
Amira terus berjalan dengan airmata yang masih menghiasi wajahnya. Ini seperti dejavu. kala itu ia juga berlari dengan rasa sakit dan airmata seperti ini. Dan hal yang sama dengan hari itu adalah alasan kesedihan Amira.
Masih tentang masa lalu Digo yang menjadi penyebab hatinya patah saat ini. Amira yang telah keluar dari gang rumah Erwin segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan rumahnya.
Lena masih terus mengejar Amira, namun jalannya sangat lambat karena terkendala sendal high heels yang dikenakannya. Lena tak berani memanggil Amira karena khawatir suaranya akan terdengar oleh Erwin dan Nisa.
Lena telah berlari hingga sampai di pinggir jalan, namun tidak juga menemukan Amira. Ia merasa panik karena kehilangan jejak Amira. Tanpa pikir panjang Lena pun menelpon Digo. Diambilnya ponsel dari tasnya dengan susah payah, karena kedua tangannya penuh dengan bucket dan juga hadiah untuk Erwin.
Buru-buru Lena mencari nama Digo di dalam ponselnya.
“Ketemu,” pikirnya lalu langsung menekan tombol call.
Digo yang saat ini sedang berada di rumah mengangkat telpon yang berbunyi dari Lena itu. Walaupun merasa heran kenapa Lena menelponnya namun DIgo segera mengangkat telpon itu.
“Kak Digo,” tanpa salam atau sapaan terdengar suara panik Lena sari seberang telepon.
“Kenapa Len?” jawab Digo juga ikutan panik. Perasannya tidak enak mengingat Amira.
“Kak tolong cari Amira, dia tadi pergi dari rumah Kak Erwin..” ucap Lena yang terpotong karen Digo langsung buru-buru menjawab.
“Oke kakak berangkat sekarang,” jawab Digo sambil berdiri hendak beranjak, tanpa bertanya apa alasan Amira pergi, Digo hanya ingin menjemput Amira.
Namun dari seberang telpon terdengar Lena berteriak
“Tunggu kak, Amira pergi karena tadi di rumah Kakak Erwin ada Nisa, mantan kakak,” ucap Lena.
Digo yang mendengar itu tersentak kaget.
Amira bertemu Nisa?
Digo langsung mematikan telponnya dan bergegas pergi menyusul Amira. Dihidupkan mobil kesayangannya Kemudian segera tancap gas Digo melacak posisi Amira menggunakan GPS ponselnya. Ia kemudian memastikan titik dimana Amira berada dan segera mengarahkan mobilnya ke tempat itu.
“Mi sebenarnya apa yang kamu pikirkan Mi? Kenapa kamu menyiksa diri kamu sendiri dengan sikap dingin kamu?” batin Digo resah.
Sementara Amira yang bingung mau kemana, hanya mengikuti arah taksi membawanya.
“Mau kemana mbak?” tanya supir taksi yang bingung karena Amira tak menyebutkan arah tujuannya.
__ADS_1
Amira mengusap airmata nya. Ia memikirkan kemana sebaiknya ia berhenti. Tempat yang bisa ia jadikan persinggahan untuk melepas semua kesedihannya.
“Ke Taman kota pak. Tolong antarkan sya ke sana,” ucap Amira pada akhirnya.
Sang supir pun menganggukkan kepala dan segera memutar arah taksinya menuju ke tempat yang diminta Amira.
Sepanjang perjalanan Amira hanya menatap luar jendela sambil sesekali menyeka air matanya yang jatuh.
Ketika hatiku mulai terpaut, kenapa aku selalu tak bisa menjadi satu-satunya? kenapa aku selalu bukan pemenang dari kisahku?
Amira merenungi kisah cintanya yang seolah tak pernah mendukungnya.
Kenapa harus selalu seperti ini Tuhan?
Jika aku merelakan sekali lagi yang menjadi cintaku, akankah Kau memberikan kebahagiaan kepadaku?
Aku lelah
Taksi yang ditumpanginya pun berhenti. ia telah sampai pada tujuannya.
Amira kembali menyeka airmata nya kemudian mengambil beberapa lembar uang 50.000 dan diserahkannya kepada Pak Supir.
Sesuai dengan dugaannya, tempat itu saat ini sepi. hanya ada beberapa pekerja yang sedang membersihkan taman tersebut.
Amira duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman itu. Ia teringat saat Digo datang ke taman ini dan memeluknya. Ketika itu ia menangis karena melihat Riko bersama Desi.
Namun kali ini ia datang ke taman ini justru karena menangisi Digo. Menangisi cintanya untuk Digo.
Cinta yang lagi-lagi harus layu sebelum berkembang. Amira memejamkan matanya, merasakan desiran angin yang lembut menerpa wajahnya. berharap kesedihannya bisa hilang terbawa angin.
Ia lalu membuka matanya perlahan, karna lagi-lagi airmata nya jatuh tanpa permisi.
bahkan di saat ia menangis karena sakit hatinya dengan masa lalu Digo, ia justru merindukan kehadirannya.
“Kak Digo, bahkan dalam sakit ku aku masih mengingatmu kak. Kau yang biasa menjadi pelipur lara ku kini justru menjadi penyebab lara ku. Namun begitu, aku masih saja berharap kau datang dan memelukku saat ini."
"Aku yang terlanjur menjadikanmu rumah sebagai tempat berteduh ku dari duka, kini harus merelakan mu."
__ADS_1
Airmata Amira semakin jatuh berlinang.
Aku harus mulai darimana untuk menghapus perasaanku padamu kak? sedangkan perasaan ini baru aku temukan setelah aku tersesat dalam lembah hatiku. Aku harus mulai darimana?”ucap Amira dalam hatinya sambil menyeka airmata nya yang terus mengalir.
Mengapa semesta membuat hatinya terus bersembunyi? Bahkan impiannya saat ini terasa menyakitkan.
Tanpa Amira sadari, bahwa Digo saat ini berada di dekatnya.
Digo memarkirkan mobilnya tepat di area taman yang letaknya berada didepan sisi kiri Amira. Ia memutuskan untuk berada di dalam mobilnya, karena dari sini ia bisa memperhatikan Amira tanpa diketahui keberadaannya.
Digo yang sedari tadi memperhatikan Amira menangis, hanya diam tanpa melepas pandangannya dari Amira.
Sebenarnya ingin sekali rasanya ia menghampiri gadis itu, memeluknya, dan menyeka airmata nya seperti yang biasa ia lakukan.
Namun ia sadar, Amira menangis karena dirinya, karena cinta di masa lalunya, Amira pasti saat ini menolak kehadirannya seperti saat lalu.
Kenapa kamu selalu berlari ke arah yang berlawanan denganku Amira. Kenapa kau selalu menghindariku? Mengapa begitu sulit bagimu untuk melihatku?
Sejak mengenalmu bahkan hari-hariku berubah menjadi perjuangan mi. perjuanganku melawan egoku demi mendapatkan cinta kamu.
Mengapa begitu sulit bagimu untuk mencintaiku?
Mengapa kau selalu membuat cintaku hanya bisa menatapmu dari belakang?
Digo merenung dalam diamnya dengan mata yang terus tertuju pada Amira.
Tak bisakah semua ini menjadi mudah?
Selalu ada jarak yang membentengi dirinya dan juga Amira.
Alangkah indahnya jika saat ini ia bisa turun dari mobil dan menghampiri Amira lalu memeluknya.
Seperti kisah-kisah di drama korea bukan? Tapi sayangnya yang ia hadapi saat ini adalah Amira. Wanita yang hatinya begitu keras, bahkan pada dirinya sendiri.
Selain melihatnya dari jauh seperti saat ini, apalagi yang bisa dilakukan Digo?
Andai Amira tau, seberapa besar hancurnya Digo saat ini menahan semua hasrat di hatinya. tapi tak ada yang bisa Digo lakukan.
__ADS_1
"Sejak mengenalmu, hampir setiap hari aku bersahabat dengan luka, Amira. Meskipun aku tau sebesar apa aku hancur karena itu, aku tetap berlari ke arahmu."
"Walaupun aku tak tau bagaimana caranya membuatmu datang padaku. Aku tak pernah berfikir aku bisa melepaskan kamu Amira, “ batin Digo lirih.