
“Ami, kenapa kamu..” belum selesai kalimat itu keluar dari mulut Riko, sudah dipotong oleh Amira.
“Kenapa kakak ga bilang kalo kakak di sini?” Tanya Amira dengan suara setengah berteriak.
Diam.. Riko tak menjawab pertanyaan Amira. Ia hanya menatap mata sendu Amira.
“Kenapa kakak diam?” tanya Amira lagi.
“Kenapa kakak…..”ucap Amira terpotong karena tiba-tiba Riko sudah memeluknya.
Di bawah payung pada deraian air hujan kedua insan yang sedang tersiksa batin itu melepaskan kerinduan yang tertahan dalam hati mereka.
Kerinduan yang tak bisa diperlihatkan bahkan kepada dia yang menjadi pemilik rindu.
Ah mengapa begitu rumitnya dunia ini hanya karena sebuah rasa yang bernama cinta?
Amira bergerak, ingin melepaskan pelukan Riko, namun ditahan oleh Riko.
“Tolong biarkan tetap seperti ini Amira, hanya sebentar saja, kakak mohon,” ucap Riko dengan suara tertahan.
Amira terdiam, perlahan dia melepaskan tangannya dan pasrah untuk menerima pelukan Riko.
“Sejak kapan kakak di sini?” tanya Amira dengan suara pelan, hampir tak terdengar.
“Sejak kakak nelpon kamu, bahkan sebelum itu,” jawab Riko.
“Kenapa?” tanya Amira lagi dengan suara yang semakin tak terdengar.
Riko diam, hanya pelukannya yang ia eratkan kepada gadis yang dicintainya itu.
“Kakak ga tau Mi, kakak merasa hati kakak sakit dan ga tau harus melakukan apa.
Sepanjang hari sejak acara temu sambut itu, hati kakak tak menentu.
Kakak mau ketemu kamu, tapi kakak ga mau nyakitin kamu lebih dalam lagi.
Kakak berusaha untuk ga inget kamu, tapi semakin kakak coba, kakak malah tenggelam dalam bayangan kamu Mi.
Tolong bilang ke kakak, kakak harus apa? Ini menyakitkan Mi, kakak hilang arah,” ucap Riko panjang lebar.
Amira yang mendengarkan itu, seketika meneteskan airmata nya.
“Bagaimana aku bisa menjawab kamu kak, kalau aku sendiri pun harus berperang dengan diriku habis-habisan untuk ga memikirkan tentang kamu?”batin Amira.
__ADS_1
“Apa kakak tau, gimana cara aku menata hati aku setiap kali aku melihat kakak bersama Desi saat di acara temu sambut, tapi harus tetap terlihat baik-baik saja?
Kakak ga tau kan betapa sulitnya aku melalui hari itu?” ucap Amira pada akhirnya.
Pertahanan yang ia bangun dari sebelum bertemu Riko runtuh sudah, ia akhirnya mengungkapkan segala yang ia rasakan.
“Kak Riko bilang, jangan pergi dari sisi kakak, tapi kakak tetap menggenggam tangannya di depanku, tetap namanya yang terucap di seluruh sudut dunia ini kak sebagai pemilik kakak dan bukan aku.
Lalu apa hak aku, ketika aku merasa ini menyakitkan? Apa aku berhak melepaskan genggaman tangan yang telah terpaut begitu lama?” jawab Amira sendu.
“Kakak mencintai kamu Mi, maaf,” ucap Riko sambil melepaskan pelukannya.
“Maafin kakak Amira, maafin keegoisan kakak,” ucap Riko sambil mengusap lembut pipi Amira.
“Kakak ga pernah bermaksud menyakiti kamu, kakak sayang sama kamu, tapi kakak ga pernah sadar jika rasa ini justru menyakiti kamu.
Kakak ga bisa memilih cinta Mi, jika bisa memilih, kakak tentu lebih memilih jatuh cinta pada Desi agar semuanya lebih mudah.
Tapi kenyataannya, cinta itu memilih kamu,” jawab Riko.
“Aku pun begitu kak, akan lebih mudah jika orang yang ku cintai bukan kamu,” jawab Amira dalam hatinya.
“Amira, bisakah kamu menunggu kakak sampai masalah kakak dengan Desi selesai?” tanya Riko.
Sejauh apapun kamu mencoba ingin lepas dari cintaku, kakak akan terus datang lagi dalam hidup kamu sampai kapanpun, kecuali..” Riko tak meneruskan perkataannya.
“Kecuali apa?” tanya Amira.
“Kecuali kamu bilang kamu mencintai orang lain,” jawab Riko.
“Ketika di hati kamu sudah ga ada lagi aku, Riko Anggara,” imbuhnya.
Amira diam tak menjawab perkataan Riko.
“Tapi selama itu belum terjadi, jangan paksa kakak untuk berhenti mencintai kamu,”Riko melanjutkan ucapannya dengan yakin.
“Lalu bagaimana dengan aku? Aku harus menumbuhkan harapan, atau aku harus membuangnya?
Jika aku memupuk harapan itu hingga menjadi hidup apakah kelak aku tak akan terluka? Tapi jika aku membuangnya sekarang, bagaimana caraku mengobati luka ku sendiri?” lirih Amira di dalam hatinya.
Amira tak ingin mengatakan itu kepada Riko, karena ia tak ingin menumbuhkan harapan di hati Riko bahwa ia akan menunggu Riko.
Amira sendiri pun tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasannya setelah ini.
__ADS_1
“Aku ga bisa bilang apa-apa kak dan aku juga ga bisa ngejanjiin apa-apa. Biarin aja ini berjalan sebagaimana mestinya, jika memang harus ada cinta yang tumbuh maka biarkanlah itu tumbuh.
Hanya waktu yang dapat menjawab semuanya, jika pun ada luka dalam perjalanannya, waktu juga lah yang akan menghapus semua nya,” jawab Amira pada akhirnya.
Riko tersenyum pada Amira dan menganggukkan kepala nya.
“Amira masuk gih, nanti masuk angin kelamaan pake baju basah,” pinta Riko.
Amira menganggukkan kepala dan berbalik ingin meninggalkan Riko, namun seketika Riko memegang tangan Amira hingga membuat Amira kembali menghadapnya.
“Jalan ke dalam rumah nya sama kakak ya, masih hujan jadi biar kakak anter kamu pake payung ini,” ajak Riko sambil melepaskan genggaman tangan nya pada Amira.
Ia ingin menghargai Amira dengan tidak sembarangan menyentuhnya, meskipun itu sangat ingin dilakukannya.
Amira pun setuju dengan ajakan Riko. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke teras rumah Amira.
“Terima kasih kak,” ucap Amira Ketika mereka telah sampai di teras rumah Amira
“Ga perlu berterima kasih, justru kakak yang harusnya minta maaf,” ucap Riko sambil tersenyum.
“Minta maaf? Minta maaf kenapa?” tanya Amira sambil mengerutkan dahinya.
“Maaf karena membuat kamu jadi hujan-hujanan, dan maaf karena kakak mencintai kamu,” ucap Riko lagi.
Amira tersentak, namun sesaat kemudian ia berhasil mengontrol ekspresi dan emosi nya kembali.
"Bukan salah kakak kok, aku sendiri yang mau hujan-hujanan nyusul kakak hehe,” ucap Amira sambil tersenyum.
“Lain kali kamu ga boleh hujan-hujanan kaya gini ya?” ucap Riko.
“Ya udah Ami masuk gih, nanti biar kakak aja yang nutup pintu gerbangnya,” ucap Riko lagi.
Amira mengangguk, pertanda setuju dengan Riko.
“Kakak pulang nya hati-hati ya, aku masuk dulu,” pamit Amira lalu berbalik meninggalkan Riko.
Setelah Amira masuk ke dalam rumahnya, Riko pun segera pergi meninggalkan rumah Amira, tidak lupa dia menutup pintu gerbang nya.
Riko masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya meninggalkan rumah Amira, sementara Amira menatap kepergian Riko dari jendela kamarnya.
“Tuhan, mengapa sesulit ini rasanya jatuh cinta?
Aku pikir cinta itu indah, tapi ternyata cinta itu perih.
__ADS_1
Aku melihat orang-orang yang jatuh cinta dipenuhi dengan bunga, tapi ternyata cinta yang datang kepadaku itu penuh duri,” ucap Amira dalam hatinya sambil menatap kepergian Riko.