PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
101. desa yang selalu di porak-porandakan


__ADS_3

"Tidak perlu pak tua. Kalian cukup tunggu kami disini. Kami akan segera kembali." Setelah mengatakan hal itu, putri Amelia langsung mengajak kedua sahabatnya untuk pergi berburu.


Ternyata, tak sampai satu jam mereka pergi, mereka Kembali lagi dengan membawa satu ekor rusa yang ukuran nya sangat besar dan beberapa ayam hutan lainnya. Para warga yang memang nota benenya kelaparan itu bersorak gembira melihat kedatangan Putri Amelia dan teman-temannya.


"Wah!! Nona. Ini sangat besar sekali. Mari, biarkan kami yang akan memasaknya nona." Ujar salah seorang warga disana. Dengan senang hati putri Amelia memberikan hasil buruan mereka untuk segera di olah dan di masak oleh para warga. Terlihat, wajah mereka begitu bahagia saat ini.


Dalam sekejap, suasana di halaman terbuka menjadi ramai dihadiri oleh para warga dan ibu-ibu lainnya yang membantu proses pematangan rusa dan juga memasak makanan lainnya yang diburu oleh Putri Amelia dan teman-temannya.


Namun walaupun terlihat ramai, tapi suasana sangat kondusif dan masing-masing dari para warga mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Mereka semua bergotong-royong untuk memasak daging-daging dan makanan-makanan yang dicari oleh Putri Amelia dan teman-temannya.


Karena pekerjaan itu adalah sistem gotong royong, sehingga tak membutuhkan waktu yang lama, masakan-masakan itu pun selesai. Karena bukan Putri Amelia dan teman-temannya yang mengambil alih untuk pemasakan daging, jadi rasa daging rusa tersebut biasa-biasa saja dan tak mengeluarkan aroma sedap. Namun mereka semua tetap gembira.


"Ayo nona-nona. Makanan dan dagingnya telah selesai dimasak. Mari.." ujar Pak tua itu mengajak Putri Amelia dan teman-temannya duduk untuk menyantap makanan hasil buruan mereka.


Putri Amelia dan teman-temannya pun duduk dan menyantap makanan yang telah disediakan. Namun, yang membuat Putri Amelia menjadi heran adalah, para warga hanya menatap mereka dan tidak bergabung untuk makan.


"Pak tua. Kenapa tidak bergabung bersama kami. Ajak juga para warga lainnya untuk makan bersama." Ujar Putri Amelia kepada Pak tua tersebut. Pak tua itu pun tersenyum tulus dan menggelengkan kepalanya.


"Maafkan kami nona. Karena bahan makanan ini Nona dan teman-teman Nona yang mencari, ditambah lagi nona-nona semua adalah tamu di kampung kami, maka kami akan mempersilahkan nona-nona bertiga untuk makan terlebih dahulu. Setelah itu baru kami akan makan belakangan." Ujar Pak tua dengan penuh sopan santun.

__ADS_1


Mendengar penuturan Pak tua tersebut, Sisil dan Ruby yang masih menyantap makanan di mulut mereka sontak menghentikan aksi mereka tersebut dan menetap ke arah Pak tua.


"Kenapa harus seperti itu..?? Tidak apa-apa dan tidak perlu sungkan kepada kami. Ayo gabung makan bersama dengan kami." Ujar Putri Amelia lagi. Sisil dan ruby tidak lagi melanjutkan makan mereka, sebelum para warga ikut bergabung bersama mereka.


"Tapi nona, Kami hanyalah masyarakat biasa.. tidak pantas rasanya kami datang duduk bersama dengan para Nona bertiga." Ucap Pak tua itu lagi.


"Kalau begitu, Kalau Pak tua dan para warga lainnya tidak mau bergabung bersama kami. Lebih baik Kami pergi ke tempat lain saja. Masalahnya, kami juga menjadi risih diperlakukan seperti ini." Ujar Sisil dengan gamblangnya yang sukses mendapatkan sikutan dari Rubi. Mendengar penuturan Sisil, Pak tua itu langsung bangkit dari posisi jongkoknya dan melihat para warga lainnya.


"Tidak perlu sungkan kepada kami Pak tua. Kami bukanlah orang-orang yang memiliki pangkat tinggi atau orang-orang terhormat. Kami bertiga hanyalah gadis-gadis petualang yang tidak sengaja datang ke desa ini. Mari Pak tua makan dan bergabunglah bersama dengan kami." Putri Amelia lagi sambil tersenyum dengan ramah kepada Pak tua.


Pak tua pun ikut tersenyum melihat betapa mulianya hati para nona-nona ini. Ia tidak menyangka, bahwa saat ini dirinya telah dipertemukan dengan seorang cultivator atau pendekar yang berhati malaikat.


Mendengar penuturan Pak tua tersebut, semuanya pun langsung mengukir senyum indah di bibir mereka. Dan dengan sadar aja mereka semua ikut bergabung berbaur bersama ketiga nona-nona ini.


"Terima kasih banyak nona." Ujar para warga sambil mengambil posisi tempat duduk senyaman mereka.


Putri Amelia dan kedua temannya pun tersenyum dan menganggukkan kepala mereka. Setelah itu suasana menjadi Hening karena semua warga mulai fokus menyantap makanan mereka.


Walaupun makanan ini tidak seberapa bagi Putri Amelia dan kedua sahabatnya ini, namun untuk para warga, ini adalah makanan yang merupakan menu terenak untuk mereka. Apalagi jarang-jarang mereka makan daging, Karena Mereka takut pergi berburu ke hutan. Takutnya nanti di perjalanan malah bertemu dengan segerombolan perampok yang selalu mengusik ketenangan Desa mereka.

__ADS_1


Saat semua warga telah selesai menyantap makanan dan merasakannya. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari jauh. Di sana terdapat segerombolan orang-orang yang berpakaian tidak teratur layaknya seperti preman. Para warga yang melihat kedatangan membuat pembuat onar itu lagi sontak menjadi takut.


"Nona Untung saja kita cepat makan. Kalau tidak kita pasti akan bernasib sial." Ujar Pak tua itu dengan pelan. Putri Amelia dan teman-temannya serta para warga lainnya yang masih setia dalam posisi duduk mereka Langsung melayangkan tatapan mereka kepada komplotan itu.


"Siapa Mereka Pak tua..??" Tanya Putri Amelia dengan ekspresi datar.


"Nona, kelompok inilah yang selalu membuat Desa kami porak poranda. Mereka menghancurkan rumah kami, merampas harta benda kami dan menculik anak-anak gadis kami. Mereka adalah orang jahat Nona. Dan sebaiknya ketika Nona juga cepat meninggalkan tempat ini. Biar nanti kami yang akan menyelesaikannya." Ujar Pak tua itu dengan lirih.


Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan ketiga gadis ini. Apalagi para perampok ini memang tak hanya memporak-porandakan kondisi desa tersebut, melainkan mereka juga menyeret dan menculik anak-anak gadis mereka.


Namun peringatan dan ucapan Pak tua itu tak dihiraukan oleh Putri Amelia dan kedua sahabatnya. Mereka malah beranjak berdiri dan berjalan seperti menentang ke arah komplotan itu.


"Bapak tenang saja, mereka akan menjadi tanggung jawab Kami." Ujar Sisil dengan dingin.


Ia juga menepuk-menapuk pelan pundak Pak tua itu. Mendengar penuturan Sisil dan melihat aksi ketiga gadis itu, Pak tua mendadak menjadi cemas sendiri.


"Nona tolong jangan nekat..." Ujar Pak tua lagi dengan suara menghimba.


Ruby yang menyusul dari belakang kembali menepuk pundak Pak tua tersebut dan langsung berjalan maju menyusul keduanya. Akhirnya kedua belah pihak bertemu disatu Titik. Putri Amelia dan kedua sahabatnya menatap datar kelompok tersebut. Sementara kelompok penjahat itu menata Putri Amelia dan kedua sahabatnya dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Siapa kalian..?? Mau apa kalian datang ke desa ini..??" Katanya Putri Amelia dengan ekspresi datar.


__ADS_2