Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 51 Peluk


__ADS_3

Siang ini Riko sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Desi. ia sudah memantapkan dirinya untuk memutuskan hubungan yang memang sudah sejak lama ingin ia lakukan. Meskipun ia sadar, mengakhiri hubungannya dengan Desi tak bisa lagi meminta Amira untuk merajut mimpi bersamanya.


Awalnya rencana Riko setelah memutuskan hubungannya dengan Desi, ia ingin meresmikan hubungannya dengan Amira. Namun ternyata manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan akhir dari segalanya.


Pada kenyataannya, Tuhan telah merubah arah cinta Amira yang bukan lagi menuju padanya. Jika pun dipaksakan, tak akan lebih baik dari hubungannya dengan Desi.


Di depan rumahnya, Riko menghirup dalam-dalam udara hari ini sambil memejamkan matanya. Masih terasa sisa kepedihan di hatinya karena kehilangan Amira.


"Mulai hari ini aku tau mungkin akan sulit untuk aku lewati. Melewati hariku tanpa kamu Amira. Kamu yang selalu membuatku bersemangat dalam menjalani hari, kini sudah tak lagi bersamaku. Sungguh, rasanya bohong jika aku bilang aku baik-baik saja. Hatiku sakit Amira. Demi bahagiamu aku rela membiarkan rasa sakit ini menguasai hatiku," Riko berucap di dalam hatinya lalu menitikkan airmata di sudut matanya.


"Aku tak tahu ternyata patah hati itu sesakit ini,” ucapnya pelan dengan tersenyum sendu. Lalu ia mulai memasuki mobilnya untuk pergi ke tujuannya.


Sementara Desi baru saja tiba di tempat pertemuannya dengan Riko. Ia duduk dan memesan beberapa makanan juga minuman untuknya dan untuk Riko jika pria itu sudah datang.


Desi merasa hari ini akan terjadi sesuatu, ia telah menyiapkan mental dan hatinya untuk segala kemungkinan yang terjadi. Sebenarnya Desi telah merasa jika Riko tak lagi mencintainya. Mungkin sudah sejak lama, namun ia baru menyadarinya satu tahun belakangan ini. Namun baginya selama Riko tak meninggalkannya, ia pikir cukup menjalani dengan ikhlas saja tidak apa-apa.


Tapi ternyata memang cinta tak bisa dipaksakan. Seerat apapun cinta itu kau genggam, pada akhirnya ia akan menghilang meninggalkan kenangan.


Tak lama kemudian, Riko telah tiba di tempat yang mereka janjikan. Ia melihat Desi sedang duduk sambil minum jus alpukat kesukaannya.


“Maaf kamu udah lama nunggu ya?” tanya Riko ketika sudah dekat ke meja Desi.


Desi menoleh. “Nggak kok, aku nya aja yang terlalu cepat," jawab Desi lalu tersenyum.


Riko mengambil kursi tepat di depan Desi lalu meminum orange jus yang telah tersedia di meja. Riko berpikir sejenak, sebenarnya Riko bingung harus mulai darimana untuk membicarakan maksud hatinya pada Desi hari ini.


“Kamu mau ngomong apa Rik?” tanya Desi menatap Riko.


Riko meletakkan jus yang tadi diminumnya di atas meja. Lalu ia pun membalas menatap Desi.

__ADS_1


"Des, karena kita udah mau lulus, terutama kamu, mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini,” ucap Riko pada akhirnya.


Desi terdiam, matanya masih menatap Riko. Lalu matanya beralih ke jus yang saat ini dipegang nya. Desi tersenyum sejenak, kemudian kembali menatap Riko.


“Sesuai dugaanku Rik, kamu pasti akan ngomong ini ke aku. Aku tau selama ini kamu sangat terpaksa menjalani hubungan ini. Namun demi menjaga perasaanku, menjaga nilai akademis ku, kamu tetap meneruskan hubungan ini walau dengan separuh hatimu, atau mungkin seluruh hatimu udah gak ada padaku.”


"Terima kasih ya, untuk semua pengertian kamu selama ini,” ucap Desi lalu memegang punggung tangan Riko.


“Kamu orang baik Riko, aku berharap setelah ini kamu dapat menemukan apa yang kamu cari yang ga ada di aku. Aku berharap kamu bisa memilih cinta yang kamu mau Riko, dengan bahagia," ucap Desi lalu tersenyum dan melepas tangannya dari Riko.


Riko tertegun. Melihat ketegaran yang Desi tunjukkan padanya. Wanita itu, bisa begitu tegar, tapi mengapa dirinya tidak?


“Cinta yang aku mau udah pergi Des, saat ini aku sama seperti kamu, merelakan orang yang kita cintai bahagia tanpa kita,” ucap Riko lirih dalam hatinya.


“Kita masih bisa berteman kan Rik? aku udah cukup kehilangan kamu sebagai kekasih, jangan buat aku kehilangan kamu sebagai teman ya," ucap Desi membuyarkan lamunannya.


“Aku minta maaf ya Des,” itu saja yang terucap dari mulut Riko.


“Aku pamit ya, mulai sekarang kita udah ada di jalan kita masing-masing, semoga bahagia menghampirimu dan juga aku,” ucap Desi lagi kemudian berdiri dari kursinya.


Riko pun berdiri dari tempatnya lalu mengulurkan tangannya kepada Desi untuk bersalaman. Salam perpisahan.


Desi terdiam sebentar, lalu menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum.


“Boleh aku dapat pelukan terakhir dari kamu?” Tanya Desi saat bersalaman dengan Riko.


Riko mengangguk, lalu membawa Desi ke dapan pelukannya. “Terima kasih telah menemaniku selama 4 tahun ini.”


Desi tersenyum getir dalam pelukan Digo, ingin menangis namun masih ditahannya. “Sama-sama, terima kasih juga karena kamu udah jaga aku selama ini.”

__ADS_1


Saat itu tak sengaja Nisa baru saja datang bermaksud ingin memesan makanan Take away di restoran itu, namun tanpa sengaja melihat Riko yang sedang berpelukan dengan Desi.


Selama ini yang Nisa tau Riko adalah kekasih Amira yang membuat Amira menangis sewaktu di rumahnya.


Ia terkejut melihat Riko sedang berpelukan, tanpa tau kejadian yang sebenarnya. Lalu mengambil ponselnya dan mengambil foto Riko untuk nanti diberikan kepada Amira.


Saat ini pikiran Nisa tertuju pada Amira. ia merasa kasihan kepada sahabatnya itu karena kekasih yang dicintainya ternyata saat ini sedang memeluk orang lain.


Lalu Nisa memutar tubuhnya untuk keluar lagi dari restoran itu. Ia mencari nomor Amira pada ponselnya dan menelponnya.


“Halo,” terdengar suara sapaan dari sebrang telponnya.


“Halo Mir, kamu lagi sibuk ga hari ini?” tanya Nisa.


“Oh enggak Nis, aku lagi di rumah aja.”


“Aku mau ke rumah kamu boleh?”


“Boleh, dateng aja sini, aku sendirian aja di rumah.”


“Oke sebentar lagi aku jalan ya, tunggu aku," ucap Nsa lalu mengakhiri telponnya.


Nisa pun segera masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankan mesinnya untuk pergi ke rumah Amira. Ia membuka ponselnya untuk melihat melalui google maps letak rumah Amira.


Sementara di dalam restoran, setelah berpelukan Desi akhirnya pamit kepada Riko lalu pergi meninggalkan Riko.


Riko yang masih ingin sendiri melanjutkan duduknya lalu meminum orange jus untuk menyegarkan pikirannya yang kini terasa panas.


Dengan tatapan kosong ia terus meminum orange jus itu hingga tegukan terakhir.

__ADS_1


“Bahkan saat berpisah dengan Desi pun rasa sakit yang datang adalah sakitnya perpisahanku dengan Amira," batinnya lalu tersenyum sedih lagi-lagi menitikkan airmata di sudut matnya.


__ADS_2