Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 17 Kamu satu-satunya


__ADS_3

Pagi itu Amira sedang siap-siap untuk berangkat ke kampus karena ada kuliah Kimia Konstektual jam 08.00 pagi.


Amira merasa tak semangat kuliah hari ini, mengingat ia akan bertemu dengan Riko. Amira seperti sudah menebak apa yang akan dibicarakan oleh kakak tingkatnya itu.


Belum apa-apa Amira sudah mau menyerah terhadap Riko.


“Nyiapin mental buat patah hati susah juga ya,”ucap Amira pada diri sendiri.


Tak berapa lama, Amira pun sudah siap dan pamit kepada ibunya.


Tiba-tiba ia kaget melihat di depan pagar rumahnya ada sosok Digo yang sedang duduk di atas motor sambil menghirup rokok dengan santainya.


“Kak Digo,” sapa Amira kaget.


Digo langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Amira.


"Eh Ami, udah siap Mi?” tanya Digo.


Amira terlihat kebingungan dengan pertanyaan Digo yang seolah mereka sedang janjian berangkat bersama.


Padahal kemarin seingat Amira, mereka tidak pernah janjian untuk bertemu lagi.


“Eh udah kak, kakak ngapain di sini?” tanya Amira balik sambil berjalan menghampiri Digo.


“Ya jemput kamu kuliah lah, kita kan ada kelas bareng hari ini,” jawab Digo santai.


“Oh gitu ya,” jawab Amira canggung.


“Kakak cuma khawatir aja nanti kamu lupa lagi bawa uang untuk naik angkot kayak kemaren,” goda Digo pada Amira membuat Amira tersenyum kikuk.


“Nah gitu dong senyum, walaupun senyumnya kecut,” tambah Digo lagi.


“Apaan sih kak,” jawab Amira.


“Ya udah yuk naik, nanti telat,” ajak Digo.


Amira tak bisa menolak karena tak tega pada Digo yang sudah sampai depan rumahnya dan entah dari jam berapa menunggunya di situ.


Apalagi mengingat kemarin Digo sudah sangat peduli terhadapnya.


Sesampainya mereka di kampus, seperti biasa mereka disambut oleh Andi dan Irwan yang tengil itu.


“ahh cie cie cieee, ada putri dan pangeran berkuda nya dateng,” ucap Andi sambil tertawa lebar, membuat beberapa orang termasuk teman-teman Amira menoleh ke arah mereka.


Digo tersenyum senang melihat itu, sedangkan Amira wajahnya sudah memerah karena malu. Amira langsung mengucapkan terima kasih kepada Digo dan buru-buru meninggalkan Digo agar tak bertambah gosip menyebalkan.


Tapi kemudian Digo memanggil dan menarik tangan Amira dengan pelan.


“Kakak ga mau liat kamu nangis lagi Mi, setelah ini kakak akan selalu melindungi kamu bahkan dari airmata kamu sendiri,” ucap Digo lembut namun penuh dengan keseriusan.


Amira yang tak tahu harus menjawab apa hanya terdiam. Dalam hatinya ia ingin bisa mencintai lelaki di hadapannya ini, namun kenyataannya hatinya masih tertuju pada Riko.


"Ahh begitu rumitnya cinta ini," batin Amira miris


Digo melepas tangan Amira tanpa jawaban dari gadis itu.


Amira pun berjalan ke dalam kelasnya.


“Mi, lo ga apa-apa?” tanya Ajeng khawatir.

__ADS_1


Sepertinya Ajeng sudah menceritakan kejadian kemarin pada teman-temannya, sehingga mereka tak banyak bertanya pada Amira.


“Ini tas lo kemaren gu bawain Mi,” ucap Ajeng lagi.


Amira menoleh ke arah Ajeng dan tersenyum lirih.


Thanks ya Jeng,” jawabnya.


Selesai Perkuliahan Amira menceritakan pada teman-temannya tentang janjinya bersama Riko hari ini.


“Lo yakin siap mau ketemu kak Riko mi setelah kejadian kemarin?” tanya Lena.


Amira mengangguk.


“Gue pengen tau sebenernya kak Riko tu masih punya pacar atau ga, dan kalo iya, kenapa dia masih deketin gue,” jawab Amira.


“Iya juga sih, gue juga heran kenapa ya ?" tanya Tasya


"Entahlah, makanya ini gue mau nanya sekalian,” jawab Amira.


“Ya udah gue pergi dulu yak ke Café Dahlia,” pamit Amira pada teman-temannya.


Sesampainya Amira di Café tersebut, dia tak melihat keberadaan Riko.


“Kak Riko ini katanya mau ketemu di sini, tapi bahkan sekarang aja dia telat dateng,” ucap Amira kesal.


Amira memilih duduk di kursi paling pojok yang terlihat kosong.


Sambil duduk menunggu, Amira membuka ponsel nya bermaksud untuk mengirim pesan kepada Riko menanyakan keberadaannya.


Tiba-tiba dari panggung terdengar suara yang familiar buatnya.


Amira menoleh ke arah suara dan kaget saat melihat Riko sudah ada di atas panggung.


Riko menatap Amira lalu tersenyum, dan mulai mendendangkan lagunya.


Tenanglah.. Kekasihku..


ku tahu hatimu menangis..


beranilah.. Tuk percaya semua ini pasti berlalu


Meski tak kan mudah


namun kau tak kan sendiri


aku ada disini


Untukmu aku akan bertahan


dalam gelap takkan ku tinggalkan


engkaulah teman sejati kasihku


di setiap hariku


Untuk hatimu ku akan bertahan


sebentuk hati yang ku nantikan

__ADS_1


hanya kau dan aku yang tau


arti cinta yang tlah kita punya


Begitulah lagu yang dinyanyikan oleh Riko sambil terus menatap ke Amira.


Amira terdiam, tak tahu harus senang atau sedih mendapatkan lagu itu dari Riko.


Riko yang telah selesai bernyanyi, menyudahi lagunya dan pamit undur diri dari atas panggung.


Kemudian Riko berjalan menuju meja Amira.


“Mi,” sapa Riko saat sudah duduk di kursi depan Amira.


"Jadi? Kakak mau jelasin apa?" tanya Amira tanpa basa basi.


Riko menunduk, kemudian kembali menatap Amira.


"Ami denger lagu tadi kan? Kakak mohon Ami tetap bertahan ya apapun yang akan kakak ceritakan ke Ami," ucap Riko sendu.


Amira tak menjawab. Bahkan untuk mengerti hatinya sendiri saat ini saja sepertinya ia sudah kehabisan tenaga.


Kemudian Riko mulai menjelaskan kenapa ia masih bertahan dengan Desi kepada Amira secara lengkap.


Dari mulai dia tidak merasa cocok ketika awal berpacaran dengan Desi hingga kejadian mereka putus dan sampai saat ini.


“Ya tapi kan tetep ga bisa dong kakak deketin aku kalo kakak masih pacaran walaupun keadaan kakak sama mba desi kayak gitu. Karena orang lain ga ada yang tau kak masalah dalam hubungan kalian,” jawab Amira.


“Temen-temen deket kakak tau Mi, bahkan mereka tau kalo kakak tu sayang sama kamu,” jawab Riko.


“Ga bisa kak, kita ga bisa punya hubungan kalo kak Riko aja masih sama perempuan lain,” jawab Amira.


Riko memegang tangan Amira


“Mi, kakak sayang kamu, kakak bener-bener sayang sama kamu, kamu satu-satunya di hati kakak.


Sebelum ini ga pernah ada, bahkan Desi sekalipun,” ucap Riko.


“Kamu buat kakak bahagia setiap hari tanpa alasan Mi, kakak ga bisa hilangin rasa ini ke kamu, tolong jangan tinggalin kakak ya,” ucap Riko lirih.


“Tapi gimana sama Desi kak, gimana sama aku? Kakak ga bisa jalan dengan 2 perempuan sekaligus kan?"jawab Amira.


“Kakak janji akan selesain masalah kakak sama Desi, tapi kamu jangan tinggalin kakak ya Mi,” pinta Riko.


“Sementara biar kita begini dulu sampe kakak selesain sama Desi ya,” ucap Riko.


Amira terdiam, entah kenapa dia tidak bisa menolak Riko saat ini.


“Aku ga bisa janji kak, aku ga mau jadi orang ketiga,” jawab Amira.


“kakak akan selesaikan secepatnya ya Mi, tolong tetap di sisi kakak,” ucap Riko lagi sambil memegang tangan Amira.


Amira benar-benar seperti ingin menghilang saja ditelan bumi saat itu.


Ingin menangis namun ternyata airmata pun enggan menetes.


Sesak, sakit dalam hati tapi lagi dan lagi Amira tak bisa melakukan apapun untuk membela dirinya dari kenyataan ini.


Tidak ingin menjadi orang ketiga, tapi hati tak rela melepas Riko.

__ADS_1


Sungguh perasaan yang menyiksa dan menguras emosi.


__ADS_2