Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab Pulang bersama


__ADS_3

Selesai ujian kimia konstektual, Amira masih ada satu ujian lagi yaitu Kimia Fisika. Setelah memastikan semua peserta sudah mengumpulkan kertas soalnya, Riko segera membereskan hasil ujiannya.


Riko melihat ke arah Amira yang saat ini sedang didekati Digo. Digo berdiri didepan kursi Amira lalu membungkukkan badannya, berusaha mensejajarkan dirinya dengan Amira.


“Kakak tunggu di luar ya Mi,” ucap Digo sambil tersenyum kepada Amira. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Amira.


Amira hanya terdiam dengan ekspresi heran menatap kepergian Digo.


Riko menatap tak suka kepada Digo ketika lelaki itu melewatinya. Kemudian ia melihat Amira yang matanya masih tertuju dengan Digo lalu berganti menatapnya.


Tatapan Riko seperti mengisyaratkan pamit bahwa ia akan keluar dari kelasnya.


Amira menganggukkan kepalanya samar, lalu Riko pergi meninggalkan ruangan.


Lalu dosen mata kuliah Kimia Fisika datang dan memulai ujiannya. Peserta mengikuti ujian secara tertib dan tenang selama 2 jam penuh.


Selesai ujian Kimia Fisika kelas dibubarkan karena itu adalah ujian terakhir pada hari itu


Sementara peserta ujian lain sudah mulai meninggalkan tempatnya, Amira terlihat masih duduk ditempatnya tanpa terlihat ingin beranjak, membuat teman-temannya berpandangan heran.


“Mi, lo ga mau pulang?”tanya ajeng yang berjalan menghampirinya bersama teman-temannya yang lain.


Amira hanya mengangkat bahu saja sambil memainkan pulpen yang berada di tangannya.


“Lo kenapa Mi?” tanya Tasya heran dengan tingkah sahabatnya itu lalu duduk di samping Amira.


Lena dan Ajeng pun menarik kursi di depan Amira untuk duduk menghadapnya.


“Gue ga apa-apa kok, cuma lagi pengen diem aja sebentar di sini,” ucap Amira sambil menatap ketiga temannya secara bergantian.


“Ya udah kita temenin deh sampe lo mau pulang,” ucap Ajeng.


“Nggak apa-apa Jeng kalo lo mau pulang, lo sama Tasya juga ga apa-apa kok, paling bentar lagi juga gue pulang,” jawab Amira meyakinkan kepada teman-temannya bahwa ia tidak apa-apa.


“Iya kita bentar lagi pulang, nunggu lo pulang dulu Mi, “ jawab Tasya.

__ADS_1


“Iya, masa kita biarin lo duduk di sini sendirian udah sepi gini lagi,” imbuh Lena.


“Emang lo ga dijemput sama Kak Erwin Len?” tanya Ajeng mengingat Lena ada janji hari ini dengan sang pacar.


“Gampang lah kak Erwin, lagian dia belum dateng juga kok Jeng,” sahut Lena sambil mengibaskan tangannya ke udara.


Amira jadi merasa tak enak kepada teman-temannya. Karena ia yang belum ingin pulang, yang lain malah ikut tidak pulang juga. Amira menghela nafas kemudian menatap sahabatnya satu persatu.


“Kalian ini ya, memang paling jago deh kalo maksa gue,” ucap Amira sambil tersenyum kecil.


Di tengah percakapan itu, terlihat Erwin datang ke kelas itu dan berdiri di pintu sambil menatap keempat gadis yang terlihat sedang berdiskusi itu.


“Pssssttt.. Len, Lena.. itu ada yang nungguin lo di pintu,” ucap Tasya dengan matanya yang mengarah ke pintu kelasnya.


Lena menoleh. “Yah kak Erwin udah di sini aja sih,” ucapnya sambil menggaruk leher yang tidak gatal.


“Ya udah gih sana pulang, kalian juga ngapain di sini, pulang sana,” sahut Amira sambil mengusir teman-temannya.


Lena dan yang lainnya berpandangan. Lalu lena melempar pandangannya ke Erwin. Terlihat Erwin sudah melangkah masuk menghampirinya.


“Kalian lagi pada ngapain?” tanya Erwin saat berjalan masuk ke arah Lena.


“Hei mi,” sapa Erwin kepada Amira sambil tersenyum ketika telah tiba di tengah-tengah gadis-gadis itu. Ia merasa agak canggung dan tidak enak pada Amira karena kejadian terakhir di rumahnya.


“Hai kak,” sapa Amira dengan senyuman kepada Erwin berusaha menetralkan suasana yang sedikit canggung itu.


“Belum mau pulang?” tanya Erwin


“Ini mau pulang kak,” jawab Amira yang akhirnya memutuskan pulang saja. Ia mulai memasukkan peralatan kuliah ke dalam tasnya.


“Digo nungguin kamu di luar Mi,” ucap Erwin sambil menatap Amira.


Amira langsung menghentikan aktivitasnya lalu mengalihkan pandangannya ke Erwin.


“Ohh hehe Kak Digo ya.. Hemm oke kak.” Amira tersenyum pada Erwin dan teman-temannya.

__ADS_1


“Ya udah kalo gitu kita pulang ya Mi, lo sama kak Digo kan ini?” ucap Tasya sambil berdiri.


Amira menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Tak lama ia pun ikut berjalan bersama teman-temannya keluar kelas.


Di depan kelas, terlihat Digo sedang duduk santai sambil mendengarkan earphone.


“Go, gue duluan ya,” ucap Erwin setengah berteriak kepada Digo sambil melambai-lambaikan tangannya.


Ajeng dan Tasya pun pamit kepada Amira karena ingin pulang mendahului Amira.


Digo menoleh dan langsung melihat sosok Amira yang telah berdiri di depan sana. Lalu ia melepaskan earphone nya.


Amira tertegun. Apakah sejak selesai ujian Kimia Konstektual Kak Digo menunggunya di situ?


Kemudian Digo melangkah mendekati Amira sambil tersenyum. “Pulang Mi?”


Amira masih menatap Digo dengan pandangan yang sulit diartikan lalu tertunduk. Amira sungguh bingung apakah ia harus pulang bersama Digo atau menolaknya?


Dalam hatinya ia tak rela menolak Digo lagi dan lagi, tapi jika bersama Digo akan semakin sulit untuk mulai melepaskannya.


Digo yang saat ini sudah berada di hadapan Amira mengusap lembut rambutnya. “Ditanyain kok malah diem sih Mi?”


Amira kembali menatap Digo. Kini mata hitam Amira bertemu dengan mata coklat Digo. Amira terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun tak jadi dilakukannya.


Melihat itu, Digo seakan mengerti.


“Mi, kakak cuma mau anter kamu pulang aja, ga lebih kok, kakak mau pastiin kamu aman sampe rumah,” ucap Digo masih dengan tangannya yang mengusap rambut Amira.


Amira menganggukkan kepalanya. Kemudian Digo dan Amira pun berjalan beriringan dengan pikirannya masing-masing


“Biarlah aku menikmati kebersamaan yang Tuhan tawarkan kepadaku sebelum aku memutuskan meninggalkannya. Meskipun mungkin akan lebih sakit ketika sosoknya tak lagi kutemukan di sisiku, setidaknya aku memiliki kenangan indah bersamanya yang bisa aku ingat ketika aku merindukannya,” batin Amira sendu.


“Sejauh apapun kamu berusaha untuk lari dariku Amira, kamu akan selalu menemukan sosok aku dalam duniamu. Tak peduli seberapa banyak aku bisa terluka karenamu, aku akan tetap mengikutimu,” batin Digo dengan sesekali menoleh ke arah Amira.


Riko yang sedang berjalan menuju ruang dosen untuk memberikan lembar ujian tadi, saat ini melewati ruang kelas yang tadi digunakan Amira ujian, tak sengaja melihat Digo dan Amira.

__ADS_1


Ia berhenti sejenak memperhatikan mereka berjalan. Seperti ada bahasa kalbu yang tak terucap di antara keduanya.


“Amira apakah semestamu saat ini bukan lagi aku?”batin Riko lirih menatap kepergian mereka menjauh dari pandangannya.


__ADS_2