PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
64. mencari bambu


__ADS_3

suasana di desa tersebut terlihat begitu sangat hangat. diskusi yang dilakukan Putri Amelia dengan para warga terlihat begitu kompak dan tenang. para warga juga begitu sangat antusias dalam pembangunan desa mereka ini, baik dari infrastruktur dan juga pertanian atau penghasilan mereka.


"Baiklah Pak. Carilah bambu yang kuat dan kokoh. Jangan mengambil bambu yang mudah patah dan tidak bisa bertahan lama. Karena setahu saya ada dua jenis bambu ya pak. Ada yang kuat dan Koko ada pula yang mudah patah dan agak tipis." Ujar Putri Amelia lagi. Tanpa harus menjelaskan lebih rinci, para warga pun telah mengerti bambu seperti apa yang dimaksud oleh Putri Amelia.


"Baiklah nona. Karena kami harus bergerak cepat, kalau begitu kami pamit undur diri. Dan juga terima kasih banyak atas jamuan nona. Sungguh makanan dan minuman yang disediakan adalah harta yang paling berharga untuk kami. apalagi, makanan ini belum pernah kami makan sebelumnya. " Ujar Pak Sono lagi berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. putri Amelia lagi-lagi tersenyum hangat.


"Baik Pak Sono, sama-sama.." setelah berunding, Para bapak-bapak pun langsung bergerak cepat untuk mengumpulkan bambu-bambu yang diperlukan untuk membuat perangkap ikan. Sementara Putri Amelia, kembali masuk ke dalam kediaman kecilnya itu dan bersiap untuk pekerjaan dan misi hari ini.


***


Dengan semangat 45. Para warga pun langsung mengambil golok mereka dan pergi ke hutan untuk mencari bambu. Sementara Putri Amelia dan kawan-kawannya, yang dengan cepat menyusul, tapi para bapak-bapak belum kembali juga.


Akhirnya Putri Amelia memutuskan untuk berkeliling melihat kondisi dan situasi di desa ini. Ternyata tak hanya berada di pinggiran pantai, desa dan pemukiman ini juga berdiri kokoh sebuah tebing yang menjulang tinggi. Yang melintang, mulai dari bibir pantai sampai ke arah dataran tinggi. Tak lupa juga Julia menyapa beberapa ibu-ibu atau anak-anak yang ada di sana.


Namun menurut dari pengamatan Putri Amelia.


Desa ini begitu subur dan memiliki sumber daya yang banyak untuk dibudidayakan. Tapi masyarakat di sini begitu bodoh dan tak bisa membudidayakan tanaman-tanaman yang ada. menyadari hal itu, Membuat Putri Amelia menjadi penasaran. Padahal, sebelumnya si hitam dan si biru telah menyampaikan bahwa Desa ini merupakan desa terpencil dan tertinggal, serta desa yang penuh dengan kebodohan. untuk mengusir rasa penasarannya, putri Amelia pun memutuskan untuk bertanya.

__ADS_1


"Maaf Ibu.. Apakah di sini tidak ada tanaman-tanaman lain yang bisa digunakan untuk menjadi bahan makanan ya..??" Tanya Putri Amelia kepada beberapa ibu-ibu yang sepertinya sedang membuat sesuatu. salah satu ibu-ibu itu pun merespon sambil bersitatap dengan nya.


"Iya nona. Memang di desa kami ini tak ada yang melakukan atau menanam apapun di tanah subur ini. Kendalanya banyak nona, untuk mengolah tanahnya alat yang kami miliki hanya sebagian kecil dan itu pun seadanya. Kemudian, kami tidak tahu cara pembudidayaan tanaman dan juga kekurangan tanaman yang akan dibudidayakan. Tapi kalau soal untuk bekerja, Jika ada yang membimbing kami kami akan mengerjakannya nona. Namun selama bertahun-tahun nyatanya kami dilupakan di tempat terpencil ini. Sehingga di tempat ini kami hidup dengan prinsip Siapa yang kuat dia yang bertahan. Tapi bukan berarti kuat dalam ilmu bela diri atau lainnya. Melainkan kuat dalam menghidupi diri sendiri atau keluarga, kami juga tak melakukan sistem gotong royong karena kami semuanya sama-sama kekurangan." Jelas ibu-ibu itu.


Putri Amelia yang mendengar curhatan Ibu tersebut, hanya mampu mengganggu anggukkan kepalanya saja. Ia juga cukup memaklumi. jangankan untuk membuat sebuah pertanian atau membudidayakan tanaman, rumah saja, mereka hanya memanfaatkan beberapa dedaunan sebagai atap dan juga dinding rumah mereka. Bahkan rumah yang mereka buat itu persis seperti lorong jika berdiri hanya sebatas dada atau sebatas perut. Seperti sarang semut gitu.


"Mmm... Begitu ya Bu. (Berarti jika ingin membangun desa ini, harus di mulai dari membangun tempat tinggal untuk mereka, sekaligus mengajarkan cara bercocok tanam. Setelah itu, baru nanti masuk ketahap selanjutnya)." Gumam Putri Amelia sekaligus menyambung dengan hatinya lagi, sambil menganggukkan kepalanya.


"makasih ya Bu. ibu lanjutkan saja aktivitas dan kegiatan ibu. saya masih ingin keliling" ujar Putri Amelia lagi.


"baik Nona, sama-sama." balas ibu itu tak kalah ramah.


"Pantas saja menghilang, ternyata sedang kerja bakti ya..." Ujar Putri Amelia mengukir senyum di bibirnya.


Sementara, Sisil dan ruby juga tidak tau rimbanya, setelah berpamitan kepada putri Amelia, kini batang hidung mereka tak terlihat. Namun Julia tak masalah, asalkan mereka dapat mempetanggung jawabkan hidup mereka.


BRAKK

__ADS_1


Ketiga pemuda tampan itu, yang tak lain adalah kawan-kawan Julia, meletakkan bambu-bambu itu dengan kasar sehingga mengeluarkan bunyi nyaring.


"Huh.. ternyata cukup melelahkan nona. Tapi sangat seru, saling membantu dan bergotong royong bersama. Hanya saja, para bapak-bapak kesusahan menebang bambu-bambu itu, karena sarana yang mereka gunakan itu tumpul." Ucap Alen merasa kasian.


Ia sebenarnya ingin menggunakan kekuatan nya, tapi tidak berani. Takut sang nona nanti malah mengomeli nya, karena mengeluarkan kekuatan dengan sembarang.


"Tidak apa-apa. Ini baru permulaan. Dan inilah yang harus kita sejahtera kan, sebelum kita kembali melanjutkan perjalanan kita. Jadi, kalian harus semangat." Ujar Amelia lagi. Ia cukup respect kepada ketiga pemuda kecil yang menyamar jadi manusia dewasa ini. Mereka cukup berani dalam bertindak.


"Tapi, apakah kalian melihat Sisil dan rubi..?? Dari tadi setelah pamit, aku tak menemukan mereka lagi." Ujar Putri Amelia.


Mereka semua sontak menggelengkan kepala mereka, karena tidak mengetahui nya. Putri Amelia pun hanya menghela nafasnya saja melihat respon ketiga nya.


"Ah.. yasudah lah. Barangkali mereka sedang mengerjakan sesuatu.." ujar Amelia penuh dengan pikiran pikiran positif. Saat mereka sedang mengobrol sambil menunggu Semua bapak-bapak itu berkumpul. Tiba-tiba, pak Sono datang menghampiri mereka.


"Maaf Nona, mengganggu. Kami sudah mengumpulkan semua yang nona minta." Ujar pak Sono.


Putri Amelia pun langsung menganggukkan kepalanya dan mengikuti pak Sono. Begitu juga dengan ketiga mahluk itu. Tapi, sesampainya putri Amelia di tengah tengah bambu untuk mengecek kualitas nya, tiba-tiba Amelia mengingat satu bahan lagi

__ADS_1


yang harus ada.


__ADS_2