
Pak Sono yang dapat menembak sepertinya yang akan dibicarakan oleh Nona Amelia adalah hal yang penting, akhirnya ia mempersilakan Nona Amelia dan salah satu teman yang ikut dengannya untuk duduk di depan gubuk reot mereka itu.
"Oh !!! maafkan saya Nona. Kalau begitu duduklah terlebih dahulu.". Ujar Pak Sono kepada keduanya. Karena tak ada yang bisa mereka suguhkan untuk menyambut tamu, jadi Pak Sono hanya bisa meminta maaf dan mengelus dada saja.
"Sekali lagi mohon maafkan saya Nona. Karena saya tak bisa menyuguhkan apa-apa untuk menjamu tuan dan Nona berdua." Ujar Pak Sono merasa tidak enak.
Tentu saja, itu adalah aturan di mana Kalau ada tamu yang berkunjung, wajib dijamu dengan baik. Tapi apa boleh buat, kondisi tidak memungkinkan untuk berbuat baik dan menjamu tamu dengan baik.
"Tidak apa-apa Pak Sono. Duduklah dulu.. kami hanya ingin berdiskusi sebentar. Karena sepertinya Pak Sono ingin pergi..??" Tebak Putri Amelia dan langsung dibalas tanggungan kepala dari Pak Sono.
"Iya nona, Anda benar. Saya ingin memeriksa bubu perangkap ikan yang kami pasang tadi malam." Ujar Pak Sono lagi dengan nada rendah.
"baiklah kalau begitu pak." kemudian Putri Amelia pun menjelaskan semuanya dengan rinci dan tak terlewatkan sama sekali, agar pak Sono mengerti.
pak Sono yang begitu antusias itupun langsung setuju. karena bagaimanapun, pak Sono memang mengharapkan adanya perubahan di desa ini.
flashback off.
***
Dan selama seminggu ini Putri Amelia melaluinya dengan senang hati, proses pembangunan pun berjalan dengan baik. Di tepi pantai juga mereka membangun pelabuhan-pelabuhan agar kapal-kapal niaga dapat berlayar ke menuju kerajaan yang lain.
__ADS_1
Dan itu adalah pertama kalinya di dunia ini. Putri Amelia juga tak segan-segan mengatakan kepada para warga untuk membangun sampan yang lumayan besar dari kayu-kayu yang kokoh, tak boleh mengambil sembarang kayu dan menebang hutan dengan sembarangan. Karena mengingat para warga masih berpegang teguh dan mencari makanan dari hasil hutan.
"Bagaimana progres pembangunannya biru..??" Tanya Putri Amelia ketika biru tiba-tiba datang menghadapnya. Tanpa menunggu si biru menyampaikan keluh kesahnya, Putri Amelia sudah lebih dulu bertanya.
"Maafkan saya Nona, datang tanpa memberitahu. Kalau untuk masalah pembangunan semuanya berjalan dengan lancar, namun kami terkendala dengan pembangunan dermaga yang Nona sebutkan tadi. Karena tentu saja kami harus membangun sebuah jalan di atas air laut. Dan saya datang ke sini ingin meminta petunjuk dari nona." Ujar sih biru kepada Putri Amelia.
Putri Amelia yang memang sedang merancang sesuatu itu pun menghentikan aksinya atau pekerjaannya mendengar penuturan dari si biru.
"Apakah semua alat dan bahan yang dibutuhkan sudah terkumpul..??" Tanya Putri Amelia lagi. Biru menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja Nona. Tapi kami memiliki kendala yaitu, tidak menemukan kayu yang cocok untuk dijadikan sebagai penyangga dari dermaga itu nanti nona." Ujar si biru Lagi menyampaikan kekhawatirannya. Putri Amelia pun mengganggu anggukkan kepalanya.
"Apakah di sini tidak ada kayu jati..??" Tanya Amelia kepada si biru.
Amelia yang melupakan hal itu langsung mencebikkan bibirnya. Ia lupa kalau si biru dan si hitam hanyalah seekor harimau yang berwujud manusia.
"Hm.. maaf biru. Kalau begitu ayo kita keluar dan melihat progres dari proyek tersebut." Ujar Putri Amelia kepada si biru.
Akhirnya Putri Amelia pergi bersama biru untuk melihat bahan-bahan apa saja yang para warga itu kumpulkan untuk membangun sebuah dermaga atau tempat pelabuhan kapal.
Sementara Desa ini sudah berkembang agak pesat akibat kehadirannya. Setelah ia mengajarkan bagaimana cara membuat bubu untuk dapat menangkap ikan di sungai maupun di laut, kini bubu itu digunakan oleh para ibu-ibu untuk menggantikan pekerjaan para suami mereka untuk mengerjakan hal-hal lain.
__ADS_1
Sehingga para bapak-bapak Tak perlu merasa tertekan memikirkan Bagaimana istri dan anak-anak mereka makan ketika mereka sendiri sedang sibuk membangun tempat pelabuhan-pelabuhan kapal itu.
Dan beberapa beberapa hari sebelum ini juga, Putri Amelia telah mengajarkan bagaimana cara mengolah tanah yang baik dan membudidayakan tanaman agar bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik.
Di sini Putri Amelia mengajarkan kepada para warga Bagaimana cara menanam padi, sayur-sayuran dan tumbuhan-tumbuhan yang dibutuhkan lainnya. Putri Amelia pikir, semuanya akan memakan waktu yang lama agar para warga dapat beradaptasi.
Tapi ternyata para warga hanya dengan sekali mengajarkan kepada mereka, mereka dapat dengan mudah menangkap semua nya.
Sesampainya Putri Amelia di tepi pantai, di mana sebuah dermaga atau pelabuhan akan dibangun. Putri Amelia memilih sebuah teluk yang bisa dilalui atau diakses oleh kapal-kapal tersebut. Sehingga pembangunan mereka tidak sia-sia. Putri Amelia juga merancang beberapa tempat yang akan ia bangun dalam teluk luas itu. Kenapa harus membangun pelabuhan di dalam teluk ? Karena ombak dalam teluk tersebut tidak terlalu besar bahkan tidak akan terjadi riak ataupun gelombang yang berlebihan, sehingga aman untuk mereka memarkirkan atau melabuhkan kapal-kapal mereka di sana. Walaupun nyatanya, kapal-kapal dagang yang berlayar masih ada dua di dunia ini.
Melihat kedatangan Putri Amelia dan si biru, Pak Sono dan para warga lainnya langsung menghampirinya.
"Nona, anda sudah datang..!!" Seru Pak Sono. Putri Amelia pun menganggukkan kepalanya kemudian mengamati beberapa tumpukan kayu yang ada di tepi pantai tersebut.
"Bagaimana progresnya.? Apakah bahan-bahan yang saya minta sudah terkumpul semua..?? Ah dan ya, saya lupa.. Apakah di desa bambu ini ada tumbuhan kayu jati.? Sebaiknya tiang yang akan kita gunakan untuk membangun pelabuhan ini adalah pohon dari kayu jati. Karena kayu jati, kayunya tahan lama dan tidak mudah untuk lapuk." Ujar Putri Amelia menjelaskan kepada para warga itu.
Mereka semua mengangguk-anggukkan kepalanya, namun yang menjadi kendala adalah, Apa itu kayu jati ? dan di mana mereka harus mendapatkannya ?
"Maaf Nona. Kalau boleh tahu bagaimanakah bentuk kayu tersebut..??" Tanya salah satu warga yang ada di samping Pak Sono.
sebelum menjawab pertanyaan pak Sono, Putri Amelia pun berbalik dan mencari tempat duduk. Tidak etis rasanya jika mereka sedang membicarakan sesuatu sambil berdiri.
__ADS_1
Setelah mendapatkan tempat duduk yang baik dan diikuti oleh para bapak-bapak itu yang juga mengambil tempat duduk sesuai dengan kenyamanan mereka, Putri Amelia pun mulai membuka suara.
"Bapak-bapak dapat menemukan kayu itu dengan mengenali bentuknya. Yang pertama yang perlu di bapak-bapak perhatikan yaitu. Bentuk pohon atau laju pertumbuhannya. Pohon jati dikenal juga karena pertumbuhannya yang cukup lambat dimana butuh waktu puluhan tahun untuk mencapai tinggi 30-40 meter sebelum ditebang. Dengan pertumbuhannya yang lambat tersebut, secara tidak langsung membuat kualitas kayu ini akan semakin bagus. jadi, bapak bapak kenali saja, yang mana pohon yang tumbuh sudah lama."