
Sementara itu, Amelia dan kedua pelayan setianya. Mereka kini tengah bersiap-siap untuk berangkat melakukan petualangan. Setelah beberapa hari mereka rencanakan, dan juga mempercayakan pengelolaan rumah makan dan juga tokoh kosmetik di kota raja Tidore.
Kini mereka akan melakukan perjalanan panjang untuk mengelilingi dunia, dan sekaligus menjauh sebentar dari keluarga putri Amelia dan juga orang yang mengenal dirinya. Kediaman mewah mereka juga, Amelia titip kan kepada pak bujang dan keluarganya. Pak bujang dan keluarganya juga menyertai kepergian mereka, tentunya dengan berbagai macam nasehat.
"Pak, kami berangkat ya. Bapak dan ibu, juga kamu jeft, hati hati, juga jaga kesehatan." Ujar Amelia sambil memeluk istrinya pak bujang yang bernama Rukmi. Pak bujang menghela nafasnya
"Tentu nak. Kami tentu akan berhati-hati. Dan Begitu juga dengan kalian. Jika sudah puas menjelajah, pulang lah. Jangan terlalu lama di luar. Bapak dan ibu pasti akan menunggu kepulangan kalian. Ingat nak, di luar sangat berbahaya, tak ada tempat kalian berlindung dan mengadu. Saling melindungi lah kalian nak. Ingat pesan pesan bapak." Ucap pak bujang. Seolah pak bujang tidak pernah merasa puas dengan nasehat nasehat nya. Ia begitu menghawatirkan mereka. Walaupun awalnya mereka adalah sama-sama orang asing, tapi saat ini, mereka adalah keluarga. Apalagi, para gadis ini akan pergi sendiri. Beberapa spekulasi mulai muncul dan menghantui pak bujang. Karena itu lah, ia tidak pernah puas memberikan nasehat nasehat nya itu. Biarkan saja, Amelia dan kedua pelayannya merasa bosan, yang penting pak bujang mengeluarkan unek-unek nya
"Iya pak. Kalau begitu kami pamit." Ujar Amelia. Sekali lagi mereka pamit pada pak bujang dan ibu Rukmi serta jeft. Setelah itu, mereka langsung meninggalkan kota raja Merkurius itu.
Ternyata, saat mereka telah berlalu. Ada dua orang yang selalu memantau putri Amelia dari jauh. Dan tentu saja, putri Amelia dapat merasakan keberadaan mereka sedari mereka kembali dari istana. Mereka orang orang yang di utus oleh pangeran William dan juga Raja Robert untuk menjaga dan melaporkan kegiatan Amelia Kepada mereka. Karena Amelia merasa niat mereka baik.
Makanya Amelia sama sekali tak mempermasalahkan nya. Tapi, sekarang beda cerita. Tentu Amelia tidak akan membiarkan dua orang utusan itu mengikuti mereka. Jadi, Amelia sengaja membawa Sisil dan Rubi kedalam ruang dimensi terlebih dahulu. Setelah itu, mereka akan keluar kembali di tempat yang berbeda.
Saat Amelia dan kedua pelayannya itu menghilang dari sana. Kedua pengawal bayangan itu menjadi gelagapan dan berusaha mencari keberadaan aura mereka, tapi ternyata tidak ketemu. Sialnya, mereka juga kurang mendengar apa yang Amelia dan keluarga pak bujang itu bicarakan.
__ADS_1
"Bagaimana ini Zain.?? Pasti kamu dan aku akan kenak amukan dari kedua junjungan kita." Ujar Beatrix kepada Zein. Zein juga sedang menggarut-garut kepalanya. Ia juga merasa pusing. Tentu saja, ia akan kenak amukan pangeran William, jika melaporkan hal ini.
"Kamu benar. Para tuan pasti akan murka." Ujar Zein dengan lesu. Huft. . Mereka sama-sama menghela nafas. Mau tidak mau, mereka harus melapor. Kalau tidak melapor tambah berabe urusannya.
***
"APA !!!" terdengar suara teriakan dari pangeran William dari ruang kerjanya. Ia begitu syok mendengar penuturan Zein. Kenapa bisa teledor seperti ini. Bukankah, Zein adalah salah satu pengawal bayangannya yang cukup tangkas ? Kenapa sekarang malah kehilangan jejak.?
"Huft... Apa saja yang kamu lakukan Zein.? Sampai kamu tidak mengetahui keberadaan mereka dan sampai kehilangan jejak seperti ini." Ujar pangeran William dengan datar dan dingin. Mendengar suara sang tuan yang begitu dingin itu, membuat bulu kuduk Zein merinding. Keringat dingin pun mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya.
(Waduh.!! Mati aku.!!) Batin pengawal Zein itu. Tapi, pengawal itu mencoba untuk tetap tenang. Ya, walaupun sudah dapat ditebak, akan ada sesuatu dibaliknya. Pangeran William kembali menghadap ke arah Zein. Kemudian menatap lekat Zein. Jika orang awam melihat tatapan itu, mungkin mereka akan berpikir kalau pangeran William menyukai Zein. Tapi, sebenarnya, pangeran William sedang berpikir dan menimbang-nimbang, hukum apa yang akan ia berikan kepada Zein.
"Khem.!! Zein. Karena kamu sudah melakukan kesalahan kali ini. Maka aku akan menghukum mu." Ucap pangeran William. Ia kembali memunggungi pengawal itu. Sementara Zein, ia menelan salivanya dengan susah paya. Benar saja, pikirnya.
"Aku memerintahkan mu, cari keberadaan Putri Amelia dimana pun. Jangan berani kembali sampai kamu dapat menemukan keberadaan nya. Dan satu lagi, jika sudah bertemu, lindungi dia sampai ia memutuskan kembali ke kerajaan ini." Ujar pangeran William dengan dingin dan juga dengan nada perintah. Mendengar itu, Zein Langsung menelan selivannya. Mana mungkin ia menolak perintah itu, tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan sang pangeran.
__ADS_1
"Yang mulia, tapi bagaimana putri Amelia memutuskan untuk tidak kembali. Lalu apa yang akan hamba lakukan.?" Tanya Zein lagi. Jujur saja, ia merasa berat melakukan perintah itu. Apa lagi, Zein sudah mengabdikan diri sepenuhnya kepada pangeran William. Ia takut, pangeran William menemukan kesulitan saat dirinya tidak ada. Bukan tidak percaya, tapi itulah rasa khawatir kepada tuannya.
Mendengar penuturan Zein. Pangeran William menarik nafasnya dengan gusar. Kalau bi, jangan sampai hal itu terjadi. Ia tidak ingin, wanita pujaannya sampai menghilang. Padahal baru pertama kali merasakan yang namanya cinta.
"Huft... Jika tidak ingin kembali. Maka aku yang akan menyusulnya. Yang penting, tugas mu adalah melindungi nya. Jangan biarkan ia kesulitan. Sudah, cepatlah berangkat. Ingat, selalu berikan informasi." Ujar pangeran William.
Setelah itu, ia langsung menyibukkan diri. Dan Zein, mau tidak mau, ia harus segera bergerak mencari keberadaan Putri Amelia.
Ternyata, keadaan Beatrix juga tak jauh berbeda dengan Zein. Setelah melapor hal itu kepada raja, raja Robert langsung merasa panik.
Takut terjadi apa-apa kepada Amelia, putri dari sahabat bodohnya itu dengan segera, ia langsung memerintahkan Beatrix dan Marco untuk melindungi nya dari jauh. Sang raja bisa saja, langsung meminta Amelia untuk pulang, tapi melihat temperamen nya sekarang, tidak mungkin untuk bernegosiasi. Karena itu, ia hanya mengurus dua orang itu untuk menjaganya dari jauh.
***
Sementara itu, Amelia dan kedua pelayannya telah mendarat di perbatasan desa lasmanan yang ada di sekitar kota Tidore. Hanya sehari perjalanan dari kota Tidore ke desa Lesmana. Mereka juga merasa, kalau mereka sudah cukup jauh dari pusat kota.
__ADS_1
"Hah !! Kita akan mulai perjalanan kita dari sini. Kalian siap..!!" Ujar Amelia langsung melihat kedua pelayannya dan juga harimau kembar yang memaksa untuk ikut dalam perjalanan. Mereka sudah sangat bosan berada di ruang dimensi. Apalagi, tak ada yang bisa mereka lakukan selain berkultivasi.
"Tentu saja Nona..!!!" Jawab mereka dengan serentak. Amelia tersenyum senang melihat ke antusiasan keempat teman-temannya itu.