
***
Sementara itu, pangeran William yang kembali menyamar sebagai rakyat biasa, kini kembali datang kerumah makan Amelia. Kini ia datang sendiri tanpa pangeran melviano. Namun ia datang bersama dengan bawahannya. Rahul. Lagi-lagi, pangeran William menemukan hal yang begitu menakjubkan, tentu saja perdebatan yang terjadi diantara para pembuat onar itu.
"Lagi-lagi, saya kembali menemukan hal hal yang begitu luar biasa." Ujarnya dengan suara pelan dan..ia cukup puas melihat pak bujang yang begitu Santai menghadapi masalah itu, namun ia tidak menganggap remeh.
"Ayo, masuk Rahul." Ujar pangera Wiliam dengan dingin. Namun, Rahul sudah biasa mendengar suara tuan nya itu. Ia pun langsung mengekori sang tuan. Sementara, pangeran William sambil berjalan, ia mengedarkan pandangannya kesana kemari. Tentu saja, ia sedang mencari gadis yang berhasil mencuri perhatian nya itu. Namun, sepertinya ia tidak akan menemukan nya.
Kemana dia. Kenapa, beberapa hari kesini, tapi tak dapat menemukan dirinya.) Batin pangeran William. Ia pun mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi yang kosong, yang ada di sana.
Walaupun begitu, pikiran nya. Entah kemana. Sang bawahan pun tak ingin membuat tuannya semakin pusing. Jadi, memilih untuk diam dan duduk dengan tenang bersama dengan sang tuan. Ingat, mereka dalam penyamaran, jadi tidak ada perbedaan. Saat suasana hening itu, tiba-tiba, seorang pelayan laki-laki datang menghampiri meja mereka.
"Maaf tuan, silahkan mau pesan apa ??" Ujar sang pemuda yang tak lain adalah anak bungsu pak bujang, jeft. Sang bawahan pun langsung merespon dengan baik. Sementara itu, pangeran William Malah melamun.
(Apa aku bertanya saja pada pelayan ini ya. Dimana gadis itu. Tapi mau tanya apa ? Orang nama gadisnya saja tidak tau..!! Ah, kacau ini." Batin pangeran William lagi. Lamunan pangeran William pun langsung buyar ketika sang bawahan bertanya tiba-tiba.
"Khem. Kamu mau pesan apa ? Nanti, pelayannya keburu pergi." Ucap Rahul, mencoba bersikap biasa saja. Dan memanggil tanpa embel-embel yang mulia. Lagi pula, mereka sedang menyamar. Pangeran William pun langsung tersentak.
__ADS_1
" Eh.. maaf tuan. Saya pesan sate sama mie so saja." Ujar pangeran Wiliam. Seperti nya, ia memang sudah terpikat dengan makanan makanan itu. Bahkan semua menu yang ada di sana juga, menjadi makanan favorit untuk pangeran William. Namun, tidak mungkin kan, ia memesan semua makanan itu. Setelah selesai memesan. Jeft pun langsung segera menyiapkan makanan pesanan mereka.
***
Sementara, dari kejauhan, Amelia tersenyum puas, Karena pak bujang benar-benar menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Tidak sia-sia, ia membantu menyembuhkan jalan kultivasi pak bujang.
"Bagus pak bujang. Jangan biarkan orang lain menindas dirimu." Monolognya. Alen yang mendengar penuturan sang Nona pun ikut mencibir.
"Tentu saja. Pak bujang tidak akan mudah ditindas, guru nya kan seorang monster yang bersembunyi dengan tingkah bak seorang putri yang cantik dan lemah-lembut. Ternyata, aslinya iblis yang siap mengoyak daging-daging mereka." Ujarnya. Amelia yang mendengar telepati itu, ia hanya tersenyum. Tentu saja, ia harus bisa berkamuflase.
"Keluar lah Alen. Jangan mengoceh seperti emak-emak disana. Temani aku untuk keluar mencari tempat untuk menjual kosmetik ku." Ujar Amelia memerintahkan kepada Alen untuk keluar dari ruang dimensi.
Saat Alen keluar, ia menyerupai seorang lelaki dewasa yang tampan, yang mungkin berperan sebagai kakaknya. Amelia yang melihat perubahan Alen, langsung mendadak salting. Tampan, itulah kesan pertama nya. Bahkan Amelia tidak berkedip melihat nya.
"Widih... Tampan amat lu len.!!! Kalau begono, bisalah ya, ngajak jadi pacar pura-pura. Hehehe..." Ucap Amelia membercandai Alen. Alen yang mengerti dengan candaan sang nona, ia langsung memutar bola matanya dengan malas. Sama persis seperti Amelia yang sering melakukannya jika ia sedang merasa muak.
"Biasa aja lagi Nona. Kan aku sudah mengatakan, kalau aku ini bukan anak kecil..." Ujarnya lagi. Ia merasa sang Nona yang ia kenal itu, ternyata nonanya juga memiliki kebiasaan menggoda pria tampan.
__ADS_1
"Heh. Sombong amat !!" Ujar Amelia lagi. Ternyata Alen sang penjaga ruang dimensi juga bisa senarsis itu.
"Sombong dikit, kan nggak papa nona. Lagi pula, aku kan memang tampan. Wkwkwk..." Ucap Alen lagi. Amelia langsung terkejut. Wah !! Memang, narsisnya tingkat tinggi !!! Pikir Amelia. Niat hati ingin mengajak Alen jalan, tapi malah begini.
"Hais... Sudahlah. Mau ikut apa tidak !!!" Serunya lagi. Ia malas bicara lagi. Takut narsis Alen semakin tinggi.
"Yah, ikut donk nona." Mereka pun segera keluar dari kamar Amelia. Saat mereka keluar, ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Satu tatapan menyelidik, satu lagi tatapan centil. Siapa lagi kalau bukan Rubi dan Sisil. Dan, aslinya mereka pun sama-sama terkejut, ketika melihat sang nona keluar dari kamar nya dengan seorang laki-laki. Seketika, pikiran mereka mulai kemana-mana. Jangan-jangan, ah! Tidak mungkin !! Pikir mereka.
"Khem... Nona." Panggil Rubi, suara itupun langsung membuyarkan lamunan Sisil. Sementara Amelia dan Alen langsung tersadar, kalau ada orang lain selain mereka. Amelia dan Alen pun memandangi keduanya pelayan itu, yang menatap mereka dengan tatapan curiga. Amelia yang sadar pun langsung berdehem.
"Hem... Itu tidak seperti yang kalian pikirkan." Ujar Amelia langsung to the point. Karena memang mereka tidak melakukan apa-apa. Alen yang belum paham pun bertanya.
"Maksudnya apa nona. Memangnya siapa yang salah faham. Bukankah kita telah berencana.?" Ucap Alen dengan polosnya. Tidak tau saja, Sisil dan ruby langsung terkejut. Mereka sudah salah faham, malah mereka bertambah salah faham ketika mendengar penuturan Alen. Maksudnya apa, Begitu pikir mereka. Amelia yang sadar, ucapan Alen membuat ambigu, langsung mencubit pinggang Alen.
"Aduh..!!! Nona !!! Sakit !!!" Ujarnya sambil mengusap-usap pinggangnya yang tadi kenal capitan sayang dari nya.
"Diam kamu" ujar Amelia sambil menekan bibirnya. Tidak taukah Alen, kalau keduanya bertambah salah faham. Amelia juga melotot melihat Alen. Menyesal rasanya memanggil nya keluar dari ruang dimensi, terlebih lagi, mereka keluar bersama dari dalam kamar Amelia.
__ADS_1
"Huh !!! Sisil, Rubi. Nanti saya jelaskan ya. Saya masih ada urusan penting di luar dengan cucengut ini. Percaya saja. Kalau saya dan dia ini tidak memiliki hubungan apapun. Mengerti ya." Ujar Amelia dengan mutlak. Tanpa menunggu respon keduanya. Amelia langsung menarik Alen pergi dari sana.