Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 36 Figuran


__ADS_3

Setelah Amira bertemu dengan Nisa, mereka sering bertukar kabar melalui chat.


Hari ini Amira mendapat kabar bahwa Nisa sudah boleh keluar dari rumah sakit. Amira berencana akan mengunjungi Nisa di rumahnya setelah gadis itu beberapa hari istrahat di rumahnya.


Amira sedang duduk di balkon rumahnya. Ia teringat akan kisah Nisa dan Digo.


Perpisahan mereka seharusnya tak pernah terjadi, apakah karena itu Digo menyukainya?


“Apakah sebenarnya di hati Digo masih mencintai Nisa lalu ia mencari Nisa dalam diriku?”batin Amira dengan meneteskan airmata nya.


“Ah kenapa sakit ya?” ucapnya lagi kemudian tersenyum miris.


“Ku pikir kau mencintaiku kak, ternyata aku hanya menjadi bayangan Nisa,” batinnya tersenyum getir dan masih meneteskan airmata.


Amira sungguh tak bisa membohongi dirinya bahwa saat ini hatinya begitu sakit. Mengapa harus terjadi lagi, kisah cinta dimana dia bukanlah pemeran utamanya.


Riko dan Desi, kemudian Digo dan Nisa. Mengapa dia harus selalu ditempatkan sebagai figuran saja?


Dari sekian banyak kisah cinta sepasang kekasih, mengapa semesta memilihkan cinta untuknya lewat luka? Bahkan Ketika cinta yang ia terima begitu besar, tetap tak mampu merubah apapun. Justru semakin menambah sayatan luka itu.


Bersama Riko Amira merasa terjatuh ke dalam lembah tak berdasar, sekuat apapun amira berusaha, ia tak mampu keluar dari lembah itu. Sebesar apapun Riko mengulurkan cinta kepadanya, Amira tetap terjebak di dalamnya.


Lalu Digo datang membawa cahaya, dan mengulurkan tangannya untuk mengulurkan dia dari lembah itu, namun belum sampai di dasar bumi, ia tersudut jatuh di antara cinta dan ruang hampa. Seperti maya dan nyata, bahkan hadirnya tak lagi terasa berpijak pada bumi yang sama.


Tidak kah cukup luka yang ia dapatkan dari cinta Riko selama ini? Mengapa luka itu kembali ditawarkan oleh masa lalu Digo?


“Dan Tuhan mempertemukan aku dengan dia, perempuan yang menjadi masa lalu Digo. Apakah Tuhan ingin menyadarkan aku bahwa aku memang hanyalah figuran dalam kisah cinta mereka?”


Amira terus melamun sambil berfikir. Bahkan ia tak tahu jika airmata nya sudah jatuh berlinang.


Tanpa sadar bawah di depan pagar saat ini tengah berdiri Digo sedang memperhatikannya. Lalu ponsel yang saat ini berada di tangan Amira berdering, menandakan panggilan masuk.


Tertulis nama Kak Digo. Amira telah merubah nama DIgo ganteng menjadi kak Digo. Yang normal-normal ajalah, pikir Amira saat itu.


Amira mengangkat telpon itu dengan suara pelan.”Halo.”


“Ami, kakak di depan rumah kamu, boleh kakak masuk?”tanya Digo.


Ami seketika langsung menoleh ke arah pagarnya yang dapat ia lihat dari balkon. Sesaat mata mereka bertemu, lalu Amira segera menganggukkan kepalanya. “tunggu sebentar.”


Amira segera turun dan berjalan menuju pagar rumahnya. Tak lupa ia seka sisa airmata nya agar Digo tak tahu ia habis menangis.

__ADS_1


Ia membuka pintu lalu mempersilahkan Digo masuk.


“Silahkan duduk kak,” ucap Amira ketika sampai di teras rumahnya.


Digo langsung menempati kursi yang ditunjukkan oleh Amira. “Sendirian aja?”


"Enggak, ada mbak di belakang,” jawab Amira singkat.


"Bentar ya aku minta tolong mbak buatin air minum dulu, kakak mau minum apa?" Tanya Amira.


Apa aja boleh mi, teh juga ga apa-apa,” jawab Digo.


“Oke tunggu sebentar,” jawab Amira lalu berjalan menjauh dari Digo.


Setelah meminta mba buat menyediakan air minum, Amira kembali ke tempat Digo berada.


“Tumben tiba-tiba kesini, ada apa kak?" Tanya Amira sambil duduk di kursinya.


“Nggak apa-apa, emangnya kakak ga boleh kesini?” tanya Digo.


“ya boleh kok,” jawabnya singkat.


“Mi, tadi kamu nangis?” tanya Digo.


Digo tau Amira sedang berbohong, namun ia tak ingin memaksa Amira untuk bercerita.


“Kakak mau ngajak kamu ke rumah Erwin Mi, karena Ibunya Erwin lagi buat acara makan-makan, tapi cuma kita-kita aja yang dateng, temen deketnya,”ajak Digo pada Amira.


Amira menoleh ke arah Digo, terlihat sedang mempertimbangkan ucapannya barusan.


“Lena juga ikut kok, dia ga bilang sama kamu?” tanya Digo.


“Lena udah bilang kemarin kak, tapi aku ga tau mau datang atau ga aku jawab lihat besok,” jawab Amira.


“Sebenernya kakak kesini untuk jemput kamu, kasian juga Lena kalau sendirian Mi, kamu bisa kan?” tanya Digo lagi.


“Kenapa aku malah kepikiran Nisa? Dia ingin sekali bertemu dengan Kak Digo, tapi aku malah diam saja seolah menikmati peran figuran ku,” batin Amira tertunduk.


“Mi? Kamu kok banyak ngelamun sih? Yuk jalan, takutnya Lena udah disana,”ucap Digo lagi.


Amira menggeleng kemudian beranjak. “ tunggu aku siap-siap dulu ya."

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka pun berangkat ke rumah Erwin.


Setibanya di rumah Erwin, sudah berkumpul teman-teman Digo dan Amira. Lena, Andi dan Irwan juga ada di sana.


“Mi, ih akhirnya dateng juga lo, gue kira lo ga jadi dateng, gue udah mikir aja kalo gue sendirian di sini,” ucap Lena sambil memeluk Amira.


“Justru karena gue takut lo sendiri di sini makanya gue dateng,” sahut Amira sambil tertawa kecil.


“Karena gue apa karena dijemput Kak Digo nih?” ucap Lena meledek. Matanya melihat ke arah Amira dan Digo bergantian.


Amira langsung menoleh ke Digo lalu hanya tersenyum sebentar pada Lena.


“Eh kok di pintu aja sih Mi sini masuk, gimana sih sayang kok Amira ga disuruh masuk,” ucap Erwin berjalan mendekati Lena yang sedang memeluk Amira.


“Oh iya sampe Lupa, yuk Mi,” ajak Lena dan menggandeng sahabatnya itu.


Di dalam rumah, terlihat ibunya Erwin sedang sibuk menata piring yang terbuat dari anyaman bambu ke atas meja.


“Selamat siang tante,” ucap Lena bersama Amira.


Ibu Erwin pun menoleh ke arah lena dan Amira.


“Eh Lena... sama-Nisa ya? Ya Ampun Nisa sudah lama sekali kamu ga pernah ke sini,” sahut Ibunya Erwin sambil berjalan hendak menghampiri Amira.


Semua yang ada di sana segera menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Amira terdiam mematung. Ia terlihat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.


Amira kemudian tersenyum yang terlihat dipaksakan, dalam hatinya ada gejolak yang ia sendiri pun tak tahu itu.


“Rasanya sakit dan ingin menangis, aku bukan Nisa,” jerit Amira dalam hatinya namun masih dengan wajah tersenyum.


“Ayuk dicobain nak, udah lama banget kamu ga ksini,” ucap Ibu Erwin lagi, membuat m mata Amira berkaca-kaca.


“Iya bu, aku mau cari Digo dulu ya,” pamit Amira kemudian berjalan menjauh dari sana.


Amira terus berjalan menuju pintu rumah. Ia tak mau mencari Digo atau melihat siapapun, ia hanya ingin pulang dan menumpahkan segala perasaannya seorang diri saja.


“Amira, Amira…” panggil Digo dan Erwin mengikuti langkah Amira.


Amira terus berjalan, ia tak peduli dengan apapun saat ini, sungguh ia tak ingin peduli pada Digo, Lena atau siapapun.


Sudah cukup sakit yang ia terima selama ini, ia tak mau menambah luka lagi.

__ADS_1


Amira kemudian berlari tanpa arah dengan iringan airmata nya yang jatuh tak tertahan lagi.


__ADS_2