
Jam kuliah telah selesai, soal dan lembar jawaban juga sudah dikumpulkan.
Amira sedang membereskan barangnya, namun dikejutkan dengan suara Ajeng. “Mi lo serius udah pernah ketemu dengan Nisa?” tanya ajeng.
“Iya,” jawab Amira singkat sambil memasukkan peralatan belajarnya ke dalam tas.
“Kapan? Dimana? Kok lo ga pernah cerita sma gue?” tanya Ajeng.
“Udah lama waktu gue pergi sama Tasya,” jawab Amira malas.
Tasya yang mendengar percakapan kedua sahabatnya itu pun ikut menyahut,” Lah kapan itu Mi?”
Amira langsung menoleh Tasya dan melotot. “Waktu elo beli tas Tasyaaaa, di mall itu dan waktu itu gue bilang habis ketemu cewek yang wajahnya mirip sama gue, inget ga lo?” jawab Amira kesal.
“Ohh iya iya, gue inget, ya ampun jadi mantannya Kak Digo itu cewe itu? Ah tapi gue ga ketemu sih waktu itu,” sahut Tasya
sambil menunjuk-nunjuk udara.
“Emang semirip itu mi?” tanya Ajeng penasaran
“Ya ga mirip banget sih, cuma kalo sekilas emang mirip jeng, tapi hidung dia lebih mancung dikit hehe,”jawab Amira mendeskripsikan.
“Eh ngomong-ngomong si Lena kemana?” tanya Amira baru menyadari satu personilnya hilang.
“Lah iya kemana tuh anak?” tanya Ajeng heran.
“Tadi sih dia bilang sama gue selesai kuliah mau jalan sama kak Erwin, katanya sih mau nonton. Tapi gue ga nyangka aja kalo dia langsung ngilang kaya gini,” sahut Tasya menjelaskan.
**********
Sementara itu Lena baru saja tiba di café dekat kampus. Dia hari ini janjian dengan Erwin untuk bertemu. Padahal Erwin sudah menawarkan untuk menjemput Lena tapi Lena malah mengajak ketemu di café langsung saja.
Lebih praktis, begitu katanya.
“Hai kak udah lama nunggu?” tanya Lena ketika melihat Erwin sedang duduk sendiri.
“Eh sini Len,” sahut Erwin sambil melambaikan tangannya.
“Baru selesai kuliah?” tanya Erwin.
“He’em," jawab Ajeng singkat sambil manggut-manggut.
“Eh iya aku tadi kan kuliah kimia dasar, pak Henry ga bisa masuk, terus yang ngajar ganti jadi asisten dosennya,” ucap Lena menggantung.
“Asisten dosen?” tanya Erwin menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
“Riko?” ucapnya lagi.
Lena hanya mengangguk.
“Terus dia ganggu Amira?” tanya Erwin lagi.
“Ya enggak sih kak, cuma aku kaya kasihan aja gitu ngeliat kak Riko, kayaknya wajahnya sendu banget kalo dia lagi liat Amira,” jawab Lena.
“Kenapa ya, orang sama-sama sayang tapi ga bisa bersatu, kadang suka kasian,” ucap Lena lagi.
“Jadi kamu ngedukung amira sama Riko nih bukan sam Digo?” tanya Erwin.
“yY enggak sih, cuma kadang suka kasian aja liatnya kak, Amira nya juga gitu, suka sedih kalo liat Kak Riko. Kadang seneng, kadang sedih, heran deh,” jawab Lena.
"Tapi lebih banyak sedihnya sih" tambahnya sambil tersenyum kikuk.
“Kalo sama hubungan kita, kamu heran ga?” tanya Erwin.
“Hahh? Maksud kakak?” tanya Lena tak mengerti.
“iyAa, hubungan kita Len, emangnya hubungan kita ini apa?” tanya Erwin.
Lena terdiam. Ia memutar kedua bola matanya memikirkan jawaban yang mungin cocok.
Tiba-tiba Erwin memegang tangan Lena. “Len, mungkin kakak ga romantis, atau ga bisa setangguh Digo dalam memperjuangkan cintanya. Tapi dengan ini, kakak mau kamu tau, kalo kakak sayang sama kamu, kaka mencintai kamu Len,” ucap Erwin sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
Ia lalu membuka kotak tersebut, dan mengambil sebuah cincin permata berbalut emas putih.
Lena sangat terkejut dengan yang baru saja terjadi.
“Boleh kakak pakaikan cincin ini ke tangan kamu?” tanya Erwin.
Lena tidak langsung menjawab, matanya malah berkaca-kaca. Apakah ini mungkin? Apakah ini bukan mimpi?
“Len? Kakak ga mau berjanji tapi kakak akan berusaha untuk buat kamu bahagia Len, asalkan kamu ada di sisi kakak dan jangan pergi meninggalkan kakak,”ucap Erwin yang tengah harap-harap cemas menunggu jawaban dari Lena.
“Sejak kapan kakak punya perasaan ini?” tanya Lena.
“Kakak ga tau, sejak kita deket dan kakak mengenal kamu lebih jauh, kakak sadar kalau kamu itu berarti banget buat kakak.
Apalagi dengan ngeliat kisah Digo Amira, kakak berfikir ke kamu, gimana caranya kakak bisa memiliki kamu dan bahagiain kamu,” ucap Erwin.
“Tapi aku ga mirip sama mantan kakak kan?” tanya Lena.
Erwin mengerutkan dahinya. “Mantan? Ya enggak lah Len, mantan kakak mana ada yang mirip kamu. Kok pertanyaan kamu aneh-aneh aja sih, ga bikin suasana romantis banget,” jawab Erwin heran.
__ADS_1
Lena tersenyum sebentar. “ya nggak apa-apa. Denger kakak menyatakan perasaan kaya gini dan ngejelasin gimana kakak sayang sama aku, aku bahagia banget kak, jadi selama ini perasaan aku berbalas, ga bertepuk sebelah tangan. Tapi..” Lena berhenti berkata.
“Tapi kenapa?” tanya Erwin
“Tapi aku jadi inget Amira,” jawab Lena.
“Kok jadi Amira?” tanya Erwin bingung.
“Iya, harusnya kan Amira bisa buka hati untuk Kak Digo daripada dia harus nungguin kak Riko yang ga tau kapan bisa ngasih kejelasan. Tapi jangankan membuka hati, untuk mulai menyukai kak Digo aja Amira takut,” jawab Lena.
“Loh kok takut? Takut kenapa?” tanya Erwin yang masih memegangi tangan Lena dan sebelah tangannya memegang kotak cincin.
“Ya karena dia mirip sama mantan pacarnya kak Digo, jadi sebanyak apapun Kak Digo nunjukkin rasa sayangnya ke Amira, aku rasa dia susah untuk nerimanya kak, dia sih bilang kaya selalu ngerasa jadi bayang-bayang,” jawab Lena menjelaskan.
Erwin memutar bola matanya, mencoba mencerna perkataan Lena.
“Tunggu, jadi Amira udah tau kalau dia mirip Nisa? Tapi darimana?” tanya Erwin.
“Dari Andi sama Irwan waktu itu,” sahut Lena.
“oke nanti kita bicarain lagi soal itu ya Len, kamu ini gimana sih kan kakak ini lagi menyatakan perasaan kakak ke kamu, kok kamu malah bahas orang lain,” ucap Erwin kesal.
“Ngilangin suasana romantis aja,” imbuh Erwin dengan wajah cemberut.
Melihat itu Lena tertawa. “Maaf.. maaf kak aku ga bermaksud hehehe,” sambil mengambil kotak merah di tangan Erwin.
“Nih pakein,” ucap Lena lalu menyodorkan tangannya ke Erwin.
Erwin merasa senang sekali, ia langsung memasukkan cincin ke jari manis Lena lalu menciumnya.
“Kakak mencintai kamu Len, terima kasih sudah mau menjadi bagian dari hidup kakak,” ucapnya penuh haru.
“Aku juga makasi sama kakak karena udah mau mencintai aku yang ga seberapa ini,” jawab Lena terlihat bahagia.
“Ga seberapa gimana sih? Kamu itu lebih seberapa tau,” jawab Erwin.
“Lebih seberapa?” tanya Lena sambil berfikir.
“Ih kok lebih seberapa sih berati aku gendut dong,”ucapnya lagi sambil mengerucutkan bibirnya.
Erwin tertawa melihat tingkah kekasih barunya itu.
”Enggak sayang, kamu ga gendut kok, kamu cantik dan sempurna, terutama di mata aku,” jawab Erwin sambil mengusap-usap pipi Lena gemas.
“Ihh dasar gombal,” jawab Lena tersipu malu.
__ADS_1