
Hari ini Riko datang ke rumah Amira tanpa sepengetahuan Amira. Riko sengaja datang membawa mobil agar tidak ada yang melihatnya datang, terutama Amira.
Riko memarkirkan mobilnya di depan rumah Amira namun agak jauh dari pagarnya.
Riko memperhatikan rumah wanita yang dicintainya itu. Ia memikirkan ucapan Tofan kemarin bahwa semua ini tidak adil untuk Amira.
Menjadikan Amira yang kedua dalam hidupnya adalah hal yang mungkin terdengar jahat, apalagi untuk wanita seperti Amira.
Walaupun dalam kenyataannya Amira lah satu-satunya wanita yang menempati hatinya.
“Apakah aku mampu meninggalkan Amira demi kebahagiaannya?” batin Riko sendu.
Riko menyandarkan dirinya di kursi kemudi sambil memejamkan matanya. Pikirannya terlalu kacau saat ini. Hati dan logika nya seolah berperang untuk melepas Amira atau dengan egois mempertahankan gadis itu di sisinya.
Amira akan disebut sebagai pelakor jika dia tetap memaksa Amira untuk terus di sisinya. Bahkan setelah nanti hubungannya dengan Desi pun berakhir, Amira akan disebut sebagai orang ketiga yang menjadi penyebab hubungannya dengan Desi putus. Karena dunia tidak tahu seberapa besar Riko mencintai Amira, yang dunia tau hanyalah Riko kekasih Desi.
Riko mendesah lirih, dikeluarkannya ponsel dari saku nya lalu dia mulai men scroll sampai bertemu nama Amira.
Kemudian dia menekan tombol call pada nomor tersebut. Terdengar suara panggilan yang terhubung hingga akhirnya diangkat dari sang penerima.
“Halo”, terdengar suara lembut dari sambungan telpon itu.
“Halo Amira,” jawab Riko.
Hening. Tidak ada kata yang keluar dari Riko maupun dari Amira.
Amira merasa bingung dengan sikap Riko.
Riko tak sanggup bicara, airmata mulai menetes dari pelupuk matanya.
Setelah mendengar suara Amira, ia merasa lemah. Ia tak mampu merelakan Amira pergi. Tidak untuk Digo atau untuk siapapun.
“Kak?” panggil Amira pelan.
Amira mulai merasa khawatir dengan sikap aneh Riko. Tak biasanya Riko menelpon lalu diam seperti ini.
“Kak Riko?” panggil nya kembali.
Riko segera menghapus airmata yang jatuh di pipinya dan mulai mengatur suara agar tidak terdengar serak.
Sambil memandangi kamar Amira dari tempatnya duduk, ia tersenyum dan berharap bisa melihat Amira dari jendela rumahnya.
Kebetulan kamar Amira terletak di samping ruang tamu, sehingga sangat mudah dilihat dari depan rumahnya seperti ini.
__ADS_1
“Ya Ami,” jawab Riko mencoba setenang mungkin.
“Kakak kenapa? Ada masalah?” tanya Amira kemudian.
“Ga ada apa-apa mi, kakak cuma mau denger suara kamu aja, udah beberapa hari ini kakak ga denger dan ga ketemu kamu,” jawab Riko
“Oh aku kira kenapa,” jawab Amira.
“Memang kamu kira kakak kenapa Mi?" tanya Riko merasa khawatir jika Amira mengetahui dia tadi sedang menangis.
“Ya tumben aja kakak nelpon aku tapi diem aja, ga kaya biasa nya, kakak nggak apa-apa?”tanya Amira lagi.
“Enggak, kakak nggak apa-apa kok mi, kakak cuma pengen denger suara kamu aja, karena udah lama ga ketemu dan denger suara kamu,” jawab Riko mencoba menetralkan suara dan ekspresinya.
“Kakak memangnya lagi dimana?” tanya Amira.
“Kakak lagi di rumah, kenapa?” tanya Riko.
“Kok ada suara musik nya kak? Kakak lagi denger musik di rumah?” tanya Ami merasa heran.
Seketika Riko kaget, ia lupa masih memutar lagu dalam mobilnya.
“Oh iya Mi, ini kakak lagi muter musik di kamar, kakak bosan Mi libur kuliah nggak ngapa-ngapain, jadi ya gini lah kerjaan nya di rumah,” ucap Riko berbohong.
“Memangnya kakak ga pergi sama Mba Desi?” tanya Amira dengan polosnya.
“Kenapa? Kan mumpung libur,” tanya Amira lagi dengan hati yang yaahh sebenarnya sangat sakit itu.
“Mi, bisa ga kita ga usah ngomongin Desi kalo lagi ngobrol berdua,” ucap Riko lirih.
Hening. Tidak ada jawaban dari Amira. Sungguh Amira merasa seperti menabur garam di atas luka, menanyakan nama wanita yang membuat hatinya sebenarnya sakit.
Seketika Hujan turun. Amira turun dari ranjangnya kemudian berjalan ke arah jendela. Ia menyibak gorden putih tembus pandang yang terpasang di jendelanya.
Ia bermaksud melihat hujan, namun ia kaget melihat sebuah mobil berwarna biru terparkir di depan rumahnya.
Sama hal nya dengan Amira, Riko pun kaget melihat sosok Amira ada di balik jendela. Sosok yang saat ini memenuhi hatinya. Sosok gadis yang selalu ia rindukan.
Untung nya kaca mobil Riko dilengkapi dengan kaca film oneway sehingga tidak terlihat sama sekali dari luar, namun terlihat jelas dari dalam.
Riko memandang Amira dengan penuh rindu dari dalam mobilnya, dengan ponsel yang masih ia tempelkan ke kupingnya, menandakan telepon masih terhubung namun keduanya terdiam.
Amira merasa heran dengan mobil itu, kenapa ada mobil di depan rumahnya? Kalau milik keluarga tetangga mengapa harus parkir di depan rumahnya? Sementara depan rumah tetangga-tetangganya kosong.
__ADS_1
Ditatapnya mobil itu dengan penuh tanda tanya. Amira tidak tahu itu adalah mobil Riko, karena Riko tak pernah membawa mobil saat bersama Amira ataupun Desi.
Seperti saling menatap namun terpisah oleh ruang dan jarak. Tatapan sendu Riko maupun Amira yang melamun sambil melihat mobil Riko.
Tiba-tiba ada suara klakson dari belakang mobil Riko menandakan mobil tersebut ingin berjalan di bahu jalan mobil Riko.
Dan karena itu Amira menyadari sesuatu.
"Bunyi klakson itu, kenapa sama dengan bunyi di dalam telpon ini?"batin Amira.
Jangan-jangan… Amira langsung berjalan keluar kamar hendak menuju teras rumahnya. Ia ingin mendekati mobil itu.
“Kamu mau kemana Amira?” tanya Riko tanpa sadar dalam telepon nya.
Seketika Amira berhenti melangkah.
“Kenapa Kak Riko tau kalo aku lagi jalan?” tanya Amira curiga.
Riko yang menyadari kesalahannya langsung gelagapan bingung mau menjawab apa.
Amira langsung mempercepat langkahnya, membuka pintu ruang tamu, lalu keluar rumah berjalan menuju pagar rumahnya.
Dengan ragu Amira membuka pintu pagarnya dan mendekati mobil biru yang terparkir itu, padahal hari sedang hujan.
Riko kaget melihat Amira yang sudah berjalan ke arah mobilnya. Tanpa pikir panjang, Riko langsung mengambil payung yang ada di jok belakang dan membuka pintu mobilnya untuk segera menghampiri Amira.
Riko memayungi Amira dan juga dirinya sendiri dengan wajah sendu. Lalu ia membenarkan posisi kacamatanya dan menatap Amira.
Mereka menatap dalam diam, tatapannya seperti mengisyaratkan kegundahan hati.
Pov Riko
“Bagaimana caraku membahagiakanmu tanpa menyakitimu Amira?” batin Riko sendu.
“Bagaimana caranya aku mengungkapkan isi hatiku kepada dunia bahwa kamulah ratu di hatiku?
Apakah menjadi satu-satunya yang aku cintai adalah beban untukmu?” tanya Riko lirih di dalam hatinya.
Pov Amira
“Aku lelah bersembunyi di balik senyuman kak.
Aku jenuh dengan ketidakpastian yang selalu kau berikan kepadaku sejak kau memintaku tetap di sisimu” batin Amira sedih.
__ADS_1
“Bolehkah aku pergi? Pergi dari cintamu yang begitu menjeratku ini?
Sungguh aku merasa aku kehilangan jati diriku,” ucap Amira tertahan dalam hati.