PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
49. keributan


__ADS_3

Flashback beberapa hari


Kini Amelia dan Alen telah meninggal istana Raja. Berniat akan kembali ke tempat masing-masing. Namun, saat mereka sudah akan melewati gerbang istana, pangeran William langsung datang menghampiri mereka.


"Khem... Putri Amelia,.." ujar pangeran William. Amelia dan Alen yang mendengar suara itu langsung menghentikan langkah mereka dan melirik sang pangeran. Tak terlihat dari raut wajahnya yang memiliki emosi. Namun hanya ada tatapan datar seperti biasanya. Pangeran William yang melihat hal itu menghela nafasnya. Begini nih, yang perempuan yang susah di tebak, dan sangat menyeramkan. Yaitu, perempuan yang sudah tak memiliki rasa apapun.


"Apa kalian akan segera kembali ?" Tanya pangeran William kepada keduanya. Amelia tak bergeming. Ia seolah sedang malas meladani pangeran William, tapi, sebenarnya Putri Amelia sedang berusaha mengakrabkan diri dan mencari kosa kata yang cocok untuk memulai obrolan. Sementara Alen, ia malah menatap putri Amelia yang hanya diam saja itu.


"Ehem...ia tuan pangeran. Kami akan segera kembali. Semoga bisa bertemu lagi yang pangeran.." ujar Alen dengan ramah. Dengan segera. Alen pun langsung menarik tangan Amelia dan meninggalkan tempat itu. Sementara pangeran William, menatap kepergian mereka, dengan tatapan yang sulit di artikan.


Flashback off


setiap hari rumah makan Amelia tak pernah sepi oleh para pelanggan itu. tapi tiba-tiba, beberapa orang yang memakai pakaian rakyat biasa membuat kekacauan di sana, kali ini orang yang berbeda, namun yang menyuruh adalah orang yang sama, yaitu dari ruumah makan anjaloga dan seribu rasa ( seribu rasa ya teman-teman, bukan seribu bunga. Tadi, pas otor baca, disana rumah makan seribu bunga. Jadi yang benar adalah rumah makan seribu rasa.). mereka mengamuk mencari sang pemilik rumah makan.


Amelia yang mendengar kabar itu langsung bergegas keluar untuk melindungi para pelanggannya agar tak ada yang terluka. ternyata, sesampainya di luar beberapa pelanggan laki-laki sudah tergeletak dan merintih kesakitan Begitu juga dengan para pelayannya.


melihat kenyataan pahit di depannya, seketika aura kemarahan yang tersimpan di dalam hatinya langsung membuncah keluar dan mampu mengeluarkan aura yang begitu mengerikan.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN SIALAN !!! BERANI-BERANI SEKALI KALIAN DATANG MEMBUAT KEKACAUAN DI TEMPAT SAYA.!!" teriak Putri Amelia dengan suara yang menggelegar. para pembuat onar itu pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah Amelia.


"hehehe. hai nona manis, Apakah kamu pemilik rumah makan ini ? jika memang iya, kami perintahkan kepada mu untuk menutup rumah makan mu dan menjual resep mu pada kami." ujar salah seorang yang bertubuh besar itu. tatapan nya sangat mengintimidasi, namun tentu saja Amelia tidak merasa takut.

__ADS_1


Karena keributan itu juga, pak bujang yang sedang berada di ruang kerjanya pun langsung ikut keluar. Ia melihat orang-orang itu, namun tidak satupun dari mereka yang ia kenal. Tapi, setelah mendengar penuturan mereka itu, pak bujang sudah dapat menebak, bahwa mereka adalah orang-orang dari utusan beberapa orang yang membuat keributan beberapa bulan yang lalu.


"mulut mu lancang sekali menyuruh kami menutup rumah makan dan merampas resep masakan kami. kamu pikir, kamu siapa ?? heh." ujar Amelia dengan santai. sementara para pelanggan yang ada disana sudah berada di luar sebagian untuk menyelamatkan diri. namun Masi ada beberapa yang didalam.


"cih.!! ternyata kamu sombong juga ya. kalau begitu, jangan salahkan kami jika terjadi apa-apa dengan mu." ujar sang pembuat onar itu. para pelayan yang ada di sana sudah mulai ketakutan. mereka menghawatirkan sang tuan.


"buktikan kalau begitu, jangan hanya omong doang.!!" ujar Amelia sedikit geram. para pembuat onar yang merasa ditantang oleh gadis kecil menurut mereka, langsung membuat mereka marah.


"baiklah kalau begitu. kalian semua, tangkap dia dan bawa di dihadapan ku." perintah pembuat onar yang bertubuh besar itu.


"baik ketua." ujar mereka secara bersamaan. mereka pun maju untuk menyerang. sebelum para pembuat onar itu menyerangnya, Amelia memberikan kode kepada para pelayan untuk menjauh. setelah itu, Amelia menyeringai. sungguh, kemampuan yang ia miliki di zaman modern, akan ia coba kepada cecungut-cecungut itu.


para pembuat onar itu pun mulai menyerang dengan senjata tajam. Amelia yang melihat itu pun hanya menyerang dengan tangan kosong.


Amelia pun mulai mengeluarkan kemampuannya. ia bertarung dengan tangan kosong. menangkis, menghindar, serta melayangkan pukulan kepada mereka. bahkan, Amelia tidak langsung membunuh, ia hanya mengincar tulang tulang tubuh untuk dipatahkan.


Krak


Krak


Krak

__ADS_1


suara patah tulang itu membuat para pengunjung yang masih berada Disana menjadi ngeri. bahkan yang dulu mendapatkan tendangan dari para pembuat onar itu mendadak menjadi bersemangat.


"ayo Nona. hajar mereka !! Jangan kasih kendor..!!! " Teriak salah satu pengunjung rumah makan Amelia itu. Amelia bertarung dengan elegan dan membuat mereka semua seperti cacing kepanasan. Apalagi, mereka juga bukan lawan yang setimpal, jadi cukup mudah untuk mengalahkan mereka.


Tak lama, Amelia pun menghentikan aksinya. Terlihat mereka semua yang melakukan keributan itu, tergeletak dan tubuh mereka meliuk-liuk karena tulang-tulang mereka dipatahkan tanpa ampun oleh Amelia.


Pak bujang, Sisil, jeft, dan Rubi, yang ikut menyaksikan hal itu, ikut merasa takut. Mereka menelan saliva mereka dengan susah payah. Padahal mereka sendiri sudah tau, bagaimana ganasnya sang nona jika sudah bertarung. Tapi, tetap saja, mereka masih merasa ngeri melihat hal itu.


( Ugh.... Tidak sia-sia menjadi seorang pelatih. Serangannya sangat ganas dan tak memiliki rasa empati.) Batin pak bujang. Ia sendiri meringis melihat hal itu.


(Wah !!! Hebat !!. Aku baru pertama kali melihat nona bertarung lihat dan lincah seperti itu. Sungguh panutan.!!) Girang jeft dalam hati nya. Ia begitu sangat puas melihat aksi sang nona yang begitu cepat.


(Nona Kami memang hebat !! Tak ada yang bakal menandingi nya. Hehehe... Boleh kah sedikit merasa sombong ?) Batin Rubi yang begitu bangga. Sementara Sisil yang melihat hal itu masih merasa syok.


Tak hanya para pelayan yang bekerja di rumah makan Amelia. Namun semua pengunjung rumah makan itu ikut terkagum kagum. Dan ada juga yang bermonolog.


"Ternyata cukup mudah mematahkan tulang tulang para pembuat onar ini." Batin mereka. Mereka semua pun hanya melayangkan tatapan cemoohan tanpa rasa kasihan sama sekali. Mereka seolah bersyukur dengan tindakan ini.


"Eh... Kenapa nona harus turun tangan sendiri. Kenapa tidak menyuruh saya untuk membereskan orang-orang ini nona." Ucap pak bujang berjalan mendekat ke arah putri Amelia. Ia juga menatap horor orang orang yang tergeletak itu.


"Hehehe... Tidak perlu pak bujang, kalau ada pemimpin dan penanggung jawab, biar kan dia yang menyelesaikan. Dan satu hal, kalian juga harus belajar memberi pelajaran yang sepadan kepada orang orang tak tau diri itu." Ucap Amelia panjang lebar, ia juga memberikan sedikit nasehat sesat kapada bawahan nya. Sekali lagi pak bujang melihat kearah orang orang itu, kemudian menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah nona. Jeft, bereskan mereka. Jangan sampai mengganggu kenyamanan para pelanggan kita." Ujar pak bujang kepada putra bungsunya. Sementara kedua putranya yang lain, telah kembali menjadi seorang panglima. Setelah menyelesaikan masalah yang menimpa mereka, dan dibantu oleh putri Amelia.


***


__ADS_2