Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 31 Merindukanmu


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah kejadian di rumah Amira, Digo dan Riko benar-benar mengikuti keinginan gadisnya itu.


Bahkan saat mengikuti mata kuliah Bersama pun Digo tak pernah mengganggu Amira, namun sesekali ia memperhatikan Amira dari tempatnya duduk.


Begitupun dengan Riko. Ia tak pernah memaksa Amira lagi untuk pulang bersamanya, namun setiap hari masih mengirimkan pesan untuk Amira, seperti jangan lupa makan atau sekedar hati-hati di jalan.


“Mi, lo kenapa sih? Kok belakangan ini jarang cerita sma kita-kita?” tanya Lena.


“Iya Mi, gimana lo sama kak Riko? Udah jadian?” taya Ajeng.


“Jadian gimana sih Jeng orang dia aja masih punya pacar kok,”jawab Amira.


“Eh iya ya, terus jadi gimana dong? Kalian gini-gini aja?” tanya Ajeng lagi.


Amira tak menjawab, hanya mengangkat bahu saja.


“Kalo kata gue kenapa lo ga sama kak Digo aja sih Mi? dia itu sayang banget loh sama lo, emangnya lo ga ngerasa?” tanya Lena.


Amira menoleh ke arah Lena. “Kak Digo yang mantannya mirip gue? Lo yakin yang dia sayangin itu gue?”tanya Amira.


“Ya lo lah, masa mantannya sih,” jawab Lena.


“Entahlah Len, kalo wajah gue ga mirip emangnya dia bakal suka sama gue, bakal sayang sama gue?” sahut Amira penuh penekanan.


Mendengar itu Lena hanya menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum kikuk.


“ya iya sih, tapi kan yang penting perasaan dia dan sikap dia ke lo Mi, daripada lo sama kak Riko. Mau sampe kapan lo nunggu dia kaya gini?” imbuhnya.


“Sampe gue bosen nunggu Len,” jawab Amira dengan tatapan kosong.


“Sampe hati gue sendiri yang capek dengan cinta yang tak berbalas ini,” tambahnya.


Tiba-tiba seseorang masuk dalam kelas mereka, menandakan perkuliahan segera dimulai. Namun betapa terkejutnya Amira karena yang masuk kelas adalah Riko.


Ia terlihat sangat rapi menggunakan kemeja biru dongker dan kacamata sambil menenteng buku modul kimia dasar yang msih terlihat begitu mempesona di mata Amira.


“Selamat siang adik-adik semua, hari ini Pak Henry menugaskan saya sebagai asisten dosen beliau untuk membantu perkuliahannya. Beliau menitipkan beberapa tugas yang nantinya harus dikerjakan adik-dik semua,” ucap Riko kepada adik tingkatnya dengan senyum menawannya.

__ADS_1


Lalu Riko mulai menyampaikan materi kimia dasar yang telah dititipkan oleh dosennya itu di depan kelas. Seperti biasa ia menjelaskan dengan sangat lembut dan mata yang selalu tertuju pada gadisnya, Amira.


Amira terlihat seperti salah tingkah berada dalam satu kelas bersama Riko. Ia lebih sering menunduk karena takut bertemu mata dengan Riko.


Ketika Riko sedang sibuk menuliskan materi untuk dicatat, Amira baru berani menegakkan kepalanya menghadap ke depan dan melihat punggung Riko dari mejanya.


“Aku pikir perasaanku sudah hilang dengan berjalannya waktu, tapi ternyata perasaan menyebalkan ini masih terus menetap di hatiku,” ucap Amira di dalam hatinya.


“Ah aku merindukanmu kak Riko,” lirih.


Amira sambil menatap punggung pria yang masih memenuhi hatinya itu.


Setelah mencatat Riko kemudian membalikkan badannya kembali menghadap adik-adik tingkatnya itu, membuat Amira langsung menunduk dan pura-pura menulis catatan.


Riko melihat Amira, ada rasa rindu yang tersirat dari pandangannya. Ingin sekali rasanya saat ini juga ia menghampiri ke meja Amira untuk bertanya bagaimana kabarnya hari ini. Tapi hanya sekedar seperti itu saja tak mampu dilakukannya.


“Oke Adik-Adik, catat dahulu yang kakak tulis di depan ya, lalu setelah ini kakak akan membagikan kertas soal tugas yang diberikan oleh pak Henry. Tugas ini bukan tugas rumah ya jdi harus diselesaikan hari ini juga,” ucap Riko menjelaskan sambil menyusun kertas yang akan ia bagikan.


Kemudian Riko mulai membagikan kertas soal satu per satu kepada adik-adik tingkatnya itu agar segera bisa dikerjakan. Ketika tiba di meja Amira, Riko menatap Amira sebentar lalu memberikan kertas soal tersebut bersamaan dengan selembar kertas kecil. Setelah itu ia pun melanjutkan pembagian kertasnya.


Amira membuka kertas kecil itu dan membaca tulisan yang tertera di situ.


Begitulah tulisan yang tertulis pada kertas kecil yang diberikan Riko, seakan mengetahui isi hatinya bahwa ia merasakan hal yang sama.


Amira menatap Riko yang masih sibuk membagikan kertas soal tersebut.


“Bagaimana caraku melepasmu kak? Jika kamu selalu mengantarkan rindu untuk menetap di hatiku,” batin Amira.


Setelah selesai membagikan seluruh kertas soal, Riko Kembali duduk di mejanya.


“Nah soal itu dikerjakan sekarang ya adik-adik sampai jam mata kuliah ini selesai,” ucap Riko lalu melihat jam tangannya.


“Kurang lebih 1 jam 25 menit lagi,” Ucap Riko menambahi.


“Baik kak,” jawab mereka serempak.


“Kalau nanti ada yang kira-kira ga bisa jawab atau bingung dengan rumusnya bisa ditanyakan aja ke kakak ya, ga usah malu-malu,” ucap Riko lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


“Siap kakak,” jawab mereka.


Riko kemudian menatap satu persatu adik tingkatnya itu dalam mengerjakan soal yang ia berikan hingga tatapannya menangkap sosok cantik yang selalu menguasai hatinya. Amira.


Amira pun tak sengaja melihat ke arahnya, sehingga pandangan mereka bertemu. Untuk sesaat mereka masih saling menatap, sebelum akhirnya Ajeng menyenggol lengan Amira, melepaskan mata Amira dari sosok Riko.


“Mi, nanti yang lain pada sadar loh kalo lo ada sesuatu sama kak Riko,” bisik Ajeng menyadarkan Amira.


Amira menoleh ke arah Ajeng kemudian menyapu pandangannya mengelilingi kelasnya lalu melanjutkan menulisnya lagi.


“Gue ga tahan Jeng, rasanya gue pengen ke depan terus bilang ke dia kalo gue kangen,” ucap Amira pelan.


“Jangan gila mi, orang-orang nanti pada tau dan bakal menganggap lo orang ketiga antara kak Riko sama mba Desi,” jawab Ajeng berusaha menyadarkan Amira.


“Tapi kan gue juga pengen punya kisah cinta yang bagus jeng, kisah cinta yang indah, yang bahagia kaya orang-orang,” sahut Amira lirih.


Ajeng menghentikan aktivitas menulisnya lalu menoleh ke arah Amira.


“Bisa mi, bisa banget sekarang lo kalo mau punya kisah cinta yang begitu,” jawab Ajeng.


Ami menoleh ke Ajeng. “Gimana caranya?” tanya Ami polos.


“Ganti pemilik hati lo,” jawab Ajeng.


“Maksud lo?” tanya Amira tak mengerti.


“Ganti cinta lo dengan orang lain, lo paham ga? Cintailah orang yang mencintai lo Ami,” ucap Ajeng gemas.


“Orang yang lo maksud itu ga ada Jeng,” jawab Amira sendu.


“Baik Riko ataupun Digo, keduanya bagi gue sama aja, sebesar apapun Riko sayang sama gue tapi dia ga bisa jadiin gue satu-satunya, bahkan ga bisa menunjukkan perasaannya kepada orang lain.


Sedangkan Digo, sekeras apapun dia nunjukin perasaannya ke gue, tetap aja yang ada di mata dia itu pasti bukan gue, tapi mantannya," jawab Amira pelan.


“Kenapa segitunya lo berfikiran tentang Kak Digo sih Mi?” tanya Ajeng heran kepada Amira, kenapa dia ga bisa melihat betapa Digo memperjuangkannya.


“Gue pernah ketemu dia,” jawab Amira.

__ADS_1


“Dia? Dia siapa?” tanya Ajeng tak mengerti.


“Nisa, mantannya Kak Digo,” jawab Amira


__ADS_2