Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 77 Terima kasih


__ADS_3

Nisa meninggalkan tempat itu ketika Amira dan Digo tak lagi terlihat olehnya.


Ia berjalan kembali menuju kamarnya tanpa ia sadari jika saat ini Riko mengikutinya dari belakang.


Ketika Nisa mau membuka kunci pintu kamarnya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang terjulur di sampingnya menahan pintu kamarnya. Sepertinya tangan itu dari arah belakangnya.


Nisa kaget, seketika jantungnya terasa mau copot. Apakah ada orang mesum di sini?


Nisa bahkan tak berani bergerak walau untuk sekedar melihat si pemilik tangan.


Tiba-tiba terdengar suara yang belakangan ini sering terdengar di telinganya.


"Katanya mau temenin aku jalan? Kok malah mau masuk kamar lagi?" ucap Riko dengan posisinya saat ini tepat berada di belakang Nisa.


Nisa memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Riko, menatap lelaki itu kesal. Bisa-bisanya mengagetkan orang hanya karena mengingatkan janji pergi bersama?


"Kamu ini gak bisa ya ngajak dengan normal? Jangan bikin jantungan gini!" omel Nisa kesal.


"Kamu dari tadi ngelamun aja, berdiri ngelamun, jalan juga sambil ngelamun, ya udah aku kagetin aja biar kamu gak terlalu banyak ngelamun," sahut Riko masa bodoh.


"Siapa juga yang ngelamun, dasar kamu sok tau," Jawab Nisa malas.


Riko tersenyum tipis mendengar elakkan dari Nisa.


"Kamu belum sehebat Amira dalam menyembunyikan perarasan Nisa," ucap Riko dalam hatinya.


"Ya udah yuk, ntar kesorean," ajak Riko lalu menarik tangan Nisa agar berjalan mengikutinya.


Nisa yang tak menyangka akan digandeng pun langsung berjalan mengikuti Riko dengan ekspresi bingung, tapi juga pasrah. Ya udah ngikut aja.


******


Amira dan Digo saat ini sudah ada di dalam pesawat. Tak pernah terpikirkan oleh Amira akan duduk dalam kabin pesawat berdua dengan Digo, laki-laki yang dicintainya.


Amira menyandarkan kepalanya di pundak Digo dengan tangannya yang digenggam erat oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu takut naik pesawat hmm?" Tanya Digo.


"Aku baru pertama kali ini naik pesawat kak, harusnya aku takut, tapi karena ada kakak di samping aku begini jadi gak kerasa takutnya," jawab Amira.


Digo mencium pucuk rambut Amira. "Kakak akan melindungi kamu dari apapun Mi, kamu adalah hidup kakak. Tanpa kamu kemarin, kakak bahkan gak tau apa yang menjadi alasan kakak tetap hidup."


Amira yang mendengar itu pun seketika merasa sedih. Ia merasa bersalah karena telah melukai hati laki-laki yang justru ingin ia bahagiakan.


"Maafin aku ya kak, aku kira aku bisa menciptakan kebahagiaan dengan caraku, tapi ternyata semesta punya cara untuk memberikan itu," ucap Amira menatap Digo.


"Mi, jangan menatap kakak begitu, karena kakak bukan lelaki yang kuat iman kalau lihat kamu terlalu dekat sama kakak begini," jawab Digo yang malah berpikir mesum.


"Ih lagi diajak ngomong serius malah mesum. Jadi nyesel tadi sempet ngerasa sedih," sahut Amira menepuk pundak Digo.


Digo tertawa karena berhasil menggoda wanitanya itu. Ia pun memeluk Amira dan mencium lagi rambutnya.


"Jangan marah dong sayang, kakak dengerin kok, cuma kalo kamu terlalu deket menatap kakak tu rasanya hati kakak berdebar hebat," jawab Digo menenangkan Amira.


"Bisa aja ngelesnya, dasar abang-abang mesum," sahut Amira tertawa.


"Iya sih, boleh gak kalo aku tarik lagi perasaan aku?" Ucap Amira berniat menggoda Digo.


"Nggak boleh, kalo kamu mau begitu kakak akan nikahin kamu besok Mi, masa bodoh dengan cita-cita atau kuliah kamu!" sahut Digo terlihat serius.


"Apaan sih kak, aku tuh cuma becanda sayang, ih serius amat," ucap Amira lalu tertawa.


"Dapetin kakak tuh gak gampang, gak mungkinlah aku lepas begitu aja, aku harus melalui airmata yang menyakitkan dulu untuk bisa duduk bersanding begini sama kakak," ucap Amira terdengar menenangkan Hati.


"Apalagi kakak Mi, demi perjuangin kamu kakak harus berkali-kali nahan sakit hati melihat kamu sama Riko, diacuhkan sama kamu, ditolak cintanya, dan terakhir malah ditinggalin lagi, kurang apa kakak dalam mencintai kamu Mi," jawab Digo membanggakan diri.


Amira memeluk Digo lalu bersandar pada bahunya. "Makasih ya kak udah perjuangin aku sejauh ini," ucap Amira lalu mencium punggung tangan Digo.


Digo melingkarkan tangannya pada tubuh Amira. Membuat wanitanya merasa nyaman dalam dekapannya.


"Harum tubuhnya yang selama ini aku rindukan, sekarang akan menjadi candu untukku," ucap Amira dalam hatinya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Pesawat Amira dan Digo terbang dalam waktu kurang lebih 1 jam 15 menit. Dan saat ini sedang landing di Bandara Soekarno Hatta.


Amira yang belum pernah naik pesawat itu pun merasa terkejut karena guncangan pesawat saat landing. Ia memggenggam tangan Digo erat untuk mengurangi rasa takutnya. Digo pun langsung memluk Amira.


"Nggak apa-apa sayang, cuma sebentar aja kok," ucapnya menenangkan Amira.


Amira menganggukkan kepalanya dalam pelukan Digo.


"Ternyata naik pesawat itu gak seindah video atau foto-foto, kenapa orang-orang suka sekali naik pesawat, aku malah takut," batin Amira.


Setelah proses landing yang cukup mengerikan bagi Amira, akhirnya saat ini ia dan Digo benar-benar telah menginjakkan kaki nya di Jakarta.


Amira menghirup dalam-dalam udara Jakarta yang sebenarnya panas dan penuh polusi sih, tapi setidaknya di kota inilah harapan serta mimpinya berasal.


Apalagi saat ini ada cintanya yang juga berada di kota Jakarta.


Amira melangkahkan kakinya dengan tak sabaran ketika ia turun dari taksi dan mendekati pagar rumahnya. Ia mengetuk pintu rumah yang telah lama sekali ia rindukan.


Digo dengan setia mengikuti langkah wanitanya itu sambil terus menggandeng tangannya.


Amira mengetuk pintu beberapa kali. Sampai akhirnya pintu rumah terbuka dan terlihatlah Bu Rani, mama nya Amira yang tampak terkejut melihat dirinya berdiri di hadapan sang mama.


"Amira," suara Bu Rani menggema ke seluruh ruangan, membuat si mbak dan ayah nya segera berjalan mendekati arah suara.


Bu Rani langsung memeluk rindu Amira. Dengan airmata yang berderai ia mengucap syukur karena Amira nya telah kembali.


"Mama seneng kamu kembali nak, mama tau kamu pasti akan kembali. Karena di tempat inilah hidup kamu, semua orang yang menyayangi kamu ada di sini," ucap Bu Rani disela tangisannya.


Tak lama berselang terlihatlah ayah dan juga si mbak yang tak kalah kaget dengan Bu Rani.


Ayah nya pun segera memeluk anaknya untuk melepas rindu. "Akhirnya kamu kembali nak."


Amira menangis mendapat pelukan dari ayah dan ibunya yang tak pernah lagi didapatkannya ketika di Yogyakarta.


Setelah berpelukan, ayah Amira menatap Digo yang saat ini berdiri di belakang Amira. Kemudian ia mendekati Digo lalu menepuk pundaknya. "Terima kasih telah membawa putriku kembali nak."

__ADS_1


__ADS_2