Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 39 Dia Baik


__ADS_3

Sementara itu, Erwin yang sedari tadi dalam perjalanan ke rumah Digo, kini sudah tiba. Namun ia kaget melihat ada seorang perempuan yang tengah berdiri di depan rumah sahabatnya itu.


Ia menghentikan motornya untuk memperhatikan gadis itu sebentar.


“Amira,” batinnya heran. “Ngapain Amira ada di- ah tidak. Itu bukan Amira. Apakah itu Nisa?” batin Erwin tak percaya.


Kemudian Erwin buru-buru memarkirkan motornya tak jauh dari sana, lalu berjalan mendekati gadis itu. Ia ingin memastikan bahwa itu benar Nisa.


Menyadari adanya kehadiran orang lain yang mulai mengarah kepadanya membuat Nisa menoleh. Terlihat saat ini Erwin yang telah ada di dekatnya. Lalu ia memalingkan badannya hingga berdiri menghadap Erwin.


“Nisa?” tanya Erwin dengan mengernyitkan dahinya.


Nisa tersenyum. “Hai, masih inget aja sama gue Win.”


Erwin tertegun. Nisa ada di sini? Bagaimana bisa? Sejak kapan?


“Lama ga ketemu Win, lo jadi makin cakep aja,” goda Nisa dengan senyum jahilnya.


Masih sama seperti dulu, nisa yang suka jahil dan selalu ceria.


"Tapi kenapa ada kesenduan dalam wajahnya saat ini?” pikir Erwin sambil memperhatikan wajah Nisa.


“Bisa aja lo Nis,” sahut Erwin sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


“Bukannya lo ada di Singapura? Kok bisa di sini?” taya Erwin heran.


“Gue baru balik ke Indonesia, sekitar 5 bulan yang lalu,” jawabnya.


“Dan.. sejak kapan lo berdiri di rumah Digo?” tanya Erwin ragu-ragu.


Nisa hanya tersenyum lalu pandangannya dialihkan kembali ke jendela kamar Digo.


“Digo lagi ada masalah ya Win? Gue liat kok dia kaya lagi nangis ya,” ucap Nisa sambil menatap jendela kamar Digo, tanpa menjawab pertanyaan Erwin.


Erwin mengikuti arah pandang Nisa, terlihat Digo yang masih duduk di dekat jendela. Erwin yang mengerti alasan Digo seperti itu pun hanya terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa kepada Nisa.


“Tiga tahun gue sama dia, gue ga pernah ngeliat dia nangisin orang Win,” ucap Nisa lalu menoleh ke Erwin.


“Hmm iya kayaknya Digo lagi punya masalah deh Nis, ini makanya gue ke rumahnya siapa tau dia mau cerita sama gue,”jawab Erwin mencari alasan.


Erwin merasa tak punya hak untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada Nisa. Jika Nisa harus mengetahui itu, maka Digo lah yang seharusnya menceritakan itu kepadanya.


“Lo ga masuk aja? Kan udah lama kalian ga ketemu,” tanya Erwin kepada Nisa bermaksud mengajaknya bertemu Digo.


Nisa menggeleng sambil tersenyum. “Gue tadi cuma kebetulan lewat sini aja Win, jadi gue mampir. Tapi gue ga masuk ya, soalnya ini gue buru-buru mau pergi,” ucap Nisa sambil berpamitan kepada Erwin.

__ADS_1


“Lo yakin?” tanya Erwin lagi sekedar memastikan.


“Iya win, gue ada perlu ke tempat lain, jadi gue duluan ya,” sahut Nisa lalu benar-benar pergi dari hadapan Erwin.


“Salam untuk Digo ya,”ucapnya menoleh sebentar ke arah Erwin lalu melanjutkan jalannya lagi.


“Oke Nis, lo hati-hati ya,” jawab Erwin. Kemudian berjalan menghampiri motornya yang terparkir untuk melanjutkan ke rumah Digo.


Nisa masuk ke mobilnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sepanjang jalan ia memikirkan mengapa Digo yang ia kenal cool dan berkuasa, saat ini terlihat rapuh seperti itu.


Tiba-tiba dia teringat akan Amira, gadis berwajah mirip dengannya yang saat ini menjadi sahabat berbagi cerita. Hanya bersama Amira Nisa bisa menceritakan tentang Digo.


Amira mengambil ponsel lalu mencari nomor telpon Amira.


“Halo” sapa suara di telpon.


“Halo Mir, kamu dimana?” tanya Nisa antusias.


“Aku lagi ada di rumah nis, kenapa?” jawab Amira bertanya balik.


“Aku lagi di luar dan berniat ke rumah kamu Mir, tapi aku belum pernah ke sana,” ucap Nisa.


“Oh gitu, eh tunggu suara kamu kok beda ya?” tanya Nisa menyadari ada sesuatu yang berbeda.


“Beda gimana?”tanya Amira.


“Suara kamu terdengar serak Mir, kaya orang habis nangis, kamu habis nangis ya?” tanya Nisa curiga.


“Enggak kok Nis, aku ga habis nangis, aku cuma lagi flu aja nih,” jawab Amira berbohong.


“Oh gitu ya udah, aku kira kamu kenapa-kenapa,” jawab Nisa merasa lega.


“Enggak kok,” jawa Amira sambil tersenyum.


“Gimana, kamu jadi ke rumah ku?” tanya Amira mengingatkan Nisa.


“Lain kali aja deh Mir, ga enak sama temen-temen kamu, aku langsung pulang aja,” jawab Nisa.


“oh ya udah, nanti aku aja yang tempat kamu Nis, aku memang berencana mau ke tempat kamu, sekalian jenguk keadaan kamu pasca keluar dari rumah sakit. Cuma memang belum sempet aja,” jawab Amira


"Oke Mir setelah ini aku kirim alamat rumahku ya, kamu juga jangan lupa kirim alamat rumahmu, supaya lain kali aku bisa mampir ke rumah kamu,” sahut Nisa tersenyum senang.


“Oke, Nis, sampe ketemu ya,” jawab Amira

__ADS_1


“Oke Mir,” ucap Nisa kemudian menutup sambungan telponnya.


Amira dan Nisa segera bertukar alamat sesaat setelah telponnya ditutup.


“Sayang sekali ya ga jadi bertemu Mira, padahal ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padanya. Aku senang sekali mendapat teman sebaik dia,” ucap Nisa di dalam hatinya.


“Siapa Mi? Kok gue denger lo manggil dia Nis, kaya nama Nisa aja,” tanya Lena.


“Iya dia memang Nisa,” jawab Amira.


sambil menghapus sisa airmata nya.


“Nisa temen lama lo?” tanya Ajeng penasaran.


“Bukan, itu Nisa mantannya Kak Digo,” jawab Amira.


“Hah ?? Lo kenal?”tanya Lena tak percaya bahkan sampai membuka mulutnya.


“Iya, belum lama ini, gue ketemu dia di rumah sakit, dan waktu itu kita ngobrol banyak,” jawab Amira.


“Terus?” Tasya sepertinya sangat tertarik mendengar kelanjutannya.


“Ya udah dia mulai cerita tentang masa lalunya, tentang dia sama Kak Digo."


“Jadi dari kemarin tuh lo udah tau dia Mi? Ya ampun kuat banget ya lo,” ucap Lena sedih melihat sahabatnya itu.


Amira tersenyum kecil. “Itulah kenapa hati gue sakit Len, gue pengen benci aja sama Nisa tapi gue ga bisa, dia orang baik,” jawan Amira tertunduk pilu.


Sementara itu, Erwin yang telah tiba di rumah Digo segera menghampirinya di dalam kamar.


“Ya ampun Go, kamar lo lagi kebakaran apa gimana sih ini banyak asep gini,”celetuk Erwin sambil mengibas-ngibaskan tangannya ketika masuk ke kamar Digo.


Digo tak menanggapi Erwin. Dia terus merokok di sudut ruangan.


“Heh lo ngapa sih Go?” tanya Erwin duduk di depan Digo.


“Gue lagi nenangin diri,” jawab Digo sambil menghisap rokoknya.


“Karena Amira?” tanya Erwin dan hanya dibalas anggukan oleh Digo.


“Lo mencintai Amira? Maksud gue, kalo wajahnya ga kaya Nisa apa lo akan mencintai dia?” tanya Erwin hati-hati.


“Gue mencintai Amira Dania Win, bukan karena dia mirip Nisa, tapi karena dia Amira. Karena dia ga ada dalam diri siapapun.” sahut Digo sambil menoleh kesal ke Erwin.


“Gue cuma mau mastiin aja, kalo seandainya Nisa balik lagi apa lo akan bimbang memilih?”Tanya Erwin sambil menatap Digo.

__ADS_1


__ADS_2