
beberapa warga, terbengong melihat putri Amelia yang menepuk jidatnya. mereka berpikir, apakah mereka salah mengambil bambu itu ? namun, ternyata bukan itu yang mereka khawatir kan.
"Aduh.. lupa lagi. Hitam, biru, Alen. Bolehkah minta tolong." Ujar Putri Amelia memutuskan untuk menyuruh ketiga pemuda itu saja. Dengan sigap mereka pun langsung menghampiri sang nona.
"Iya nona. Ada yang bisa kami lakukan..??" Tanya mereka dengan serentak. Amelia pun menggarut kepalanya.
"Ini, aku lupa bilang pada bapak bapak itu untuk mencari rotan juga. Bisakah kalian saja yang mencari tanaman itu.?" Ujar Putri Amelia bertanya kepada ketiganya.
Karena untuk membuat sebuah perangkap dari bambu, harus menggunakan rotan sebagai salah satu penyangganya. Mereka yang sudah tau bentuk rotan seperti apa, langsung menyanggupi nya.
Tapi, Alen dan si biru, meminta si hitam untuk tetap disana guna menjaga sang nona. Setelah itu, mereka pun dengan cepat berlari, setelah sudah tidak terlihat oleh para warga, mereka akan menggunakan kekuatan mereka. Setelah itu, putri Amelia pun langsung menjelaskan nya kepada warga itu
"Maaf bapak-bapak, saya lupa untuk mengatakan kepada bapak-bapak untuk mencari tanaman rotan juga. Tapi, tidak apa-apa, sambil kita menunggu kedatangan mereka. Kita mulai saja pekerjaannya." Ujar Putri Amelia.
Kemudian, putri Amelia pun mengeluarkan sebuah pedang atau alat yang akan dia gunakan untuk mengajar mereka semua. karena alat pemotong yang digunakan para warga agak tumpul, putri Amelia juga mengeluarkan satu benda untuk menajamkan parang mereka. setelah itu, putri Amelia memerintahkan para warga untuk menajamkan pisau dan segala macamnya.
Kemudian setelah itu, mereka memulai pekerjaan mereka. Putri Amelia pun mulai memberikan instruksi sambil mempraktekkan, dan langsung di ikuti oleh para bapak-bapak.
Siapkan Batang bambu, Bilah menjadi potongan potongan kecil sepanjang satu meter atau sesuai dengan panjang bubu ikan yang diingkan. Potongan bambu tersebut di bilah kecil kecil dan di haluskan menggunakan pisau.
"Nah.. bapak-bapak, untuk sementara waktu, kita tunggu tanaman rotan dulu, sambil bapak-bapak menghaluskan bambu-bambu kecil itu." Ujar Amelia. Dan langsung di kerjakan dengan cepat oleh para warga. Tapi, tak lama, Alen dan si biru pun kembali, dengan tanaman rotan yang sudah di bersihkan durinya.
"Maaf Nona. Apakah sudah menunggu lama.." ucap si biru dan Alen sambil menyerahkan rotan tersebut. Putri Amelia pun tersenyum.
__ADS_1
"Tidak juga. Dan sebaiknya kalian berdua istirahat saja." Ujar Putri Amelia.
Kemudian langsung melanjutkan tutorial nya. Buat dulu beberapa lingkaran dengan menggunakan potongan rotan yang sama panjang tadi. Banyak dan besarnya lingkaran disesuaikan dengan panjang dan besar bubu yang diinginkan.
Lalu, Rangkai Bilah Bilah bambu yang panjang mengelilingi lingkaran dari rotan yang sudah dibuat tadi dan di anyam menggunakan tutus bambu atau tali. Dan terakhir, Bubu siap digunakan untuk menangkap ikan di sungai ataupun di laut tergantung dengan ukuran nya.
Semua pun menjadi girang, Karena rata-rata tak ada yang gagal dalam pembuatan pertama mereka itu. Bahkan, masing-masing dari mereka telah memiliki satu. Namun, tiba-tiba datang seorang ibuk-ibuk untuk memanggil mereka makan, karena mereka telah menyiapkan nya.
"Maaf Nona dan bapak-bapak. Sebaiknya kita istirahat dulu dan makan siang bersama." Ujar ibu itu.
Ia juga menunjukkan sebuah tempat dibawah pohon yang rindang. Dimana makanan semua disana sudah ditata dengan baik. Dan tak jauh dari sana, putri Amelia juga melihat keberadaan Sisil dan ruby yang tengah menyiapkan makanan untuk mereka.
"Oh.. benarkah buk. Bukankah kita semua tak memiliki bahan makanan di rumah..??" Tanya pak Sono kepada istrinya. Sang istri itu pun tersenyum.
Putri Amelia pun tersenyum, ternyata kedua saudaranya itu menghilang karena pergi berburu kehutan..??
"Yasudah.. tunggu apa lagi nona. Ini adalah keberuntungan kita." Ujar pak Sono.
Kemudian putri Amelia menganggukkan kepalanya. Dengan bimbingan dari ibu-ibu disana, akhirnya semua orang dari desa itu, baik tua, muda anak-anak makan bersama di tempat yang teduh itu.
Sementara, untuk putri Amelia dan teman-temannya di pisahkan oleh para warga, agar mereka lebih layak. Dan dengan senang nya, mereka semua melahap makanan itu dengan teratur hingga semua nya menjadi kenyang.
Kemudian, setelah itu, setelah beristirahat sejenak, para bapak-bapak pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka sampai akhirnya malam hari menyapa. Dan, disanalah mereka menghentikan kegiatan mereka. Dan beristirahat. Namun mereka sudah sepakat, akan mencoba bubu itu besok, secara bersamaan dan dengan di samping juga oleh sang putri.
__ADS_1
***
kini tak terasa, seminggu telah berlalu, Putri Amelia berada di desa terpencil dan terasing itu, dengan ide dari Putri Amelia sendiri, yang memberikan nama desa tersebut dengan nama desa bambu. Karena di sekeliling pemukiman desa yang digunakan oleh para warga, tumbuh berbagai macam bentuk bambu.
Putri Amelia dan kawan-kawannya juga selama sebulan ini disibukkan Bagaimana cara memajukan masyarakat di daerah Desa bambu ini. Beberapa hari yang telah lewat saat Putri Amelia selesai membuat sebuah rancangan desa, kini hasil rancangan tersebut telah diaplikasikan dan didukung oleh para warga.
Bahkan untuk sementara para warga tinggal di gubuk-gubuk reot mereka sambilan mereka membangun rumah-rumah mereka.
Flashback beberapa hari yang lalu
Suatu hari, setelah beberapa hari mereka membantu para warga untuk membuat bubu, atau perangkap ikan. Kini Putri Amelia dengan ditemani oleh si Alen Manusia jadi-jadian itu, pergi menemui pak Sono. Disana terlihat pak Sono sepertinya akan berangkat kembali.
"Selamat pagi pak Sono.." ujar Amelia dengan hormat nya kepada yang lebih tua darinya.
Pak Sono yang melihat seorang yang menghormati Rakyat kecil sepertinya, mendadak memundurkan langkahnya. Apalagi, mereka sepertinya dapat merasakan, kalau nona Amelia ini bukan orang biasa.
"Aduh nona... Tidak perlu seperti itu, saya hanya rakyat rendah. Seharusnya saya yang memberikan hormat nona." Ujar pak Sono. Ia menatap putri Amelia itu dengan tatapan mata yang tidak enak.
"Tidak apa-apa Pak Sono. Lagi pula saya menghormati orang yang lebih tua dari saya." Ujar Putri Amelia.
Putri Amelia juga tersenyum melihat ekspresi wajah dari Pak Sono. Yang tentu saja merasa kebingungan, karena biasanya tidak ada istilah menghormati orang yang lebih tua. Yang ada adalah, menghormati orang yang lebih kuat dan jenius daripada mereka.
"Tapi nona, Kami memang tidak pantas mendapatkan itu semua. Anggap saja kami ini hanyalah rakyat biasa nona. Tolong nona jangan lakukan itu lagi." Ujar Pak Sono kembali. Amelia pun mengganggu anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah Pak kalau begitu.. oh tapi, kami datang ke sini karena ada beberapa yang ingin kami bahas kepada Pak Sono." Ujar Putri Amelia kala itu. Ia mengutarakan niatnya langsung kepada Pak Sono.