
Pagi itu Amira dijemput oleh Riko untuk berangkat bersama ke kampus. Namun Riko mengantar Amira tak sampai di depan Gedung kelasnya, melainkan di halte saja.
Amira yang juga tak mau bahwa orang tau bahwa dia diantar Riko itu pun pergi tanpa bertanya. Setelah mengucapkan terima kasih pada Riko, Amira segera berjalan ke kelasnya.
Digo yang memang sedang berada di warung dekat halte karena mampir sebentar membeli rokok melihat Amira yang sedang berjalan.
“Riko nganter Amira ke kampus rupanya,” batin Digo.
“Hahaha nganter cuma sampe halte aja kenapa? Takut ketahuan temen seangkatan lo ya? Takut ketahuan Desi?" gumam Digo sambil tersenyum Sinis.
Digo memperhatikan Amira yang sedang berjalan kemudian dia mempunyai ide.
“gue tunjukkin gimana caranya nganter cewek ya Riko,” gumam Digo sambil menghirup rokoknya lalu membuangnya dan menginjak puntung rokoknya.
Ia lalu menghidupkan motornya dan mulai berjalan menuju ke arah Amira.
Tiin.. tiinnn..
“Amira,” panggil Digo setelah motornya sampai di sebelah Amira.
Amira menoleh ke arah Digo dan terkejut melihat Digo telah di sampingnya.
"Kakak anter sampe kelas yuk,” ajak Digo.
“Ga usah kak, udh deket tinggal jalan aja kok,” jawab Amira buru-buru mau pergi.
Amira takut kalau Riko masih ada di halte dan melihat dia sedang bersama Digo. Apalagi sampai ke kelas bareng Digo naik motornya.
Dan ketakutan Amira itu memang terjadi. Riko yang memang masih berada di sana untuk melihat Amira berjalan menuju fakultas nya itu pun melihat mereka sekarang.
Digo yang mendengar jawaban Amira langsung menarik tangan Amira.
“Kakak anter aja sampe kelas, jalan dari sini jauh,” ucap Digo dengan terus memegangi tangan Amira.
“Gausah kak beneran, ini udah deket,” jawab Amira.
“Masih jauh Mi, kalo kamu ga mau ikut kakak naik, kakak bakal tinggal motor kakak ini disini dan kakak anter kamu sambil jalan dengan gandeng tangan kamu kayak gini,” ancam Digo pada Amira.
Amira kaget mendengar ancaman Digo dan terdiam.
“Kalo gue jalan sambil gandengan berarti ngelewatin gedung-gedung itu dengan tatapan orang ke kita berdua dong? Mendingan naik motor aja deh kan jalan nya ga lewat depan Gedung,” batin Amira berfikir.
“Gimana?” tanya digo yang udah bersiap-siap turun dari motornya sambil tetap memegang tangan Amira.
“Ya udah aku ikut kakak naik motor,” jawab Amira pasrah.
__ADS_1
“Nah gitu dong dari tadi, apa susahnya sih tinggal naik ke jok motor aja,” ucap Digo sambil tertawa kecil meledek Amira.
Lalu Digo dan Amira pun pergi meninggalkan tempat itu.
Riko yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya terdiam, berdiri mematung di halte bus. Dadanya sesak dan ada rasa marah yang bahkan tak bisa ia luapkan.
Tangannya mengepal erat, sakit rasanya.
Ingin marah tapi tak bisa, Amira terlalu ia cintai sehingga tak mungkin bisa memarahinya.
Sedangkan digo? Dia adalah kakak tingkatnya yang juga berkuasa di kampusnya, tak mungkin baginya untuk membuat perhitungan pada pria itu.
Lagipula ia juga merasa tak memiliki hak untuk marah, karena memang Amira belum menjadi miliknya. Dan terutama karena statusnya yang masih berpacaran dengan Desi.
Bagaimana dia bisa marah dengan keadaan dia yang seperti itu?
“Ahhhh sialann,” teriak Riko sambil meninju stang motornya.
Sakit di hatinya karena dia tak tau bagaimana meluapkan amarahnya membuat dia meneteskan airmata.
“Setelah 4 tahun, aku baru bisa merasakan bahagia seperti ini, dan sekarang kebahagiaan itu harus pergi dariku?” batin Riko lirih.
“Kenapa dunia ini ga adil? Kenapa aku tak bisa milih wanita yang aku cintai?” ucap Riko pedih sambil terduduk di motornya.
Sementara itu Amira yang telah sampai di depan kelasnya segera turun dari motor Digo. Dan sialnya lagi, di halaman depan kelas ada Andi dan Irwan yang mulutnya seperti kaleng rombeng itu.
Mereka kaget bukan kepalang melihat Amira turun dari motor Digo.
“Astagaaaa, gue ga salah liat ini kan?” ucap Ajeng pada sahabat-sahabatnya.
“Enggak Jeng, sahut Tasya sambil memegang Pundak Ajeng dengan wajah yang sama bengong nya dengan sahabatnya itu sambil melihat ke arah Amira.
“Secepat ini hati Amira berpaling dari Kak Riko ke Kak Digo? Padahal kemarin masih cinta banget kayaknya,” pikir Ajeng.
“Wah gerak cepet juga ya lo kak udah jemput Amira aja nih,” goda Irwan sambil melihat ke arah Amira yang sedang berjalan melewati mereka.
Digo yang mendengar itu hanya senyum-senyum saja merasa senang, sambil dipandanginya punggung gadis yang dicintainya itu.
Amira berjalan menuju ketiga sahabatnya dan langsung menarik mereka untuk masuk ke kelas.
Di dalam kelas, amira langsung diinterogasi oleh ketiga sahabatnya itu.
“Lo dijemput Kak Digo mi?” tanya Lena langsung to the poin
“Cepet banget ya geraknya Kak Digo,” sambung Ajeng
__ADS_1
“Enggak, gue tadi ketemu dia di halte doang terus dia ngajak gue bareng,” jawab Amira malas.
"Terus kenapa lo mau Mi? Atau jangan-jangan lo udah mulai jatuh cinta sama Kak Digo ya?" tanya Lena curiga.
“Bukan gitu, kalo gue ga mau ikut, dia bakal gandeng gue jalan kaki sampe sini,” sahut Amira.
“Waduh gila nekat juga ya kak Digo ini,” jawab Tasya.
Amira terdiam. Dia ingin cerita ke sahabat-sahabatnya itu kalau yang menjemputnya tadi adalah Kak Riko.
“Hmmm.. sebenernya tadi yang jemput gue tu Kak Riko guys,” ucap Amira tiba-tiba.
“Hahhh?? Kok bisa ?” jawab Tasya.
“Iya kemarin dia nganter gue pulang, gue ketemuan di halte sama dia. Dan dia bilang mau jemput gue hari ini untuk berangkat bareng,” jelas Amira.
“Ya ampun Mi jadi kemarin lo buru-buru itu karena mau pulang sama Kak Riko? Gue kira lo mau apa Mi,” ketus Ajeng merasa tertipu
“Ya sorry, kemarin itu mendadak makanya gue ga sempet cerita ke kalian,” ucap Amira.
“Bisa-bisanya berangkat bareng Kak Riko tapi sampe kelas nya dengan kak Digo,” ucap Lena geleng-geleng kepala.
Amira mengangkat bahu.
“Ga tau lah pusing gue males mikirinnya,” sahut Amira.
"Jangan pusing-pusing Mi dipilih aja," ucap Lena sambil tertawa.
"Pilih apaan lo kira baju Len," jawab Amira tertawa diikuti Tasya Lena dan Ajeng yang juga ikut tertawa.
Sementara itu di sisi lain, setelah ngobrol sebentar dengan Andi dan Irwan Digo segera pergi dari kelas Amira.
Dia menghampiri teman-temannya di taman Gedung B.
“Dari mana lo Go?"tanya Riski.
“Gue abis nganter Amira dari halte,” jawab Digo.
“Lah ngapain kok dari halte doang?" tanya Erwin heran.
“Iya tadi dia dianter Riko rupanya, dan dianter cuma sampe halte, ya udah langsung gue bawa ke depan kelas” jelas Digo merasa menang.
“Wih keren juga lo Go, Riko yang udah capek-capek jemput Amira dari rumah, lo main ambil aja dari halte hahahaha,” Riski berucap sambil tertawa
“Biar Riko tau gimana caranya nganter cewek yang bener," ucap Digo sambil tersenyum sinis.
__ADS_1