PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
39. berkaca-kaca


__ADS_3

Ia tidak tau saja, tanpa sepengetahuan dirinya, sang kakak selalu pergi kesana dan mengamati nya dari jauh. Hanya saja, kemarin ia cukup sial. Sehingga tak dapat melihat wajah gadis nya. Para pangeran dari kerajaan venus pun sangat senang mendengar nya.


"Lalu pangeran, apakah ia baik-baik saja ?? Dimana dia tinggal pangeran ?" Tanya pangeran Juan dengan mata yang tiba-tiba mulai berkaca-kaca. Ada rasa senang mendengar keberadaan adiknya. Melihat keantusiasan dari para pengeran, mau tidak mau, pangeran Melvin yang harus bercerita, karena kalau mengandalkan pangeran William, ia terlalu dingin.


"Hah !! Dia baik-baik saja pangeran. Tapi saya tidak ingin bercerita, alangkah baiknya kita ketempat nya saja. Karena, kami pun berencana akan kesana. Satu lagi, kakak itu sangat cantik dan masakannya juga sangat enak. Lalu, ia juga gadis yang tegas. Aku begitu menyukai nya ayah.." ujar pangeran Melvin Langsung melirik kearah sang ayah. Mendengar itu, pangeran William berdehem.


"Hem hem, yang kamu puji adalah calon istri ku pangeran Melvin." Ujar pangeran William dengan dingin. Pangeran Melvin pun kembali memasang wajah kesal.


" Ya, lagi pula, ayah belum menyetujui. Iyakan ayah..??" Tanya pangeran Melvin pada sang ayah. Raja Robert menghela nafasnya melihat perdebatan kedua anaknya.


"Kita lihat saja nanti. Ayah juga tidak ingin menjodohkan kalian dengan sembarang. Harus memiliki sebuah kelayakan untuk bisa mendampingi sang putri." Jelas sang raja. Walaupun itu adalah anak-anak nya, tapi raja Robert tentu tidak akan sembarangan menentukan pangeran mana yang pantas untuk putri Amelia.


"Yasudah, sebaiknya kita mengundang saja dia kemari. Aku juga ingin bertemu dengan nya." Ujar sang Raja.


"Baik ayah,/yang mulia." Ujar semua pangeran yang ada disana. Setelah mengeluarkan titah seperti itu, salah seorang pengawal langsung di utus oleh raja untuk menyampaikan hal ini. Dengan petunjuk dari pangeran Melvin, akhirnya sang utusan pun bergegas.


***


Di tempat lain, tepatnya di rumah makan Amelia. Terlihat para pekerja disana sedang sibuk melayani para pembeli yang sangat padat itu. Bahkan, dapur mereka tak henti-hentinya membuat makanan makanan itu.

__ADS_1


Melihat itu, sang pengawal yang diutus pun segera masuk kedalam tanpa kendala satu pun setelah menunjukan tanda pengenal sebagai seorang utusan dari sang raja.


maaf, saya adalah utusan dari istana, datang kesini ingin bertemu dengan pemilik rumah makan ini." ujar sang utusan dengan sopan kepada pelayan itu. Sebenarnya, ia telah mendengar nasehat yang di sampaikan oleh pangeran Melvin. Bagaimana cara ia bersikap kepada pelayan yang ada di sana.


karena, sebelum sang utusan datang ke rumah makan ini, pangeran Melvin telah memperingati sang utusan untuk bersikap sopan dan santun, kalau tidak, sang pemilik rumah makan akan mengusir nya layaknya anjing. sang pelayan itu pun tersenyum dengan ramah.


"baiklah tuan. sebentar saya sampaikan dulu kepada sang nona." ujar pelayan itu juga dengan tak kalah sopan dari sang pengawal. pengawalan itupun langsung mengangguk, kemudian sang pelayan bergegas menyampaikan berita ini kepada sang Nona.


tok tok tok


terdengar suara ketukan pintu dari sang pelayan. Pak bujang yang ternyata menggantikan Amelia di ruangan itu pun langsung berseru.


ceklek


Sang pelayan pun masuk kedalam ruangan itu dan langsung mengutarakan, apa yang harus ia sampaikan.


"maaf, menganggu tuan. di depan, ada seorang utusan dari kerajaan Merkurius, ingin bertemu dengan anda Nona. ia sudah menunggu di depan." Pak bujang yang sudah menegakkan kepalanya guna menunggu apa yang akan disampaikan itu pun mengerutkan keningnya. Ada apa gerangan, seorang utusan datang ingin bertemu dengan sang Nona..


"Ada utusan dari istana ? Untuk apa dia ingin bertemu dengan nona ?" Tanya pak bujang alias panglima Jhonatan itu berusaha mengulik informasi.

__ADS_1


"saya juga kurang tau tuan.. katanya, ia ingin menyampaikan nya secara langsung kepada nona." jelas pelayan itu lagi. Pak bujang pun menganggukkan kepalanya menarik nafasnya


"baiklah, mari kita temui." ujar pak bujang lagi. setelah mengatakan hal itu, sang pelayan pun langsung bergegas kelua dan langsung di susul oleh pak bujang. dan ternyata benar, ada seorang utusan dari istana yang tengah duduk di kursi sambil menikmati beberapa cemilan dan minuman yang di hidangkan oleh para pelayan. Hal ini juga yang menjadi salah satu yang membedakan rumah makan Amelia dengan rumah makan lain.


Ketika seorang tamu, datang ingin bertemu dengan tuan mereka, atau ada hal penting yang akan dibahas, mereka akan disuguhkan hidangan hidangan kecil sebagai bentuk penghormatan.


"permisi tuan. maaf anda menunggu lama." ujar pak bujang dengan sopan. Tentu saja, mereka semua yang bekerja kepada Amelia, harus memiliki etika dan tatakrama yang baik.tak boleh membeda-bedakan orang.


" Ya, tidak apa-apa tuan. Sudah menjadi kewajiban bagi saya." Ujar sang utusan juga. Pak bujang pun ikut mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang masih ada di sana.


"Maaf tuan. Kalau boleh tau, ada apa gerangan tuan mencari nona kami. Dan, saat ini, nona Amelia sedang tidak berada di tempat. Ia sedang keluar kota, untuk membuka bisnis baru." Ucap pak bujang to the point.


"Aduh... sayang sekali kalau begitu. saya hanya ingin menyampaikan perintah raja, dan meminta nona Amelia agar ikut bersama dengan saya di istana. Kira-kira, kapan nona Amelia akan kembali? " ujar sang utusan. Ia sekaligus bertanya, agar ia dapat menyampaikan hal ini kepada raja.


Amelia dan pak bujang serta orang orang yang bersamanya, sama sekali tidak mengetahui, bahwa kerajaan Merkurius dan kerajaan Venus bersahabat. sehingga ia tidak menaruh curiga. Karena orang yang ingin ditemui sedang tidak ditempat, akhirnya sang utusan kembali undur diri dan berpamitan kepada pak bujang.


"Saya juga kurang tau tuan. Biasanya, kalau nona Belum mendapatkan apa yang di inginkan, atau kalau urusan nya belum selesai. Biasanya itu akan memakan waktu selama berbulan-bulan. Apalagi, lingkungan di sana bisa membuat nya Nayaman. Maka akan lebih lama lagi dari biasanya." Jelas pak bujang kembali. Pengawal utusan itu pun menganggukkan kepalanya mengerti. Sepertinya, para pangeran tidak bisa bertemu dalam waktu singkat ini. Akan sangat sulit, apalagi, putri Amelia telah menjadi seorang pembisnis.


"Baiklah kalau begitu tuan. Saya akan kembali keistana dan menyampaikan hal ini kepada raja. Terimakasih jamuannya tuan. Kalau begitu, saya pamit undur diri." Setelah mendapatkan persetujuan dari sang tuan rumah, sang utusan itu pun langsung meninggalkan rumah makan itu dan kembali ke istana.

__ADS_1


***


__ADS_2