggung tangan Amira. “Mir?”


Amira menoleh ke arah Nisa lalu tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihannya karena teringat Digo.


“Terkadang kita ga bisa memaksakan suatu hubungan untuk terus berjalan, jika gak ada cinta di dalamnya Nis, dan aku udah ikhlas,” ucap Amira.


“Dan seperti yang kamu liat, aku baik-baik aja sekarang,” ujarnya lagi sambil menunjukkan dirinya bahwa ia benar baik-baik saja.


“Sekarang yang harusnya kita bahas itu kamu Nisa, tentang perasaan kamu yang tak bertuan itu.”


Nisa terdiam, lalu menundukkan kepalanya. Ditatapnya kedua kakinya dengan tatapan menerawang.


“Ceritaku masih ga berubah Mir, masih begini aja,” jawab Nisa.


Lalu ia menegakan kepalanya kembali dan menatap Amira.


“Masih dengan kisah masa lalu yang cinta sendirian,” ucapnya sambil tersenyum.


Amira menatapnya dengan sedih. Sedih karena wanita di depannya ini memiliki luka hati yang selalu dibawanya. Juga sedih dengan dirinya sendiri yang mencintai seseorang namun lagi-lagi tak bisa ia miliki.


“Kamu terlihat sangat mencintainya Nis, tahun-tahun yang kamu lalui selama ini pasti sangat sulit ya?” tanya Amira dengan tatapan sendunya.


Nisa hanya menganggukkan kepalnya lau tersenyum getir.


“Dia mungkin hanya menganggap aku masa lalunya Mir, tapi aku ingin bertemu dengannya sekali saja, untuk menebus rinduku selama ini yang tak terbayar.”


“Apa kamu pernah pergi untuk bertemu dengannya? Kamu tau kan dimana rumahnya?” tanya Amira.


Nisa menggeleng. “Aku hanya pernah mengunjunginya sekali, itu pun hanya melihatnya dari jauh. Kalau untuk mengunjunginya langsung atau bertemu dengannya sendiri, aku belum berani Mir. Aku pernah menjadi luka untuknya, rasanya aku malu jika tiba-tiba aku hadir di hadapannya membawa rinduku yang mungkin tak penting baginya.”

__ADS_1


“Aku akan menebus tahun-tahun mu yang penuh airmata itu Nis, dengan menghadirkan Digo padamu. Ketika saatnya tiba dan waktunya sudah pas untuk mempertemukan kalian, aku berjanji akan membawamu kepadanya,” ucap Amira dalam hatinya dengan hati pilu.


__ADS_2