
Sementara, di meja lain yang tidak jauh dari meja putri Amelia dan pangeran William, sudah ada si kembar harimau dan Alen serta zein disana. Mereka nampak sedang berbincang-bincang dengan hangat, sesekali mereka akan tertawa. Putri Amelia yang melihat ketiga sahabat ajaibnya dan pengawal bayangan milik pangeran William sedang tertawa langsung mendekat ke arah mereka.
"Kalian ngobrol apa sih..??? Kayaknya lucu banget nggak ngajak-ngajak.." ujar Putri Amelia langsung mendudukkan tubuhnya di samping Alen.
Sisil dan Ruby yang melihat kelakuan Sang Nona langsung menepuk jidat mereka. Padahal mereka telah menyiapkan satu meja khusus untuk dirinya dan pangeran William. Sementara pangeran William sendiri melayangkan tatapan tajam kepada Putri Amelia dengan posisi yang masih berdiri.
Ruby yang menyadari tatapan tajam pangeran William kepada sang nona langsung menghampiri Putri Amelia.
"Hm... Nona. jangan duduk di sini... Kami sudah menyiapkan satu meja untuk Nona dan pangeran." Bisik ruby kepada sang nona. Putri Amelia yang mendengarkan bisikan ruby langsung melayangkan protes.
"Lah !!memangnya kenapa ? Kita kan seringnya memang seperti ini kan..??" Ujar Putri Amelia dengan polosnya dan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sisil pun langsung menepuk di jidatnya lagi dan mengadu pelan.
"Bukan begitu nona ku yang cantik dan manis baik hati dan tidak sombong. Coba Nona lihat patung liberty yang berdiri di belakang nona. Tatapannya seperti akan memakan orang saja.." bisik ruby di telinga Putri Amelia yang kali ini benar-benar sangat pelan.
Putri Amelia yang menyadari hal itu langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah pangeran William yang masih berdiri dan melayangkan tatapan tajam dan dingin ke arah Putri Amelia. Sontak Putri Amelia langsung terkekeh pelan dan bangkit.
"Hehehe... Maaf pangeranku. Ayo duduk..." Ujar Putri Amelia menghibur pangeran William.
Putri Amelia cengengesan dan salah tingkah sendiri melihat tatapan tajam sang pangeran kepadanya. Kenapa tiba-tiba dirinya memberikan respon yang tidak biasa melihat tatapan tajam itu. Seolah-olah ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya.
Perasaan itu cukup sulit untuk di jabarkan. Tanpa membuka mulat dan bersuara, pangeran William menurut dan mendudukkan tubuhnya di samping Putri Amelia. Sementara kedua pelayan itu pun langsung menarik nafas mereka dengan lega. Entah kenapa tiba-tiba mereka merasa atmosfer dalam ruangan itu menjadi dingin dan beku.
(Hah !! untung pawangnya datang dan cepat sadar dengan kelakuannya. Kalau tidak benar-benar akan mati membeku di ruangan ini.) Batin ruby menyeka keringat di dahinya akibat terlalu gugup dan cemas. Begitu juga dengan Sisil dan yang lainnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Tunggu apa lagi kalian berdua juga kembali ke meja kalian dan makan." Uca Putri Amelia kepada kedua sahabatnya itu.
Sebelum mereka meninggalkan Putri Amelia dan pangeran William di meja tersebut, terlebih dahulu mereka melayangkan tatapan mereka ke arah sang pangeran seolah meminta persetujuan dari sang pangeran. Pangeran William yang Peka dengan hal itu langsung menganggukkan kepalanya kepada keduanya.
"Baiklah nona." Ujar mereka berdua.
Setelah itu mereka bergabung dengan ke empat teman mereka lainnya dan mulai melanjutkan sarapan pagi mereka. Mereka sarapan pagi dengan hening tanpa mengeluarkan sepatah kata pun mengingat pangeran William hatinya saat ini dalam kondisi kesal. Jadi mereka semua tak berani bersuara Begitu juga dengan Putri Amelia.
"Selesai sarapan pagi, kita jalan-jalan keliling kota ini yuk !! sebelum kita melanjutkan petualangan nanti... Lagi pula sepertinya, kita sedikit akan lama di sini." Ujar alen tiba-tiba. Mereka semua pun memfokuskan pandangan mereka kepada Alen yang berbicara pelan agar tak terdengar di meja sebelah.
"Betul tuh. Nggak usah ngajak nona!! Nona kan sedang pacaran, jadi kita pergi berlima saja." Usul si hitam lagi kepada teman-temannya. Mereka semua pun mengangguk setuju. Zein yang mendengar bisikan mereka langsung menyaut.
"aku juga ikut ya. hehehe..." bisik nya kepada mereka. dengan sontak, mereka semua melihat ke arah Zein yang cengengesan. mereka semua pun mengangguk.
"Kita bilang saja pada Nona ingin berkeliling. Lagi pulang Nona tidak akan marah, toh juga dia tidak bisa ikut karena ada pangeran di sini. Jadi jujur saja kepada nona.." jawab sih biru dengan ekspresi dingin tapi suaranya masih terkesan pelan.
Mereka semua pun setuju dengan usul si biru walaupun mereka tidak tahu endingnya seperti apa. Tak lama sarapan pagi Mereka pun selesai, ruby dan Sisil langsung membersihkan meja sisa-sisa makanan mereka semua dibantu dengan si kembar harimau, Zein dan Alen.
Sehingga pekerjaan mereka dapat selesai dengan cepat. Setelah itu mereka Langsung menemui Putri Amelia untuk izin keluar jalan-jalan melihat kota samurai ini.
Awalnya Putri Amelia memang keberatan, karena teman-temannya pergi jalan-jalan tanpa mengajak dirinya. Namun akhirnya ia setuju juga. Putri Amelia sadar barangkali mereka tidak akan nyaman karena keberadaan pangeran William di samping mereka.
***
__ADS_1
Selepas kepergian teman-teman Putri Amelia. Pangeran William juga mengajak Putri Amelia untuk berjalan-jalan sejenak.
"Daripada kamu ngambekan seperti itu, lebih baik kita pergi jalan-jalan juga untuk mengelilingi kota ini." Ujar pangeran William memberikan usul.
"ah ide yang bagus pangeran.." ujarnya sambil mengeluarkan jari jempol nya.
Putri Amelia pun langsung setuju dengan usul sang pangeran. Namun dalam hati ia masih merasa ada perasaan jengkel kepada teman-temannya itu.
(Kapan sih pangeran William kembali ke istana..!!! Ini gara-gara pangeran. Masak pangeran nggak peka sih..!!) Ujar Putri Amelia dalam hatinya.
Ia hanya mampu berkata dalam hati saja, tanpa berani mengutarakannya langsung di hadapan sang pangeran. Karena Putri Amelia masih menghormati pangeran sebagai pasangannya. Nanti kalau diutarakan seperti itu, takutnya pangeran William malah tersinggung dan berpikiran macam-macam.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita jalan-jalan.." ujar Putri Amelia langsung mengapitkan satu lengannya di lengan pangeran William.
Pangeran William yang melihat respon Putri Amelia langsung tersenyum manis ke arahnya. Kemudian mengangkat sebelah tangan kanannya dan membelai lembut wajah Putri Amelia sebentar. Setelah itu mereka Langsung melanjutkan rencana mereka jalan-jalan berdua di kota itu.
Putri Amelia dan pangeran William berjalan ke arah pusat perdagangan yang ada di kota tersebut. Kota itu masih terbilang sepi tidak seperti sebelum kota ini dikutuk. Mungkin karena kau tak ini masih dalam tahap penyesuaian setelah terbebas dari mau t.
"Pangeran... Apakah para warga yang ada di kota ini sadar bahwa beberapa saat yang lalu baru saja terbebas dari kutukan..??" Tanya Putri Amelia kepada pangeran William.
Karena Putri Amelia merasa penasaran melihat raut wajah para penghuni kota samurai yang seperti tak merasa beban sama sekali. Malah mereka sering bertanya-tanya Kenapa akhir-akhir ini, kota mereka sepi pengunjung, padahal setahu mereka kemarin-kemarin kota mereka masih ramai dikunjungi para pedagang atau pelintas dari kerajaan lain.
"Seperti yang aku katakan malam hari putriku. Kalau mereka semua tidak tahu bahwa mereka telah terbebas dari kutukan yang beratus-ratus tahun lalu. Ya, jadi mereka tidak akan menduga apapun." Jelas pangeran William lagi.
__ADS_1
Putri Amelia pun mengangguk saja. Kalau sudah seperti ini, tidak ada cara untuk membantu para penghuni kota samurai yang hampir menjadi kota yang hilang di muka bumi.