PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
70. saatnya kembali berpetualang


__ADS_3

Sementara, pihak penjahat yang sudah terpojok itu tak bisa berbuat apa-apa ketika mendapatkan hantaman yang bertubi-tubi dari kedua gadis tersebut. Gerakan mereka yang begitu lincah, menangkis, memutar dan menyerang begitu tak terbaca di pelupuk mata para penjahat tersebut.


Bugh Krak


Akhirnya, kubu lawan pun terkalahkan dengan beberapa potongan kepala yang menggelinding di atas tanah. Darah terciprat ke mana-mana membuat beberapa warga di sana mendadak menjadi mual. Seketika itu, sang ketua komplotan penjahat yang tersisa mendadak menjadi takut. Bagaimana tidak takut ? Pertarungan yang begitu sengit yang terjadi di hadapan matanya secara langsung, melihat kekuatan lawan yang begitu tidak bisa diragukan.


"Sialan !! Ternyata aku salah mencari lawan..!!" Gumam ketua itu dengan pelan. Dan tanpa melakukan hal apapun ia langsung kabur dari tempat tersebut tanpa diketahui oleh para warga. Sementara Sisil yang sudah mengetahui hal itu berniat untuk mengejar. tapi malah di hentikan oleh Rubi.


"sudah, tidak perlu dikejar." ujar ruby ketika melihat Sisil akan bersiap untuk menyusul lelaki pembuat orang itu.


"tapi by, aku tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja setelah membuat kerusuhan di desa ini. enak sekali hidupnya." ujar Sisil merasa tak terima melihat laki-laki itu melarikan diri.


"kamu harus ingat apa yang dikatakan oleh Nona tempo hari. jangan terlalu terbawa oleh nafsu untuk membunuh, jika lawanmu sudah menyerah, maka biarkan saja. tapi kalau seandainya, membahayakan, maka tidak ada salahnya bertindak." ujar ruby mengingat sepenggal nasehat yang diberikan oleh Putri Amelia saat mereka melatih kekuatan tubuh mereka. Sisil yang mendengar penuturan ruby pun hanya bisa menghela nafas saya untuk menormalkan emosinya yang bergejolak.


"Nona!!! Nona-nona terima kasih banyak kalian sudah menyelamatkan kami.. menyelamatkan anak-anak gadis kami dari para penjahat-penjahat itu." Ujar salah satu lelaki paruh baya yang mendekati mereka dengan kedua tangannya yang saling menyatu. ia mengucapkan rasa syukur dalam hatinya.

__ADS_1


Semua para warga pun ikut tersenyum senang. terlebih parah gadis yang telah selamat dari bencana yang mungkin akan menjerat mereka selama-lamanya. Para warga tersenyum senang ke arah Sisil dan Ruby yang membuat kedua gadis itu pun juga ikut senang.


"Sama-sama pak. Tentu saja, kami tidak mungkin diam saja ketika melihat Desa yang berusaha kami makmur kan ini tertimpa masalah. Jadi, bapak-bapak semuanya tenang saja. Namun mengingat kejadian seperti ini agar tidak terulang kembali, alangkah baiknya yang mudah-mudah untuk belajar ilmu bela diri.. agar di manapun kalian berada, kalian mampu menjaga dan melindungi diri kalian." Jelas ruby kepada mereka semua.


"Baik nona. Kami tentu saja setuju, tak hanya yang muda-muda yang akan belajar ilmu bela diri. Kami pun yang tua-tua harus mempelajarinya nona, setidaknya dasar-dasarnya saja itu sudah lebih dari cukup untuk melakukan sedikit pembelaan.. tapi yang menjadi kendala kami, tidak adanya guru yang mau mengajarkan kepada kami ilmu bela diri." Ujar lelaki paruh baya itu lagi. Sementara beberapa warga lainnya sedang tidak berada di tempat.


"Oh untuk masalah seperti itu... Bapak-bapak dan ibu-ibu tidak perlu khawatir. Nanti kami akan rundingkan ini kepada Nona Amelia. Mudah-mudahan Nona memiliki jalan dan solusi untuk penyelesaian ini." Ujar sisi lagi membuka suaranya. Para warga pun tersenyum senang, asal Putri Amelia sudah turun tangan pasti semuanya akan aman dan terkendali.


"Baik nona. Kami percaya, jika Nona Amelia sudah turun tangan, kami tidak perlu merasa khawatir lagi nona. Terima kasih banyak.." ujar lelaki paruh baya itu sambil bersujud menyium tanah mengucapkan rasa syukurnya kepada kedua gadis itu.


Sisil dan Ruby yang tentu saja adalah seorang pelayan bagi Putri Amelia tentu saja merasa tak pantas mendapatkan hal itu. Ruby dan Sisil dengan segera berlari ke arah lelaki paruh baya itu dan membantunya untuk berdiri.


"Ah iya... Tuh kan kita hampir saja lupa.. sebaiknya bapak-bapak lanjutkan saja pekerjaan masing-masing, dan kami akan mengolah rusa-rusa yang sudah kami tangkap dari hutan. Biar nanti kita bisa makan bersama-sama." Ujar Sisil kembali.


Mereka benar-benar melupakan tentang buruan mereka akibat insiden dan kemarahan yang berkobar. Mendengar penuturan Sisil, para warga pun langsung melayangkan tatapan mereka ke arah sebuah kursi bambu di mana 2 rusa yang telah dibersihkan itu ditutup dengan dedaunan.

__ADS_1


"Wah !! Kita akan berpesta lagi hari ini nona. Oh iya.. besok-besok tolong ajarkan kami juga bagaimana caranya berburu buruan yang besar ini. Karena saat kami berburu di hutan, pasti Kami tak akan mendapatkan buruan yang begitu besar." Ujar seorang ibu-ibu lagi merasa sangat senang. Sementara Sisil yang menuturkan hal itu malah menjadi menyesal.


(Aduh... Terlalu banyak yang harus dikerjakan daripada mengajarkan para warga untuk berburu.. ck ck... Tapi tidak apa-apa deh.. yang penting mereka senang.) Batin Sisil sambil menggarut Garut kepalanya yang tidak gatal itu. Sementara Ruby yang sudah paham dengan ekspresi Sisil hanya bisa tersenyum.


" Makanya . Jangan terlalu bersemangat... Karena semangatmu akan kalah dari para warga.. hihihi.." lirih ruby di telinga sisil.


Sisil yang mendapat ejekan dari temannya itu hanya mampu mencebikkan bibirnya. Setelah itu mereka pun kembali pada aktivitas mereka semula. Para warga kembali membereskan beberapa kekacauan yang terjadi beberapa saat yang lalu, dan juga para pemuda-pemuda yang menyeret korban-korban hasil pertarungan dan menguburkannya agak jauh dari peradaban mereka.


***


Tak terasa, tiga bulan telah berlalu. Rancangan pembangunan yang direncanakan oleh Putri Amelia ternyata berjalan dengan baik. Di desa bambu itu telah berdiri sebuah pelabuhan yang kokoh dengan beberapa kapal atau perahu-perahu kecil di sana.


Rumah-rumah para warga juga sudah layak huni dan sudah semestinya. Dan karena Desa bambu ini juga ada tanah atau bahan baku yang bisa membuat semen yang akan dijadikan sebagai perekat bangunan, Putri Amelia juga mengajarkan mereka bagaimana cara mengolahnya secara manual dan sederhana.


Agar nanti mereka dapat merenovasi rumah-rumah mereka kembali. Dan itu juga sudah menjadi salah satu hasil pendapatan masyarakat di sana dengan dikepalai oleh Pak Sono yang diangkat sebagai kepala desa.

__ADS_1


***


maaf ya teman-teman, semakin ceritanya ke sini, alurnya semakin kesono 😂


__ADS_2