
"Aaarrrggggg...." Teriak mereka sambil berlari menghindari Putri Amelia dan kedua temannya. Putri Amelia yang merasa bingung langsung menggaruk-garut kepalanya tidak mengerti.
"Ada apa ini kenapa mereka ketakutan melihat kita..." Bisik Putri Amelia kepada kedua temannya. Sisil dan ruby pun dengan kompak langsung menggelengkan kepala mereka. Tapi tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang juga berlari ketakutan melihat mereka. Sisil dan ruby pun mencoba mengejar namun dihentikan oleh Putri Amelia.
"Jangan dikejar biarkan saja. Kalau kalian mengejar seperti itu yang ada mereka malah bertambah takut." Ujar Putri Amelia lagi.
Sisil dan rubi pun langsung menghentikan aksi mereka mengejar salah satu penduduk tersebut. Tapi tiba-tiba seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa mendekati mereka dan menarik-narik pakaian yang dikenakan oleh Putri Amelia dengan pelan.
Dan dengan segera Putri Amelia langsung mengarahkan pandangannya ke arah anak tersebut. Anak itu berpenampilan seperti pengemis dan tak terurus, badannya juga terlihat kurus Tak terawat sama sekali. Melihat hal itu Putri Amelia langsung berjongkok dan sejajarkan tinggi dirinya dengan sang anak.
"Adik. Ada apa..??" Tanya Putri Amelia tanpa membuka cadarnya.
Anak tersebut pun langsung menatap kedua bola mata Putri Amelia kemudian tersenyum. Seolah ia bisa merasakan bahwa mereka bukanlah orang yang berbahaya. Karena tidak ada respon dari sang adik Putri Amelia kembali mengulang pertanyaannya.
"Apa yang terjadi di Desa ini dek..??" Tanya Putri Amelia kepada anak itu. Anak itu pun mendadak senyumnya menghilangkan kemudian mulai menjawab.
'Kakak cantik. Desa kami setiap sore selalu didatangi oleh para perampok yang akan memporak-porandakan desa kami dan juga menghancurkan rumah-rumah kami. Karena itu kami semua ketakutan." Ujar anak tersebut seolah mengadu kepada Putri Amelia.
__ADS_1
Putri Amelia yang sudah mulai mengerti dengan duduk permasalahan yang ada di desa ini, mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali melihat kedua pelayannya itu.
"Oh.. jadi begitu ceritanya. Para warga berlarian menjauhi kami karena berpikir bahwa kami adalah orang jahat begitu ya..??" Tanya Putri Amelia dengan lembut kepada anak itu. Anak itu pun langsung menganggukkan kepalanya. Putri Amelia pun langsung tersenyum di balik cadarnya walaupun tak terlihat.
"Kalau begitu adek bisa tenang. Kami bukanlah orang jahat, kami ke sini ingin mencari makan, karena beberapa hari kami berpetualang dan belum mengisi perut kami dengan makanan." Ujar Putri Amelia berbohong namun tidak sepenuhnya hal itu bohong. Karena pada dasarnya mereka tidak kelaparan berhari-hari, mereka selalu saja mengisi perut mereka hanya saja saat ini kondisinya berbeda.
"Apakah benar seperti itu kakak cantik.." tanya bocah itu lagi berusaha meyakinkan diri bahwa mereka bukanlah orang jahat. Putri Amelia pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya benar. Kalau begitu maukah adik menunjukkan kepada kami di mana rumah makan di tempat ini..??" Tanya Putri Amelia lagi.
Anak itu pun langsung mengganggu dan dengan sikap menuntun ketiganya untuk mencari rumah makan yang ada di sana. Sementara para warga yang ada di sana sudah mulai deg-degan dan menyelamatkan harta benda mereka yang masih tersisa.
"Tuan tuan.. kami sudah tak memiliki apapun lagi untuk kalian jarah.. mohon jangan buat Desa kami kembali porak-poranda." Ujar salah seorang kakek-kakek yang berbicara tertatih-tatih memohon kepada mereka. Putri Amelia yang mendengar permohonan itu mendadak merasa iba dan berjalan mendekat.
"pak tua. kami bukan orang jahat. Kami ke sini karena ingin mampir ke desa ini untuk sekedar beristirahat dan mencari makanan. Memangnya apa yang terjadi di Desa ini." Tanya Putri Amelia lagi.
Walaupun anak kecil tadi telah menjelaskan sebenarnya yang terjadi, namun tetap saja Putri Amelia ingin mendengarkan penuturan dari orang dewasa. Mendengar penuturan Putri Amelia sebagian para warga bernafas lega karena nyatanya mereka bukan orang yang sama, tapi tetap juga masih ada orang yang bersifat waspada.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu nona.?? Desa Kami berbulan-bulan selalu didatangi kelompok perampok yang akan menjarah harta benda kami. Bahkan mereka dengan senang hati menculik anak-anak gadis kami dan menganiaya mereka. Bahkan tak sedikit anak-anak kami di bawah pergi dari Desa kami. Sungguh Nona kami sangat ketakutan saat ini." Ujar kakek tersebut mengubah panggilannya kepada Putri Amelia setelah mendengar suara Sang Putri Yang ternyata seorang perempuan.
Putri Amelia yang dahulunya berwajah ramah dan bersahaja mendadak memberikan ekspresi dingin setelah mendengar penuturan itu. Satu hal yang harus diketahui bahwa Putri Amelia sangat membenci kaumnya diperlakukan tidak manusiawi seperti itu.
"Apakah para kelompok pembuat onar itu datang setiap hari Pak tua..??" Tanya Putri Amelia lagi Yang sepertinya berniat akan membantu desa tersebut. Tentu saja, selagi dia masih mampu ia akan memberikan bantuan sebisanya. Pak tua itu pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Bener nona, biasanya mereka akan datang tiap sore hari untuk membuat keributan, itu akan terjadi setiap hari nona." Adunya. Putri Amelia mengepalkan kedua tangannya.
"Pak kepala desa. Ketiga kakak cantik ini lapar dan ingin cari makan." Ujar anak itu menengahi obrolan mereka.
Semua pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah sang bocil. Putri Amelia sendiri mengusap lembut kepala bocah tersebut. Sementara kepala desa itu langsung memberikan tatapan sayu dan menyesal.
"Maaf nona. Desa kami memang sangat ramai di kunjungi. Tapi, tak ada seorang pun yang mau makan di desa kami, karena tidak ingin mendapatkan bahaya dari para perampok itu, nona. Alhasil, rumah makan satu-satunya yang ada disini tidak lagi membuka jualannya." Ujar kepala desa itu dengan penuh penyesalan.
"Apakah benar seperti itu..??" Tanya Sisil yang langsung dibalas anggukan kepala oleh para warga yang ada disana. Sisil pun langsung menggarut kepalanya, jujur saat ini, ia sangat kelaparan sampai membuat lemas.
"Kami juga tidak bisa membantu nona. Tapi, kalau nona tidak keberatan, nona bisa berkunjung ke tempat saya. Tapi, saya hanya ada ubi sedikit untuk di rebus nona." Ujar kepala desa itu lagi. Putri Amelia yang melihat ketulusan hati para penduduk desa membuat Putri Amelia tersentuh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak tua. Kami akan mencari makanan dulu di hutan. Tapi, setelah itu, bolehkah kami kembali lagi untuk makan bersama disini.?" Tanya Putri Amelia lagi. Mendengar itu, kepala desa dan yang lainnya tentu saja setuju.
"Tentu nona. Kalau begitu, bawalah beberapa anak muda dan warga lainnya untuk menemani dan membantu nona mencari bahan makanan di hutan. Mana tau, nona menemukan kesulitan. Setidaknya ada yang membantu." Ujar kepala desa lagi. Putri Amelia menggelang kan kepalanya.