
"Sisil, Rubi, si kembar kesayangan..!!" Teriak suara tersebut.
Siapa lagi kalau bukan pelakunya Putri Amelia sendiri. Ia datang bersama dengan pangeran William yang memaksa untuk mengantarkannya bertemu dengan teman-temannya. Melihat kedatangan Putri Amelia, mereka semua pun langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Putri Amelia dan pangeran William.
"Salam yang mulia Putri Amelia dan yang mulia pangeran William." Ujar mereka dengan serentak bersikap formal untuk menghormati pangeran William.
Beda halnya jika Putri Amelia datang sendiri tanpa pangeran William, pasti mereka semua akan berhamburan memeluk Putri Amelia dan bermanja-manja dengannya. Menyadari bahwa teman-temannya tiba-tiba bersifat dan bersikap formal seperti itu, hanya membuat Putri Amelia mendesah pelan saja.
"Salam kembali untuk kalian..." Ujar pangeran William dengan ekspresi dingin namun suaranya terkesan hangat menyambut salam itu.
Ia hanya tidak terbiasa berekspresi ketika berhadapan dengan orang lain. Kecuali dia berhadapan dengan Putri Amelia sendiri.
"Cih.. Bagaimana keadaan kalian..?? Apakah kalian semua baik-baik saja..??" Tanya Putri Amelia dengan penuh perhatian.
Pangeran William yang melihat Putri Amelia begitu perhatian terhadap teman-temannya itu hanya mampu mendesah pelan. ia mengerti bahwa Putri Amelia sedang berhadapan dengan sahabat-sahabatnya yang mungkin kini telah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Iya nona. Kami semua baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan Nona ?? Apakah Nona sudah bertemu dengan nenek itu..??" Tanya ruby kepada Putri Amelia. Putri Amelia pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku sudah bertemu dengannya. Dan sekarang waktunya kita untuk bekerja. Dan tunggu dulu aku ingin memanggil Alen dari ruang dimensi. Sepertinya aku sudah sangat merindukan anak kecil itu." Ujar Putri Amelia dan langsung memanggil Alen dari ruang dimensi untuk keluar.
__ADS_1
Dan tak menunggu waktu lama, Alen pun muncul di tengah-tengah mereka sambil mengucek-ngucek matanya. Sepertinya kakek yang berkedok anak kecil ini baru saja terbangun dari tidurnya akibat Putri Amelia yang memanggilnya keluar.
"Ada apa nona..." Ucap Alen dengan suara serak dan juga ekspresi yang malas. Putri Amelia mencabikan bibirnya melihat yang kalau dipanggil selalu saja seperti itu.
"Ck ck ck dasar kebo. Sudah !! bangun lagi. Sebaiknya tetap berada di sini jangan masuk ke ruang dimensi sebelum aku mengizinkan paham." Ujar Putri Amelia lagi. Alin pun menganggukkan kepalanya dengan malas.
"Baiklah nona" ujar Alen sambil menguap. Mereka semua tersenyum melihat tingkah Alen seperti itu.
Sungguh kakek yang baru aja dan berkedok bocil ini tak habis-habisnya menghibur mereka dengan tingkah lakunya. Putri Amelia pun langsung menghadap pangeran William berniat untuk pamit.
"Pangeran. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal padaku. Aku akan mengingat semuanya dan begitu pula sebaliknya paham...!! Kalau begitu Kami akan pergi dulu untuk menyelesaikan masalah di kota samurai. Agar kota itu dapat beroperasi kembali." Ujar Putri Amelia dengan senyum manis di bibirnya.
Pangeran William yang memang sangat mencintai Putri Amelia itu hanya bisa mengganggu dan membiarkan kekasihnya itu pergi untuk sementara waktu.
"Baiklah pangeran. Kalau begitu kami pamit.." ujar Putri Amelia lagi. Setelah Putri Amelia membalas kecupan pangeran William dengan cepat.
Mereka semua pun langsung meninggalkan tempat tersebut. Sementara pangeran William senyum-senyum sendiri karena mendapati hal manis dari perempuan yang dicintainya.
***
__ADS_1
Kini mereka semua telah berada di tempat mereka semula. Mereka sedang berdiskusi apa jalan yang harus mereka ambil untuk membebaskan kota mati itu.
"Apa rencana Nona untuk membebaskan kota mati tersebut..? Apakah saat Nona berdiskusi dengan nenek itu, Nona bertanya cara yang harus kita lakukan..??" Tanya Sisil kepada Putri Amelia. Mereka semuanya pun membuat lingkaran kecil untuk membahas masalah ini..
"Tentu saja ada cara. Menurut dari cerita Sang nenek, cara pertama yaitu mendatangkan warga yang bersedia tinggal di tempat ini dengan catatan tidak memiliki tingkat atau bakat kultivasi. Istilahnya orang biasa yang tak punya kekuatan spiritual. Lalu yang kedua, yaitu menggunakan kekuatan penuh untuk menghancurkan simbol yang menutupi kota tersebut dengan sekali pukulan. Jika tidak maka kota mati itu akan benar-benar hilang dari peradaban dunia." Ujar Putri Amelia lagi. Mereka semua pun menganggukkan kepala mereka tanda mengerti.
"Lalu jalan apa yang harus kita ambil nona..?? Apakah kita akan pergi mencari warga yang bersedia tinggal di tempat ini. Sementara mereka tahu bahwa tempat ini telah dikutuk oleh penyihir." Ujar ruby memberikan usul kembali. Putri Amelia pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti maksud kekhawatiran ruby.
"Sebelumnya, aku telah berdiskusi kepada pangeran William mengenai kota samurai ini. Pangeran William mengatakan, sangat mustahil jika mencari para warga yang bersedia tinggal di kota ini. Karena rata-rata kota samurai ini telah menjadi sejarah turun temurun. Jadi mereka sudah mengetahui cerita versi yang sebenarnya yang terjadi pada kota ini. Jadi sudah pasti mereka tidak akan berani tinggal di tempat ini. Pangeran William menyetujui usul yang kedua untuk membebaskan kota ini. Menurutnya, aku sendiri sudah bisa menghancurkan kota tersebut, namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan alangkah baiknya kita semua menyatukan kekuatan kita untuk menghancurkan araya pelindung itu. Dan aku rasa itu juga cukup masuk akal." Ujar Putri Amelia lagi.
"Kalau seperti itu kami juga setuju nona. Barangkali setelah kota samurai ini dibebaskan dari simbol kutukan, mereka dapat terbebas dan juga adalah beberapa warga yang akan tinggal di tempat ini." Ujar Sisil memberikan usulnya lagi.
Ternyata tak hanya Sisil, mereka semua pun ikut menyetujui usul tersebut.
"Kalau begitu tunggu apa lagi nona...!!! Kita harus segera pergi berpetualang bukan. Bukankah Nona sudah berjanji hanya akan pergi berpetualang selama setahun kepada pangeran William..??" Ujar Allen sambil menaik turunkan alisnya membuat Putri Amelia melotot.
Dari mana ada yang tahu apa yang disampaikannya kepada pangeran William. Bukankah saat mereka berada di tempat itu, Putri Amelia tak dapat berkomunikasi dengan Alen.
Yang otomatis Alen tak dapat mendengarkan apa yang disampaikan pangeran William terhadapnya dan begitu pula sebaliknya. Menyadari perubahan wajah Putri Amelia, Alen tersenyum jahil.
__ADS_1
"Tidak perlu terkejut seperti itu nona. Aku juga sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap kalian berdua hehehe... " Senyum yang Alen tunjukkan adalah senyum menggoda kepada Putri Amelia.
Putri Amelia yang kembali memikirkan apa yang mereka lakukan kala itu membuat Putri Amelia sedikit merona dan malu. Padahal kan cuma pelukan dan ciuman saja untuk melepas rasa rindu mereka. Tapi Putri Amelia masih merasa malu tentang itu hahaha.