
Beberapa hari berlalu, Digo sedang mendampingi ayahnya dalam acara gala dinner yang diadakan perusahaan-perusahaan besar. Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan hubungan kerjasama yang baik antar perusahaan. Namanya acara dinner mewah banyak orang tua yang membawa anaknya untuk mencari jodoh. Siapa tahu ada jodoh yang pas di acara tersebut.
Termasuk ayah Digo yang membawa Digo mendampinginya, tapi bukan dalam rangka cari jodoh, melainkan untuk belajar berbisnis dan berelasi karena tak lama lagi Digo akan mengurus perusahaan milik ayahnya itu. Ayahnya ingin pensiun dini dan menikmati hari tua dengan bersantai.
Untungnya ayah Digo tidak terlalu pemilih dalam mencari menantu. Yang penting anaknya mencintai gadisnya dan pilihannya adalah wanita baik-baik, tidak masalah. Tidak harus dari keluarga kaya raya atau lulusan luar negeri dan sejenisnya, karena dia sudah kaya.
Rupanya dunia memang tak selebar daun kelor, acara tersebut juga dihadiri oleh ayah Nisa dan kebetulan membawa Nisa bersamanya. Nisa yang jarang sekali ikut acara seperti merasa bingung untuk menghabiskan waktunya di tempat itu. Ia juga jarang mengenakan gaun seperti saat ini ia pakai, ah rasanya risih sekali.
Apalagi acara itu adalah acara bagi pemimpin perusahaan yang biasanya sudah bapak-bapak tua. Mau apa Nisa ada di sana? pikirnya.
Dalam kegundahannya mengikuti acara tersebut, Nisa akhirnya melipir untuk mencari minum dan beberapa makanan. Daripada pusing dengan obrolan yang tak ia mengerti, lebih baik dia mencari makanan dan minuman untuk mengusir rasa bosannya.
Nisa memilih meja yang berisikan beberapa kue dan jus untuk didatanginya. Nisa mengambil macaron dan orange jus yang telah tersedia di meja itu.
Saat sedang menikmati hidangannya, Nisa tak sengaja melihat sosok Digo melintas. Nisa menaruh gelas berisi jus di atas meja lalu mencoba mengejar lelaki yang dilihatnya tadi.
“Aku seperti melihat Digo tadi, tapi apa mungkin Digo datang di acara seperti ini?” pikirnya.
Nisa berjalan mengikuti langkah lelaki yang terlihat seperti Digo hingga lelaki itu berhenti pada sebuah kursi yang tersedia di sudut ruangan.
“Itu beneran Digo,” ucapnya dalam hati, lalu ia berjalan menghampiri Digo yang baru saja duduk sendiri.
Digo sengaja mencari tempat sepi untuk duduk menikmati kesendiriannya, karena dari tadi sudah mengikuti ayahnya menjalin hubungan dan membicarakan tentang bisnis yang sebenarnya belum terlalu Digo pahami.
Sebelum menghampiri Digo, Nisa mencari minum untuk dibawanya menemui Digo. Setelah mendapatan minum yang dicarinya, Nisa kembali ke tempat dimana Digo duduk.
“Syukurlah dia masih di sana,” batinnya. Lalu ia melangkahkan kakinya mendekati Digo yang sedang duduk sendirian.
“Minum Go,” ucap Nisa ketika telah tiba di depan Digo sambil memberikan gelas berisi jus jeruk yang baru saja diambilnya.
__ADS_1
Digo melirik gelas itu kaget lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memberikan kepadanya.
“Nisa,” ucap Digo terkejut, lalu mengambil gelas berisi jus yang diberikan Nisa.
Lalu Nisa duduk di sebelah Digo yang kebetulan kursinya kosong.
“Kamu kok di sini?” tanya Digo heran.
“Aku dampingin papa ku Go, kalo kamu?” tanya Nisa balik.
“Sama, aku juga,” jawab Digo lalu meminum jus yang dibawa Nisa.
“Aku pikir di sini bapak-bapak semua Go, tapi rupanya ada beberapa yang seumuran kita juga ya,” ucap Nisa sambil memperhatikan sekelilingnya.
“Ya gitu deh, ini kan acara yang pas untuk ngenalin anak-anak mereka. Mungkin pewaris perusahaannya,” jawab Digo.
“Kaya kamu ya?” tanya Nisa sambil menoleh ke arah Digo.
“Iya juga sih pasti di sini bnyk pewaris perusahaan dan pencari jodoh,” jawab Nisa lalu meminum jusnya. Digo hanya tertawa mendengar Nisa mengatakan itu.
“Oh iya Go, aku mau nanya tentang adik tingkat kamu itu dong,” ujar Nisa tiba-tiba ketika teringat Amira yang hingga kini belum bisa dihubunginya.
Digo menatap Nisa, mengernyitkan dahinya bingung. “Adik tingkat aku?”
“Itu loh yang pacarnya temen aku, Riko kan kalo ga salah namanya,” ucap Nisa menjelaskan.
Ah mendengar itu hati Digo rasanya sakit lagi. Digo memejamkan mata, merasakan sakitnya sebentar, lalu membuka matanya kembali.
“Kenapa kamu nanya tentang dia Nis?” tanya Digo menatap gelas yang dipegangnya tanpa menoleh ke NIsa.
__ADS_1
“Aku mau nemuin dia Go,” sahut Nisa.
“Nemuin? Emangnya ada urusan apa Nis? Kayaknya penting banget.” Jawab Digo masih tak menoleh ke Nisa. Dia masih menikmati sakit di hatinya mendengar nama Riko dan ‘Teman Nisa’ yang tak lain adalah Amira.
“Penting banget buat aku Go, karena ini tentang sahabat aku Mira,” jawab Nisa dengan polosnya.
Mendengar itu Digo menoleh ke arah Nisa.
“Kenapa memangnya dengan sahabat kamu?” Tanya Digo dengan hati yang mulai khawatir. Selama hampir satu bulan Digo tak pernah mendengar kabar Amira sejak ia meninggalkan gadis itu di kampus tempo hari.
“Aku juga ga tau, aku udah berkali-kali telpon dia tapi handphone nya ga aktif, aku kemarin ke rumah nya katanya dia pergi. Aku coba telpon lagi masih ga aktif nomornya,” jelas Nisa dengan perasaan yang bingung.
“Kamu udah ke rumahnya lagi?” tanya Digo dengan raut wajah yang khawatir.
Nisa mengangguk. “Si mbak ga bilang apa-apa lagi, cuma blang ga tau Amira pulang kapan.”
Digo mulai berpikir. Tak lama lagi sudah tahun ajaran baru, tapi Amira kenapa seolah menghilang? Kenapa Digo tak pernah menyadarinya selama ini kalau Amira menghilang?
Melihat Digo yang termenung membuat Nisa bingung. Sedang diajak bicara kok bisa-bisanya termenung sendiri, pikirnya.
“Go, gimana? kamu ada nomornya Riko?” tanya Nisa lagi.
“Ada, tapi kenapa kamu berpikir mau nanya ke Riko tentang Amira?” tanya Digo penasaran.
“Inget ga aku pernah cerita, waktu terakhir aku ketemu Mira sebelum ke acara wisuda kamu, aku lihat Mira lagi nangis Go, matanya bengkak ya kaya orang habis nangis. Aku pikir ya mungkin karena dia udah putus sama Riko dan karena inget foto pelukan yang aku kasih beberapa hari sebelumnya.”
“Aku takut Mira tak bisa dihubungi ini berhubungan dengan Riko Go, makanya aku mau pastiin ke Riko. Atau siapa tahu si Riko mengetahui kabar tentang Amira,” jawab Nisa panjang lebar.
Jawaban Nisa benar-benar membuat DIgo ingin marah, tapi entah kepada siapa ia bisa meluapkannya.
__ADS_1
Riko memang sering sekali melukai Amira, tapi kalau sampai Amira yang sedang tak bisa dihubungi ini berkaitan dengan Riko, ia benar-benar akan buat perhitungan kali ini.
Udah cukup menahan amarah selama setahun ini demi Amira. sekarang tak ada lagi yang dipertahankannya karena Amira juga tak akan menjadi miliknya.