Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 46 Anniversary


__ADS_3

Hari itu, Lena mengajak Amira ke rumah Erwin, karena ia ngin memberi kejutan di hari jadi mereka yang ke 3 bulan.


"Lo tiap bulan ngerayain anniversary kaya gini Len?" tanya Amira sambil memandang Lena seolah tak percaya.


Lena menggeleng. "Ini perayaan pertama gue Mi, gue bermaksud mau ngerayain ini per tiga bulan," jawab lena sambil tertawa riang.


Amira hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


Udah mau umur 20 thun, tapi kenapa kaya umur 16 tahun saja pacarannya.


Lena sibuk menyiapkan bucket berisi cokelat dan beberapa tangkai bunga mawar merah yang menjadi penghiasnya.


Amira memperhatikan betapa semangat sahabatnya itu. Ia melamun memikirkan dirinya dan kisahnya.


"Seandainya aku juga bisa, aku ingin sekali membuat kejutan seperti itu kepada pasanganku.


Aku juga ingin merasakan cinta yang bersambut yang diiringi tawa bahagia dalam kisahnya," batin Amira.


Amira tersenyum getir. "Ya sudahlah, gak usah berharap karena yang saat ini mengelilingiku adalah cinta dan airmata."


"Nah akhirnya selesai juga," ucap Lena membuyarkan lamunan Amira. Lalu ia mengambil bucket buatannya itu dan menunjukkannya ke Amira.


"Gimana Mi? Bagus kan?" tanya Lena sambil mengangkat bucket nya.


Amira melihat sejenak bucket itu dan merasa kagum. "Gue ga nyangka lo bisa juga bikin itu Len."


"Iya dong," jawab Lena tersenyum bangga.


"Kita pasti bisa bikin sesuatu yang berharga untuk orang yang kita cintai."


Lena tersadar dengan ucapannya langsung menoleh ke Amira. Amira terlihat tertunduk mendengar perkataan Lena.


“Eh Mi, maaf gue ga bermaksud,” ucap Lena sambil memegang pundak Amira.


“Nggak apa-apa kok Len, apaan sih lo ini,” sahut Amira berusaha tersenyum.


“Ya udah yuk nanti lo kesiangan, tuh taksi online ny udah dateng,” ajak Amira dan segera beranjak dari sana.


Sementara itu, di rumah Erwin, Ia yang tak mengetahui rencana Lena mash bersantai di kamarnya dengan keadaan yang masih terlihat agak berantakan.


Tak lama bel rumahnya berbunyi, karena saat ini ia hanya sendirian di rumahnya, maka ia pun berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu.

__ADS_1


Ketika pintu dibuka Erwin terlihat sangat terkejut dengan yang datang mengunjunginya.


“Nisa?” ujarnya masih dengan ekspresi kaget.


Nisa tersenyum lalu mengangkat sesuatu yang ia bawa. “Hai Win, ini gue bawain makanan kesukaan lo.”


Erwin menerima martabak telor yang dibawa Nisa itu masih dengan perasaan tak percaya.


“Lo kok bengong sih Win, gue boleh masuk ga nih?” tanya Nisa masih dengan senyumannya


“Eh iya iya, masuk Nis, ya ampun gue masih berantakan gini,” jawab Erwin lalu masuk ke rumahnya dan diikuti Nisa.


“Sendirian aja Win?” tanya Nisa setelah masuk ke dalam ruang tamu milik Erwin.


“Iy gini lah, orang tua gue lagi pergi ke luar kota, paling besok atau lusa pulang.” jawab Erwin


“Ga usah repot-repot Win, ini aja ga apa-apa kok,” sahut Nisa sambil menunjukkan segelas air mineral yang ia ambil dari meja .


“Oke deh,” jawab Erwin sambil memperhatikan Nisa.


“Gimana kabar lo Win?”


“Gue baik nih dan makin ganteng kan?" canda Erwin disusul Nisa yang tertawa.


“Seperti yang lo liat, gue baik Win," sahutnya lalu meletakkan air mineralnya ke atas meja.


Erwin manggut-manggut menanggapi Nisa.


“Cuma hati gue lagi ga baik Win,” ucap Nisa lalu tertunduk.


Erwin merasa heran dengan perkataan Nisa. Ia melihat Nisa sambil mengerutkan dahinya.


“Ga baik gimana maksud lo Nis?” tanya Erwin masih dengan tatapan bingungnya.


Bersamaan dengan itu Amira dan Lena telah tiba di rumah Erwin. Mereka telah berdiri di balik pintu ruang tamu Erwin.


Berhubung Ruang tamu Erwin tidak begitu besar, jadi sangat mudah bagi orang yang berada di balik tembok untuk mendengar percakapan di dalam jika pintunya terbuka lebar seperti saat ini.


Amira menghentikan langkahnya dan meminta Lena agar sejenak mengikutinya untuk berhenti juga.


Mereka berdiri terdiam bermaksud ingin mendengar kata-kata yang sedang mengobrol di dalam. mendengar suara Erwin tadi, Amira yakin jika yang menjadi tamunya Erwin adalah Nisa, mantan kekasih Digo.

__ADS_1


“Nisa,” gumamnya dalam hati.


“Hati lo kenapa Nis?” tanya Erwin lagi.


Nisa menatap Erwin dengan tatapan sendunya. “gue.. gue pengen ketemu Digo.”


Seketika hati Amira langsung bergetar mendengar perkataan Nisa.


“Lo bisa nemuin gue sam Digo?” tanya Nisa dengan sorot mata yang penuh harap.


Erwin terdiam. Saat ini Digo sedang memiliki masalah hati dengan Amira. Jika ia membawa Nisa pada Digo apakah tidak menjadikan masalah yang ada bertambah besar?


Melihat Erwin terdiam, Nisa seperti mengerti. “Gue tau gue salah Win, gue tau mungkin Digo pernah terluka karena gue. tapi percayalah Win, gue saat ini jauh lebih terluka. Perasaan menyesal gue, dan rasa rindu yang bercampur jadi satu tiap hari nyiksa gue Win."


Erwin mendengar Nisa tanpa ekspresi. ia bingung harus menanggapinya seperti apa. Satu sisi Digo saat ini sedang berjuang menyatukan cintanya pada Amira, di sisi lain, dia ga tega melihat Nisa.


“Gue ga akan ganggu kok Win, kalo pun ternyata dia punya pacar baru setelah gue. Gue cuma mau liat dia aja. gue cuma..cuma…” Nisa menghentikan kata-katanya karena tak sanggup menahan airmata nya.


Erwin yang kaget melihat Nisa segera mengambil tissue untuknya.


Sementara Amira yang mendengar itu dari luar ikut meneteskan airmata.


“Pasti sakit sekali perasaan kamu saat ini Nis,” ucap Amira dalam hatinya.


Lena yang melihat Amira menangis pun mengusap-usap pundalk Amira.


“Nis ini tissue, jangan nangis ya, ya ampun Nis gue bingung klo lo nangis gini,” ucap Erwin yang panik.


Nisa mengambil tisu itu dan menghapus air matanya. “Gue cuma pengen ketemu sebentar aja Win, gue ga tau harus gimana lagi supaya gue ga merindukan dia. Gue nyesel Win, hari-hari gue terlalu sakit dengan rasa rindu ini, mungkin….. mungkin setelah itu gue akan pergi.... setelah gue liat dia,” ucapnya dengan terbata disela isaknya.


Nisa sampai tak mampu mengucapkan kata-kata yang benar. ia sudah tenggelam dalam kesedihannya. ia sungguh hanya ingin melihat Digio saja, melihat bagaimana dirinya sekarang, apakah ia bahagia, apakah ia hidup dengan baik. paling tidak, rindunya bisa terbayar.


Amira terus memegangi dadanya yang juga terasa sesak mendengar Nisa.


“Pasti rasanya sakit sekali ya? segitu besarnya rasa cinta kamu untuk Digo Nis?” tanya nya dalam hati yang pilu.


Amira menatap Lena dengan mata yang merah dan pipi yang basah. Ia menggelengkan kepalanya pelan menandakan ia tak mampu lagi untuk ada di sini.


Ia tak sanggup lagi mendengarkan Nisa meluapkan semua rasa sakit yang dipendamnya selama ini pada Erwin.


Ternyata Nisa begitu sakit sampai tak mampu lagi berkata-kata.

__ADS_1


Amira meninggalkan Lena seorang diri di depan rumah Erwin masih dengan linangan airmata


Lena terdiam sejenak kemudian langsung mengejar Amira tanpa suara.


__ADS_2