
Kota itu memang tak terlalu besar, namun menurut Putri Amelia itu sudah cukup besar karena memang kondisinya tak berada di dekat kota kerajaan. Ya, sudah sesuai lah...
Saat mereka sedang berjalan-jalan berdua, Putri Amelia juga memperhatikan orang-orang yang ada di kota ini. Semuanya tak memiliki kultivasi atau tenaga spiritual.
"Pangeran, aku belum tahu dari mana kedatangan orang-orang ini..?? Saat aku bertanya pangeran malah menjawab hal lain." Ujar Putri Amelia sedikit ngambek dengan sikap sang pangeran. Pangeran William mengelus-elus kepala Putri Amelia.
"Tentu saja, mereka semua adalah orang-orang yang selamat dari araya kutukan itu. Bukankah setiap malam kalian melihat para tengkorak akan bekerja layaknya seorang manusia ? Nah itulah mereka.. walaupun umur mereka sudah berpuluh-puluh tahun, saat mereka dibangkitkan kembali, mereka akan menghitung umur mereka saat mereka sadar dan menyadari bahwa kini mereka telah berumur 45 tahun atau sebagainya." Jelas pangeran William secara rinci.
Putri Amelia pun mengganggu anggukkan kepalanya. la mengerti, sepertinya setelah araya kutukan itu dihancurkan, maka kondisi kota samurai ini akan kembali seperti semula.
Namun jika mereka gagal mengembalikan atau menghapus kutukan kota samurai ini, maka di saat itulah kota ini juga akan hancur bersama dengan hancurnya simbol-simbol kutukan itu.
***
Esok hari pun menjelang. Putri Amelia bangun dari tidur nya. Setelah semalam mereka berjalan mengelilingi dan melihat keadaan kota samurai yang telah kembali seperti semula.
Putri Amelia dan pangeran William kembali ketempat mereka. Yaitu, sebuah rumah yang kosong, yang ditinggal oleh nenek yang selamat dari kutukan itu. Putri Amelia berjalan mendekat mengikuti aroma makanan, dan menemukan Sisil dan ruby yang sedang sibuk memasak
"Sil, by. Pada masak apa..??" Tanya putri Amelia dengan muka bantalnya.
Kedua pelayan Putri Amelia yang cantik dan tidak sombong itu pun dengan kompak menoleh ke arah Putri Amelia. Kemudian mereka terkekeh kecil melihat kelakuan Sang Nona yang tak pernah berubah setelah bangun dari tidur panjangnya.
"Ini nona. Kami sedang memasak pangsit isi daging untuk sarapan pagi. Apakah Nona membutuhkan sesuatu..??" Tanya Sisil kepada Putri Amelia. Putri Amelia pun langsung mendekat ketika mendengar nama pangsit daging.
__ADS_1
"Benarkah !! Apakah sudah ada yang matang..??" Tanya Putri Amelia sambil mengusap-usap kedua tangannya berlawanan arah.
Ia juga memasang wajah antusias serta rakus. dan ingin sekali mencicipi makanan tersebut. Melihat kelakuan Nona mereka seperti itu, lagi-lagi kedua pelayan itu hanya terkekeh kecil.
"Sudah ada nona. Ini Nona Cicipilah..." Ujar ruby langsung menyerahkan satu piring pangsit dan bakpao isi daging di hadapan Putri Amelia. Putri Amelia yang melihat makanan itu langsung berbinar bahagia.
"Wah !!! makan besar ini..." Ujar Putri Amelia.
Ia pun bersiap ingin mengambil satu pangsit untuk dicicipinya, namun tiba-tiba ada tangan lain yang memukul tangannya agar tidak menyentuh makanan itu.
Putri Amelia tentu saja terkejut dan melihat orang yang telah berani menghalanginya itu. Baru saja Putri Amelia ingin marah-marah, namun mendadak menjadi menciut ketika melihat tatapan orang tersebut.
"Apa ? Kenapa ? Mau marah ? Kamu baru bangun tidur bukannya siap-siap atau bersih-bersih, malah ke dapur dan mengganggu aktivitas mereka... Sana mandi dulu, lihat tuh bekas ileran yang belepotan ke mana-mana." Ujar orang tersebut dengan dingin.
"Iiiihhh.... Pangeran...!!! Tapi aku sudah lapar. Dan aku cuma mau mencicipi satu pangsit saja.. itu aja tidak boleh sih..!!" Gerutu Putri Amelia sambil memasang wajah betek dan melipat kedua tangannya di atas dadanya tersebut.
Pangeran William yang merasa lucu melihat tingkah Putri Amelia lagi-lagi merasa gemas dan mencubit pipi itu. Seolah bagi mereka tak ada batasan lagi, selain tidak melampaui batas berhubungan layaknya suami istri.
Menurut pangeran William, kalau hanya sekedar mencubit pipi dan menyentuh tangan saja itu masih dalam kategori wajar. asalkan tidak merusak perempuan yang dicintainya sebelum sah menjadi miliknya. Putri Amelia pun langsung meringis tatkala mendapat capitan manis di pipinya.
"Ughh... Ini milik siapa sih..?? Manis banget... Kalau lagi marah lucu... Kalau lagi ngambek imut, jadi pengen gigit."ujar pangeran William melupakan kodratnya sebagai lelaki dingin, tak berperasaan dan kejam itu.
Kedua pelayan Putri Amelia yang melihat keharmonisan kedua Tuan mereka tak berani membantah. Mereka hanya bisa menundukkan kepala dan menebalkan telinga mereka pura-pura tak mendengar dengan aksi mesra kedua majikan mereka itu.
__ADS_1
Walaupun posisi dan kedudukan kedua pelayan Putri Amelia telah diangkat olehnya, tapi mereka berdua tak memanfaatkan hal itu untuk bersifat kurang ajar kepada mereka para majikan mereka. Justru kesempatan yang diberikan Putri Amelia itu menjadikan mereka lebih bebas berhubungan baik dengan kedua Tuan mereka.
"Aduh sakit pangeran..!! Pangeran Ini kenapa sih !! Suka sekali mencubit pipiku. Kalau nyatanya pipi aku jadi kempes gimana.. mau tanggung jawab nggak..??" Amel Putri Amelia lagi sambil mengusap-usap sebelah pipinya yang tadi kena capitan sayang dari pangeran William.
Pangeran William pun tidak mengubris itu, ya malah tersenyum manis dan kembali menyuruh Putri Amelia untuk membersihkan tubuhnya.
"Sudah sana !! Buruan bersih-bersih. Setelah itu kita sarapan bersama." Ujar pangeran William lagi memberikan perintahnya kepada Putri Amelia.
Putri Amelia yang sudah tidak mood lagi untuk membalas ucapan pangeran William langsung beranjak dari sana dengan bibir yang masih bersungut-sungut. Seolah ingin mengomeli pangeran William, karena tidak terima kesempatan untuk mencicipi pangsit terhalang olehnya.
"Kalian berdua juga, cepat selesaikan pekerjaan kalian dan segera bersiap-siap. Nanti kita akan sarapan bersama-sama." Ujar pangeran William lagi memerintahkan kedua pelayan Putri Amelia dengan ekspresi dingin dan suara yang datar.
Kedua pelayan yang memang sudah mengenal karakter pangeran William tak mengambil hati mengenai ucapan dingin tersebut. Justru bagi mereka, lebih baik pangeran William berwajah dingin seperti itu, biar tak terlalu banyak perempuan yang mengejar dirinya. Namun nyatanya, semakin pangeran William berekspresi dingin dan tak peduli terhadap perempuan lain, semakin banyak perempuan pula yang ingin menaklukkannya.
"Baik yang mulia pangeran." Jawab mereka dengan penuh hormat.
Setelah itu, pangeran William pun langsung meninggalkan kedua pelayan Putri Amelia yang langsung mengerjakan pekerjaan mereka dengan cepat. Setelah itu, mereka langsung membersihkan diri mereka.
***
Kini, mereka semua telah berkumpul untuk melakukan sarapan pagi bersama-sama. Tak lupa, Sisil dan ruby menyiapkan satu meja untuk kedua majikan mereka. Karena tidak etis rasanya, jika mereka yang hanya manusia kelas bawah, duduk setingkat dengan pangeran William dan putri Amelia.
"Silahkan duduk yang mulia pangeran dan putri." Sambut mereka kepada kedua orang tersebut.
__ADS_1