
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, perkuliahan hari ini pun telah selesai.
Ponsel Amira bergetar menandakan ada pesan masuk. Amira segera membukanya.
“Kakak tunggu kamu di halte ya Mi,” begitulah isi chat yang diterima Amira dari Riko.
Amira senang mendapat pesan dari Riko, dia juga tak masalah jika Riko menunggunya di halte bukan menjemputnya di kelas.
Ia tak pernah berfikir apakah ada alasan lain dia dijemput oleh Riko di halte, bukan di gedung tempatnya berkuliah.
“Ahh daripada bikin heboh,” pikir Amira.
Amira mengira Riko menjemputnya di halte karena sepemikiran dengannya, karena tak mau membuat heboh anak-anak yang lain, bukan karena maksud lainnya.
Amira segera membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru.
“Buru-buru amat sih Mi, tumben,” tanya Ajeng.
“Udah sore Jeng gue pengen cepet pulang, capek banget kayaknya gue hari ini,” jawab Amira.
Amira memang sengaja merahasiakan rencana pulang barengnya dengan Riko sore ini kepada sahabat-sahabatnya.
“Ya udah gue duluan ya guys, gue juga mau ngerjain laporan,” ucap Amira sembari berpamitan kepada teman-temannya.
“Oke, hati-hati dijalan,” jawab ketiga sahabatnya itu.
Sementara Andi dan Irwan yang kepo dan juga bertugas menjadi mata-mata Amira untuk Digo mendekati Tasya Ajeng dan Lena.
“Amira mau kemana tuh? Buru-buru amat,” tanya Irwan.
“Ya mau pulang lah, kan udah sore Wan,” sahut Tasya.
“Gue ga yakin, kali aja dia mau main tapi ga ngajak kalian hahaha,” ucap Irwan terlihat menyebalkan.
“Ya biarin aja lah orang udah sore juga, mau kemana juga kita ya kan Len, Jeng,” jawab Tasya tak peduli.
“Dah ah yuk kita pulang guys,” Ajeng mengajak temen-temennya.
“Duluan ya Andi dan Irwan,” pamit Lena.
“Hmmm.. hati hati dijalan,” jawab Andi
Andi mengeluarkan ponselnya dan segera mengetik pesan.
__ADS_1
“Amira tadi buru-buru pulang kak, ga sama temen-temennya,” ketikan Andi yang berhasil ia kirimkan ke Digo.
Digo yang sedang duduk bersama Riski membuka pesan itu.
“Amira pulang duluan, tumben,” gumam Digo.
“Kenapa go? Amira udah pulang?” tanya Riski.
“Iya tapi buru-buru dan ga sama temen-temennya,” jawab Digo.
Digo dengan cepat meraih ponselnya dan menghubungi Erwin.
Terdengar nada sambung lagu munajat cinta.
“Kenapa Go?” jawab suara dari seberang telepon.
“Win, lo lagi dimana?" tanya digo pada Erwin.
“Gue baru aja dari minimarket depan ini mau balik kampus,” jawab Erwin.
“Lo ke halte sekarang ya Win, liat ada Amira ga di sana,” perintah Digo pada Erwin.
“Oh oke oke gue otw sekarang,” jawab Erwin tanpa banyak bertanya dan langsung menutup telpon nya.
“Tadi siang Amira dan Riko ketemuan di taman belakang Gedung C, kalo dugaan gue bener, Amira mungkin diajak pulang bareng sama si Riko. Tapi Riko ga mungkin berani untuk pulang bareng di jurusan kan? Pasti akan nunggu di halte,” jawab Digo beranalisis.
Riski manggut-manggut mendengar penjelasan Digo.
“Kalo sampe Riko berani kayak gitu namanya kurang ajar Go, kita kasih perhitungan aja deh, dia kan udah punya pacar, apa maksudnya deketin cewek lain, cewek yang lo incar lagi,” ucap Riski.
“Gue ga mau ribut apalagi harus berantem gara-gara cewek, tapi gue akan lakuin sebisa gue dan dengan cara gue untuk dapetin Amira tanpa harus main tangan ngehajar orang. Gue ga akan ngebiarin Amira jatuh ke tangan Riko,” jawab Digo.
“Oke gue dukung deh gimana juga,” sahut Riski.
Sementara itu Erwin yang sudah sampai di halte melihat sekeliling mencari keberadaan Amira.
Namun dia tak menemukan sosoknya dan malah melihat Riko yang sedang duduk di motor dekat halte dengan helm nya.
"Lah ngapain Riko di situ ya?” pikir Erwin
Belum juga terjawab pertanyaan Erwin, terlihat sosok Amira yang baru saja datang menghampiri Riko.
“Maaf kak, udah lama nunggu?” tanya Amira kepada Riko.
__ADS_1
“Belum kok, baru 5 menit,” Jawab riko dengan tersenyum lebar.
“Oh maaf ya kak, aku tadi soalnya menghindari temen-temen dulu supaya ga ditanya-tanya,” jawab Amira merasa bersalah.
“Ga masalah Amira, yuk naik,” Ajak Riko.
Amira pun menaiki motor Riko sambil memakai helm yang diberikan oleh Riko.
Mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata Erwin yang mengawasi mereka hingga mereka tancap gas.
Erwin langsung menelpon Digo dan menceritakan apa yang dilihatnya dan juga yang didengarnya barusan.
Digo menutup telepon dan meringis kesal.
“Amira, lo ga minta maaf ke gue karena gue udh nunggu lo satu setengah jam tadi pagi, tapi lo merasa bersalah dan meminta maaf ke Riko cuma karena dia nunggu lo 5 menit? Apa ini adil?? Segitu baiknya Riko di mata lo Mi?” ucap Digo setengah berteriak membuat Riski kaget namun mengerti kenapa Digo marah.
Riski yang bingung harus gimana menghadapi kemarahan Digo akhirnya hanya diam memperhatikan sahabatnya itu.
“Kenapa gue ngerasa rendah gini di depan Amira, belum pernah ada cewek yang perlakukan gue kayak gini. Dia mengabaikan gue yang nungguin dia satu setengah jam sementara dia merasa bersalah ke Riko yang nungguin dia bahkan ga sampe 10 menit,” geram Digo lagi pada Riski.
Digo memang tak pernah dibuat menunggu oleh wanita. Biasanya Wanita lah yang dibuat menunggu oleh Digo, bahkan jika mood Digo jelek, dia meninggalkan mereka begitu saja.
“Gue rasa Amira emang udah jatuh cinta sama Riko Go, makanya sikap dia ke Riko begitu,”ucap Riski ragu-ragu.
Digo menatap Riski sesaat lalu pandangannya dialihkan lagi ke depan sambil berfikir.
“Hahahaha,”Digo tertawa kecil.
“Amira cuma belum tau aja cinta itu gimana, dia masih labil, dia belum bisa ngerti hatinya sendiri,” jawab Digo pada Riski.
“Nanti akan ada saatnya dia ngerti apa itu cinta,” tambah Digo.
“Kalo soal Riko gimana Go?"tanya Riski.
“Riko tau Amira suka sama dia, makanya dia manfaatin kesempatan ini deketin Amira,”jawab Digo.
“Tapi gue juga ga pernah liat Riko deketin cewek selama dia sama Desi go, gue rasa si Riko juga emang suka sama Amira, dan dia manfaatin kesempatan ini dengan deketin Amira, karena dia tau Amira juga suka sama dia untuk bisa diterima Amira,” ucap Riski.
“Walaupun Riko emang sayang beneran sama Amira, tapi gue ga suka cara Riko yang deketin Amira saat dia masih sama pacarnya,”jawab Digo sambil mengatupkan rahangnya.
“Harusnya dia bisa tegas ke Desi kalo memang dia mau sama Amira, bukan malah deketin Amira tapi masih berhubungan sama Desi,” ucap Digo lagi.
“Kalo Riko putusin Desi dan baru deketin Amira, lo setuju dan restuin mereka?” tanya Riski agak meledek.
__ADS_1
“Enggak. Gue tetep akan dapetin Amira, gue ga mau kehilangan orang yang gue sayang lagi untuk kedua kalinya” ucap Digo mantap.