
gemuruh ombak di tepi pantai terdengar memecah keheningan. di sana juga terlihat Putri dan kawan-kawan nya sedang berbicara.
"Baiklah.. kita bicarakan hal ini di tempat lain.." ujar Putri Amelia karena belum mengetahui kondisi dan situasi saat ini.
Akhirnya secepat kilat, Putri Amelia dan kawan-kawannya pergi menuju dan melompati sebuah pohon yang begitu besar yang menjadi tempat tinggal keempat teman-temannya ketika menunggu mereka kembali.
Terlihat, mereka sudah membangun beberapa atap untuk menghindari mereka dari air hujan, dan mereka membuat sebuah rumah pohon yang sangat indah. Bahkan Putri Amelia yang merasakan sensasi baru seperti itu sangat tertegun dan merasa kagum.
"Wah !!! Weh keren bro... Ini adalah rumah pohon yang indah yang pernah saya temui." Ujar Putri Amelia memuji bentuk dari rumah pohon itu. Mereka semua pun tersenyum, kemudian Sisil berinisiatif mengambil dan menjamu sang Nona bersama dengan Alen yang baru saja kembali.
"Tentu saja Nona, kita tidak bisa tinggal sembarangan di kota itu. Beberapa hari yang lalu saat aku dan si biru pergi untuk mengawasi kota tersebut sekaligus mencari makan. Kami tidak menemukan adanya penduduk atau seorang manusia yang berkeliaran di kota ini. Padahal kota ini sangat indah dan bahkan bangunan-bangunannya memiliki tampilan yang bagus." Jelas Sisil yang sedang menyuguhkan minuman untuk menyambut keduanya. Putri Amelia kembali mengerutkan keningnya, sebenarnya apa yang terjadi dengan kota ini ? Pikirannya.
"Lalu..?? Menurut dari hasil pengamatan kalian.. ? Apa yang terjadi dengan kota ini sehingga menjadi sepi dan tak memiliki seorang pun di dalam kota tersebut.?" Tanya Putri Amelia kepada para sahabat-sahabatnya itu.
"Setelah kami selidiki nona, ternyata bukan tidak ada para warga di kota ini. Hanya saja, mereka keluar dengan cara mengendap-endap seolah ada sesuatu yang mereka takutkan. Tapi kami sendiri masih bingung dengan semuanya. Satu hal yang bisa kami tebak yaitu, adanya makhluk pemangsa atau manusia penjahat yang membuat resah kota ini." Jelas si hitam kali ini. Putri Amelia merasa ambigu dengan penjelasan dari si hitam. Kalau seperti ini, ia tidak akan tau apa yang terjadi. Putri Amelia mencoba berpikir realistis.
mereka tidak tahu saja, kalau beberapa orang yang keluar dengan cara menindak-endap untuk mencari sesuatu karena menghindari cahaya matahari yang akan menyengat mereka di siang hari.
"Mmm... Sebaiknya, kita mencoba sendiri, kalau tidak, kita tidak akan tau apa yang terjadi." Ungkap putri Amelia lagi. Mendengar penuturan Sang Putri membuat kelima orang tersebut menjadi tercengang.
"Apa maksud Nona mengatakan hal itu..?? Apakah Nona berniat memancing dan menyelidiki sendiri..??" Tanya Ruby yang saya dari tadi diam dan hanya tangannya yang bergerak untuk melayani sang nona.
__ADS_1
Putri Amelia pun menganggukkan kepalanya, tentu saja kalau bukan seperti ini mereka tidak akan tahu apa yang sedang terjadi. Namun kelima orang tersebut malah berteriak Tidak setuju.
"TIDAK NONA !! KAMI TIDAK AKAN MENYETUJUI IDE KONYOL ITU." Ujar mereka secara bersamaan membuat Putri Amelia tersentak dan terkejut. Matanya melotot dan jantungnya berdetak cukup cepat akibat teriakan teman-temannya itu.
"Hei santai bro... Kalian tidak perlu berteriak kencang seperti itu. Karena aku tidak akan sanggup menghadapi lima orang seperti kalian ini.." ujar Putri Amelia sedikit bengek. Iya mengusap-usap dadanya untuk menetralisir dagup jantungnya yang saat ini masih berdetak.
"Habis Nona suka sekali bercanda seperti itu.. walaupun Nona adalah orang yang terkuat tapi itu sangat berbahaya nona. Kalau Nona turun sendiri di sana Kami tidak akan setuju. Tapi kalau aku yang akan dijadikan sebagai uji coba, aku akan menyetujuinya.." ujar si ruby sambil menatap wajah sang Nona dengan melekat dan memohon. Melihat tatapan ruby seperti itu, Putri Amelia hanya bisa mendesah frustasi.
"Aduh aku belum selesai bicara... Yang aku maksud itu membuat sebuah umpan.. bukan aku yang menjadi umpan.." ujar Putri Amelia menjadi kesal kepada kelima orang tersebut. Mendengar penuturan Putri Amelia lagi, mereka yang masih merasa khawatir sontak kembali menjadi tenang.
"Oh begitu nona.. kami kira Nona akan mengorbankan dan menerjang bahaya itu lagi. Karena itu kami tidak menyetujuinya.." ujar Sisil mewakili isi hati teman-temannya itu. Putri Amelia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa ia merasa tiba-tiba tidak bebas untuk bergerak karena keberadaan mereka. Namun kalau mereka tidak berada di sisinya, iya harus mencari teman yang baik itu di mana..??
Kemudian ia membaringkan tubuhnya di sana dan menutup matanya sejenak mengistirahatkan rasa lelahnya.
Saat malam menjelang. Tiba-tiba putri Amelia merasakan sesuatu yang aneh, hawa dingin tiba-tiba datang merasuki kulit sampai ketulang, padahal tempat mereka ini tertutup.
"Kenapa malam ini dingin sekali ya..." Ujar Putri Amelia membuka matanya. Ia pun beranjak untuk duduk. Namun, matanya malah melihat, Rubi, Sisil dan sikembar harimau sedang mengintip sesuatu. Putri Amelia pun ikut menjadi penasaran.
"Apa yang sedang kalian lakukan..??" Keempat orang tersebut pun langsung terkejut dan seketika memberikan kode untuk tidak bersuara.
Satu jari telunjuk mereka, mereka tempelkan di bibir mereka untuk menyuruh Putri Amelia Diam. Putri Amelia pun makin dibuat bingung dengan kelakuan teman-temannya ini.
__ADS_1
Kemudian, Putri Amelia pun berjalan mendekati mereka dengan langkah kaki yang agak tergesa-gesa. Namun segera dihentikan oleh mereka lagi dengan kode.
"Nona tolong jangan sampai membunyikan suara.." ucap mereka dengan pelan Dan hampir tak terdengar oleh indra pendengaran Putri Amelia.
Putri Amelia yang memang mengenali kondisi dan situasi malam ini mengikuti arahan, Ia berjalan mengendap agar tidak menimbulkan bunyi. Putri Amelia berjalan dengan pelan menghampiri keempat orang tersebut.
"Ada apa sebenarnya..." Lirih Putri Amelia lagi dengan suara yang sangat-sangat pelan.
Kemudian, si biru menunjukkan sesuatu yang sedang mereka intip. Karena Putri Amelia merasa heran, ia pun langsung ikut mengintip. Sontak putri Amelia pun terkejut, ia melihat manusia tengkorak yang sangat banyak berkeliaran dimana-mana.
Padahal tadi siang, tak ada aktivitas apapun yang terjadi. Putri Amelia menatap keempat orang tersebut dengan tatapan yang aneh seolah meminta jawaban dari mereka. Mereka yang mengerti dengan tatapan Putri Amelia pun sontak menggelengkan kepala.
" Maaf Nona. Kami juga tidak mengerti.. kami belum berani menyelidiki ini semua." Bisik Mereka lagi.
Karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, akhirnya mereka berlima memutuskan untuk menonton dan mengamati terlebih dahulu.
Terlihat tengkorak-tengkorak hidup itu berkeliaran layaknya manusia yang sedang beraktivitas pada umumnya. Saat melihat dan mengamati tempat tersebut, putri Amelia dibuat merinding sendiri.
***
Pagi hari pun menjelang. Putri Amelia dan keempat orang tersebut tertidur ketika menjelang pagi, karena para tengkorak itu sudah mulai membubarkan diri mereka. Membuat kewaspadaan Putri Amelia dan teman-temannya mengendur. Sehingga mereka bisa sedikit tertidur, walaupun dengan waktu yang singkat.
__ADS_1