
diskusi terus berlanjut, antara Putri Amelia dan para warga.
"Maaf ya bapak-bapak, sepertinya penuturan saya membuat bapak-bapak bingung. Keropos itu sama dengan artinya lapuk dan tak bisa digunakan akibat sesuatu." Jawab Putri Amelia lagi.
"Oh begitu... Kami paham nona.." jawab Mereka lagi. Kemudian Putri Amelia kembali melanjutkan ucapannya.
"Selanjutnya, pastikan juga bahwa kayu itu Tidak Memiliki Gubal. Sementara gubal itu adalah bagian kayu yang terdiri dari sel-sel yang masih hidup dan masih berfungsi. Tugas kayu gubal adalah menyalurkan bahan makanan dari daun ke bagian-bagian pohon yang lain. Cara untuk memilih kayu jati yang berkualitas juga bisa dengan memiliki kayu yang tidak ada gubal. Apabila tidak memungkinkan, maka pilih kayu dengan gubal paling sedikit. " Jelas Putri Amelia lagi.
Mereka semua kembali mengganggu anggukkan kepala mereka. Sementara Putri Amelia yang mengatakan kata ambigu lagi langsung menjelaskannya agar tidak ada pertanyaan dari para warga.
"Baik Nona kami mengerti..!! Jadi bagaimana bagusnya... Apakah hari ini beberapa orang akan pergi mencari kayu jati seperti yang disebutkan nona, dan juga beberapa yang lain akan berada di sini untuk mengerjakan setengahnya. Atau membuat menyusun papannya dulu sambil menunggu tiangnya.." usul salah satu dari mereka.
Tentu saja mereka semua ingin segera pelabuhan tersebut diselesaikan. Apalagi ada beberapa paru-paru baya Yang sepertinya diajarkan oleh Putri Amelia untuk membuat rakit atau sampan.
"Saya rasa juga begitu. Agar pekerjaan kita bisa mempersingkat waktu, alangkah baiknya kita bagi dalam beberapa kelompok saja. Ada yang pergi ke hutan untuk mencari kayu jati sebagai penyangga pelabuhan nanti, dan ada juga yang berada di sini untuk membuat badan atau menyusun pijakan nanti yang akan diletakkan di atas tiang." Putri Amelia pun tersenyum melihat betapa tenangnya jalan diskusi mereka. Tanpa banyak tanya, semua orang pun setuju.
Setelah mendapatkan persetujuan dari para warga yang lain. Akhirnya mereka membagi dua kelompok, di mana kelompok kelompok ini akan bekerja sesuai dengan apa bagian yang mereka dapatkan.
***
Saat mereka sedang mengerjakan beberapa rumah dan juga pelabuhan. Tiba-tiba, beberapa kelompok bersenjata lengkap dengan pentungan dan yang lainnya, datang mengganggu warga yang sedang bekerja melanjutkan pekerjaan rumah mereka yang masih belum siap seratus persen itu.
__ADS_1
Sontak, kedatangan kelompok ini ternyata tak membuat para warga waspada. Karena, mereka sedari dulu telah terlatih untuk melihat keadaan dan juga tidak panik, agar nanti mereka bisa berpikir dengan baik.
"Hei... Kalian para rakyat jelata. Serahkan semua harta benda yang kalian miliki..!!!!" Seru kelompok bersenjata itu.
Dan, ternyata mereka adalah kelompok perampok yang selalu mendatangi tempat tempat yang menurut mereka mudah untuk dirampok. Dulu, mereka tidak tau mengenai desa bambu ini.
Karena, mengingat, rumah mereka yang mereka bangun seperti berbentuk tenda yang hampir sama atau sejajar dengan tanah. Apalagi, semak-semak yang tumbuh dan juga keberadaan bambu-bambu di sekeliling desa, mampu menyamarkan keberadaan para warga ini.
Mendengar teriakkan yang begitu menggelegar dari orang-orang yang berjambang lebat dan tubuh yang besar itu, membuat sebagian warga termasuk ibuk-ibuk menjadi takut dan waspada. Karena tak kunjung ada respon, ketua komplotan itu kembali berseru.
"Cepat serahkan harta dan benda kalian !!! Atau, desa ini akan kami ratakan dengan tanah.!!" Serunya lagi. Mendengar penuturan itu, beberapa warga laki-laki maju sedikit dan berkata.
"Kami tak memiliki harta yang harus kami serahkan... " Ujar mereka semua tenang.
"Halah..!!! tidak. Perlu berkilah.!! Kalau kalian tidak punya uang, mana mungkin kalian bisa membangun rumah yang seperti ini.!!" Ujar mereka lagi.
"Sungguh tuan. Kami tidak memiliki uang atau harta..." Iba mereka.
Kali ini, para warga sudah mulai goyah dan ketakutan. Siapa sih yang tidak takut mati. Walaupun rasanya sudah pasrah dengan keadaan, tapi tetap saja. Mereka tetap akan menghindari hal itu.
"Sudah tuan. Kalau mereka tidak mau memberikan uang pada kita, ambil saja anak-anak gadis di desa ini untuk menemani malam-malam kita tuan." Ujar salah satu anggota itu, memprovokasi sang ketua yang dianggap kuat itu.
__ADS_1
Mendengar usul dari salah satu bawahannya, orang yang berbadan besar yang dianggap ketua itu pun langsung tersenyum sinis. Tentu saja hal itu tidak boleh dilewatkan bagi mereka. Kalau tidak bisa ke rumah bordir untuk bersenang-senang, Kenapa tidak menculik gadis-gardis desa yang cantik-cantik itu.
"Benar juga usul mu.. lalu, kalian tunggu apa lagi. Kalau para rakyat jelata ini tak mau memberikan uang dan harta mereka, rampas saja anak-anak gadis mereka untuk kita ajak bersenang-senang." Seru ketua tersebut.
Para gadis-gadis muda yang memang berada di luar untuk membantu, menjadi sangat takut. Apalagi, di desa mereka ini, tak ada seorang kesatria atau pun orang yang kuat untuk berlindung.
Dan tanpa ampun, kelompok penjahat itu, mulai menggeledah rumah para warga yang memang tak punya apapun selain panci penanak nasi. Dan juga, dengan kejamnya, mereka menyeret dan memaksa anak-anak gadis di desa mereka ini untuk ikut. Bapak-bapak yang memang tak memiliki kekuatan untuk melawan, hanya bisa memohon, agar anak-anak gadis mereka di lepaskan.
Maka, sesaat kemudian, suasana di desa bambu itu terlihat kacau, para warga yang berteriak memohon untuk anak gadis mereka agar dilepaskan, dan juga komplotan penjahat yang melakukan tindakan anarkis kepada para warga. Desa bambu dalam sekejap seperti menjadi tempat penyiksaan yang memilukan.
"TUAN, TUAN TOLONG... LEPASKAN ANAK SAYA TUAN. TOLONG JANGAN BAWA MEREKA.." teriak seorang ibuk-ibuk bersama dengan suaminya yang berusaha menghalangi para penjahat itu untuk membawa putri mereka.
Tapi, langsung mendapat tabokan keras di pipi sang bapak, yang membuatnya langsung mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Tapi, sang ayah tak berhenti disitu, ia kembali menangkap sebelah kaki penjahat itu untuk memohon, namun malah ditendang dan terhempas jauh.
BRAK
"BAPAK..!!!" teriak ibu dan si anak gadis yang masih berada di tangan penjahat itu. Sang istri pun menyusul suami nya yang sudah pingsan. sementara sang gadis memberontak ingin dilepas.
"lepaskan saya tuan.. saya mohon lepaskan saya..!!!" seru sama gadis memohon kepada para penjahat itu.
Keadaan itu juga tak jauh berbeda dengan warga yang lain, yang menghalangi para penjahat itu untuk tidak membawa anak-anak mereka. Suasana itu benar-benar kacau dan tak terkendali. Tapi, tiba-tiba terdengar teriakan yang begitu menggelegar.
__ADS_1
"HENTIKAN !!! " suara itu terdengar sangat keras hingga mampu membuat pikun Seketika.
Dalam keadaan kacau itu, semua nya tiba-tiba terhenti. Mereka semua fokus pada orang yang berteriak sangat keras tadi. Terlihat, dua orang gadis cantik yang berpakaian biasa, dan juga memikul satu ekor rusa di pundak masing masing. Siapa lagi kalau bukan Sisil dan Rubi. Mereka baru saja pulang berburu dan mencari makanan dihutan, dengan beberapa gadis dan laki-laki lain nya.