
Sisil dan Rubi, yang masih belum pernah bertarung sebelumnya karena belum dapat lawan, sontak menjadi kegirangan. Seperti mendapat mainan baru saja.
"Benarkah nona. Yakin..!!!" Seru mereka berdua dengan serentak sambil menatap kearah putri Amelia. Amelia tersenyum mendengar dan melihat ke konyolan mereka.
"Heh.. tentu saja. Cepatlah. Aku duduk disini dan menikmati pertunjukan saja.." ujar Putri Amelia langsung berjalan mencari kursi yang masih tersisa disana. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya diatas kursi itu sambil menyilangkan kakinya. Sementara itu, si hitam dan si biru juga ikut ikutan.
"Hehehe... Selamat bertugas... Cayo.." ujar mereka sambil mengangkat sebelah tangan mereka untuk memberi semangat kepada keduanya. Kemudian setelah itu, si biru dan si hitam langsung menghampiri sang Mona yang sudah duduk terlebih dahulu di kursi.
Sementara mereka berdua memilih untuk berdiri di belakang kanan dan kirinya. Tapi tidak disangka, Amelia yang melihat si hitam dan si biru berdiri di belakangnya langsung menepuk dua buah kursi yang masih ada di sampingnya dan menyuruh mereka duduk.
"Duduklah di samping kiri kananku. Jangan berdiri di belakangku seperti seorang pengawal seperti itu. Biru hitam aku bukan orang yang lemah. Cepatlah duduk !!!!" Saru Putri Amelia kepada keduanya.
Si hitam dan si biru yang memang sudah dekat kepada Putri Amelia memang sudah mengenal karakternya. Tapi mereka berdua tentu saja tahu di mana posisi mereka. Namun karena sudah disuruh dan diminta seperti itu oleh sang nona, mau tak mau mereka harus mengikutinya.
"Baiklah Nona dengan senang hati...." Seru mereka dengan riang gembira. Walaupun tampang mereka adalah seorang pemuda-pemuda dewasa, namun tentu saja umur mereka masih seorang bayi kalau dalam ukuran umur manusia. Sementara Amelia berumur 16 menuju 17 tahun. Belum debut tante juga ternyata ya.
Setelah mereka berdua duduk di samping Putri Amelia. Kini mereka fokus memperhatikan kedua nona cantik yang mendapat perintah untuk bertarung bersama dengan kelompok pembuat onar atau para perampok itu. Sang ketua perampok yang melihat hal itu menjadi geram. Dua gadis cantik ini seharusnya tak bertarung dengannya, seharusnya mereka melayaninya di tempat tidur dan bersenang-senang dengannya
__ADS_1
"Heh !!! Para nona-nona yang cantik... Sebaiknya kalian tidak usah bertarung denganku ya... Alangkah baiknya kalian menemani diriku untuk bersenang-senang hahaha..." Ujar sang ketua komplotan tertawa dengan riang gembira. Sisil dan Rudi yang mendengar penuturan sang ketua komplotan itu tersenyum sinis.
"Kalau kau bisa mengalahkan kami, kami akan menuruti semua apa yang kamu inginkan !! Tapi kalau tidak,? Kamu akan kehilangan salah satu anggota tubuhmu atau mungkin meninggal." Ujar Sisil dan ruby sambil sambung menyambung. Sang ketua komplotan kembali tertawa melihat dan mendengar penuturan Sisil dan ruby.
"Hahaha... Sayangnya aku tidak ingin melukai kalian. Karena kalau kalian berdua terluka maka tidak akan cantik lagi. Jadi lebih baik kalian tidak memancing ku untuk menyerang." Ujar sang ketua komplotan lagi dengan sombong.
Kenapa sang ketua komplotan berbicara dengan begitu arogan ? Karena ia tak melihat tingkat kultivasi Putri Amelia dan keempat sahabat sekaligus pelayannya itu. Sehingga ia berpikiran bahwa kelimanya hanyalah orang bodoh yang mencari gara-gara dan masalah dengannya.
"Banyak bacot nih orang !!" Terus Sisil yang sudah merasa geram. Iya pun langsung lekas menyerang ketua komplotan yang banyak omong itu. Ya di antara mereka semua silsilah yang paling cepat terpancing emosi. Dan juga Sisil juga orangnya yang selalu suka bikin humor di antara mereka. Tapi tingkat Sisil yang tidak sabaran itu masih dalam tahap wajar.
Sring
BRUKK KRAK
Suara benturan itu terdengar jelas di telinga para kelompok yang lain. Melihat hal itu Putri Amalia tersenyum melihat tingkah Sisil yang begitu impulsif. Para kelompok komputer itu yang melihat ketua mereka melayang akibat menerima pukulan dari Sisil, seketika menjadi melongo.
Apa !!! Kenapa perempuan yang tak terbaca tingkat kultivasinya ini mampu melayangkan ketua mereka. Padahal sang ketua telah berada di tingkat bumi level 3. Negara atau dunia ini yang mengenal motivasi tingkat bumi sudah sangat tinggi itu tentu saja tidak percaya kalau ketua mereka bisa terpental jauh karena menerima pukulan dari seorang perempuan yang tak terbaca tingkat motivasinya itu.
__ADS_1
Seketika orang-orang itu pun tersadar dan langsung melayangkan tatapan mereka kepada Sisil yang menyerang ketua mereka. Sementara sebagian dari anggota komplotan itu langsung menghampiri sang ketua yang sudah terkapar di sana.
"Berani sekali Anda menyerang ketua kami seperti itu!!!" Seru salah satu pemuda yang memiliki brewok seperti kambing itu. Sisil mengamati tangannya yang tadi ia gunakan untuk menyerang ketua tersebut.
"Wah ternyata aku cukup kuat dan hebat. Aku tak pernah membayangkan bahwa aku akan berada ke tahap ini. Hehehe..." Ujar Sisil sambil memuji dirinya sendiri. Iya juga langsung menegakkan kepalanya dan menatap orang yang tadi berbicara kepadanya dengan gaya yang arogan. Sementara Ruby yang melihat si sil seperti itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
," Ck... Dasar kamu sil.!! Ayo cepat selesaikan mereka, Nona tidak ingin berlama-lama." Ujar ruby kepada Sisil. Ruby sendiri tidak terkejut lagi dengan kekuatannya, karena sebelumnya saat ia pergi bersama si biru Mereka telah bertemu beberapa komplotan yang jauh lebih kuat dari mereka ini. Dan ruby juga sudah mencoba kekuatannya bersama dengan si biru.
"Hehehe baiklah.." ruby dan Sisil pun segera bertindak dan menyerang mereka semua tanpa ampun. Beberapa pemuda yang dahulu pernah menjadi cenderamata mulai menjauh dari lokasi konflik. Begitu juga sang pemilik rumah makan, ia melindungi istri dan anak-anaknya dari amukan mereka itu.
BRAK BRUK KRAK ARRGG
Suara pukulan dan hantaman terdengar begitu nyaring bahkan suara teriakan-teriakan pilu juga tak dengar dari kelompok yang diserang oleh Sisil dan ruby itu. Beberapa orang yang masih bertahan walaupun bersembunyi itu menggigil mendengar suara teriakan tersebut. Sampai akhirnya para komplotan itu memilih untuk melarikan diri walaupun dengan tertatih-tatih. Sisil dan Ruby yang melihat mereka melarikan diri langsung dicegat oleh Putri Amelia.
"Sudah tidak usah dikejar !! Sebagai seorang ksatria sejati pantang baginya untuk memburu lawannya apabila mereka telah menyerah dan melarikan diri. Kita hanya perlu menunggu mereka saja. Aku yakin pasti mereka masih memiliki komplotan yang lain." Ujar Putri Amelia mengeluarkan analisisnya.
Mendengar perintah dari Putri Amelia, Sisil dan ruby pun langsung menghentikan aksi mereka dan kembali berjalan ke arah para pemilik rumah makan dan menyerahkan sekantong yang berisi koin emas sebagai ganti rugi karena telah merusak berbagai fasilitas yang ada di rumah makan ini. Ya walaupun tak sepenuhnya itu salah mereka.
__ADS_1
Flashback off