PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
34. mencari keberadaan Putri


__ADS_3

"lalu, bagaimana selanjutnya. kami juga akan membantu mencari keberadaan Putri, karena ada titah dari ayah untuk membawa nya ke kerajaan Merkurius sementara waktu." ujar pangeran James menjelaskan agar tak menjadi kesalah pahaman.


"terima kasih banyak pangeran mahkota. kita akan segera menyelesaikan konflik ini, agar segera mencari sang putri." putus pangeran Juan. karena, mereka berada di wilayah kerajaan Venus, maka mereka semua menuruti apa yang di putuskan oleh sang penerus kerajaan itu.


flas of.


setelah urusan wilayah Utara selesai. para pangeran dari kerajaan venus mengirimkan surat kepada sang raja, penguasa kerajaan Venus. Mengenai mereka yang tidak akan kembali terlebih dahulu ke kerajaan Venus.


***


Sementara tepatnya di rumah makan Amelia tengah terjadi keributan. Para perwakilan dari rumah makan seribu bunga dan rumah makan anjaloga, menerobos masuk ke dalam rumah makan dan memanggil-manggil pemilik rumah makan.


"Hei siapa pemilik rumah makan ini, keluarlah kami ingin membuat perhitungan denganmu !!!" Seru mereka dengan suara yang menggelegar tentu saja membuat para pelanggan Dan juga beberapa orang yang makan di rumah makan itu sontak menjadi takut.


"Bukankah mereka adalah orang-orang dari rumah makan seribu bunga ya..??" Tanya beberapa pelanggan rumah makan Amelia yang tengah menikmati makanannya itu.


"Iya benar. Tak hanya orang-orang dari rumah makan seribu bunga, tapi ada juga orang-orang dari rumah makan anjaloga." Timpal yang lain.

__ADS_1


"Kamu bener !!! Tak hanya orang-orang dari rumah makan seribu bunga, tapi ternyata ada juga orang-orang dari rumah makan anjaloga. Wah perasaan ku mendadak jadi tidak enak. " Timpal yang lainnya lagi. Mereka semua saling memandang satu sama lain. Sudah dapat dipastikan bahwa kedatangan mereka pasti ingin membuat kekacauan. Mendadak mereka menjadi merasa kasihan kepada pemilik rumah makan. Karena yang mereka tahu, sang pemilik rumah makan adalah perempuan. Tahulah Bagaimana kodrat perempuan itu.


Mendengar keributan yang diciptakan oleh orang orang dari kedua rumah makan tersebut, pak bujang yang di percaya sebagai seorang pengolah rumah makan itu, berlari sedikit menghampiri mereka. Tak ada rasa takut dalam sorot matanya, ia hanya menghawatirkan kondisi dan keamanan para pelanggan yang datang itu.


"Maaf, kenapa para tuan-tuan membuat keributan disini?. Jika ada sesuatu yang tuan tuan butuhkan, Tuan tuan bisa meminta dengan baik." Ujar pak bujang dengan tatapan tegasnya. Ia masih ingat, bagaimana sang nona mengingatkan dirinya untuk tidak takut menghadapi sesuatu, apapun itu. Pak bujang juga mengingat dengan baik, bagaimana sang nona membenci orang yang begitu mudah untuk menyerah sebelum bertindak.


"Anda siapa ? Apakah anda adalah pemilik rumah makan ini. Jika memang iya, anda harus menutup rumah makan ini. Dan menjual resep masakan yang ada di rumah makan ini pada kami." Seru salah satu dari mereka. Sungguh tau diri memang. Mendengar penuturan itu, mata pak bujang langsung melotot. Bukan karena takut, namun mereka mengatakan itu tanpa ragu. Sementara, para pengunjung beberapa ada yang langsung keluar setelah membayar makanan mereka, bahkan sisa makanannya masih di bungkus. Ada juga beberapa yang memilih untuk bertahan. Mereka ingin melihat, sejauh apa tindakan yang akan dilakukan oleh orang orang dari kedua rumah makan itu. Mereka juga penasaran, apa yang akan di lakukan oleh putri Amelia mengenai kejadian ini.


"Wah !! Lancang sekali mulut anda tuan. Kami tentu saja tidak akan melaksanakan apa yang engkau katakan tuan. Kita disini sama-sama mencari kehidupan, hanya saja persaingan yang ketat membuat kalian menjadi tidak tau diri. Seharusnya, kalian tidak mengatakan hal itu kepada kami, karena sama saja, kalian ingin mencuri resep masakan kami. Dan itu sangat memalukan." Ucap pak bujang tanpa gentar. Setahun bekerja dan mengabdi serta setia kepada Amelia, mampu mengubah karakter pak bujang.


"Hahaha... Kami tidak peduli. Mau itu memalukan atau tidak !! Kami hanya menginginkan kalian menutup rumah makan ini dan menjual resep masakan kalian kepada kami. Atau kalian akan kehilangan nyawa kalian" ancamannya lagi. Sisil yang kebetulan datang untuk memeriksa keadaan rumah makan, mendengar penuturan itu langsung tersenyum sinis. Seperti orang itu salah pilih lawan.


"Heh.. mau menantang mantan panglima perang, sungguh miris." Lirih Sisil sambil tersenyum mengejek.sunngguh sangat lucu menurut Sisil. Mereka saja, belum tentu dapat menyaingi sang mantan panglima perang, mengingat pengalaman berperang nya yang sangat mahir dan Handal.


"Apakah Anda mengancam kami tuan." Ujar pak bujangan yang bernama asli panglima Jhonatan itu. Namun ia menyamar kan namanya dengan pak bujang. Ia berbicara dengan datar dan sangat dingin hingga menusuk ketulang.


Melihat itu, beberapa orang dari pihak lawan, termasuk orang sombong yang berbicara tadi. Ia memundurkan langkahnya. Ia merasa, ada sesuatu yang membuatnya memundurkan langkahnya. Padahal, aura pak bujang belum keluar.

__ADS_1


( Kenapa ini ? Kenapa mendengar suaranya saja langsung membuat aku seperti ini. Siapa laki-laki paruh baya ini sebenarnya ) batin orang itu tak hanya orang itu, bahkan temannya yang lain pun ikut merasa ketakutan. Mereka semua saling memandang satu sama lain. Beberapa pengunjung rumah makan yang masih bertahan itu, juga ikut merinding.


" Eh.. kenapa tiba-tiba, aku merinding ya, mendengar suara lelaki paruh baya itu.?" Ucap seorang pengunjung kepada temannya.


"Kamu benar. Sepertinya, orang itu bukan orang biasa. Jika memang seperti itu, hebat juga rumah makan ini. Bangunan nya bagus, makanan nya enak, bahkan yang menjaga dan bertanggung jawab pun hebat. Kalau begitu mah, ngak perlu takut lagi, kalau datang makan di tempat ini, pasti di jamin aman." Timpal yang lain. Beberapa orang yang mendengar penuturan itu pun ikut membenarkan. Sisil yang masih mengamati pun tersenyum lagi.


"Heh, baru dengan suaranya saja, kalian sudah takut. Apalagi ia mengeluarkan auranya. Gurunya nona Amelia bos. Jangan macam-macam." Monolog Sisil. Ia sangat menikmati pemandangan seperti itu. Pantas saja, anak-anak pak bujang alias panglima Jhonatan ini hebat hebat, ternyata cikal-bakal mereka juga berbobot.


Flashback


Saat pak bujang mendapat kabar dari putri Amelia. Ia dan keluarganya yang sudah lebih dulu menetap di kota raja, langsung datang menemuinya di kediaman Amelia langsung. Ia datang bersama dengan keluarganya yang sudah kembali sehat sedia kala. Mereka tampak berseri seri.


Tok tok tok


Mereke mengetuk pintu kediaman itu. Bahkan mereka agak ragu, tapi mereka tetap menemuinya. Tiga kali pintu kediaman diketuk, dan memanggil. Akhirnya pintu pun terbuka.


Ceklek

__ADS_1


__ADS_2