PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
62. rancangan pemukiman


__ADS_3

"Baik nona..." Ujar mereka dengan serentak.


Sisil dan ruby langsung bergegas menuju kamar mereka sementara si hitam dan si biru kembali ke ruang dimensi. Dan untuk Putri Amelia sendiri, iya keluar untuk menikmati suasana malam hari di tempat ini. Sangat sepi dan hanya terdengar suara kodok dan jangkrik saja. Namun suasana alam yang seperti inilah yang mampu melahirkan udara yang bersih.


"Sudah hampir mau 3 tahun lebih aku terdampar di dunia antah-berantah ini. Aku tidak dapat memprediksi masa depanku di tempat ini walaupun nyatanya Aku seorang cultivator yang memiliki ilmu spiritual. Tapi nyatanya, masa depan tetap adalah kuasa Tuhan. Mudah-mudahan kehidupan di zaman modern akan lahir di tempat ini. Hehehe mari kita coba.." gumam Putri Amelia kepada dirinya sendiri.


Ia ingin mengeluarkan semua pengetahuan dan kemampuannya semasa berada di zaman modern, ia akan mencoba menyulap pemukiman yang terpencil ini menjadi sebuah tempat yang layak dihuni.


Setelah cukup lama berada di luar, namun nyatanya Putri Amelia tak kunjung mengantuk. Akhirnya Ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang dimensinya dan melihat hal apa yang harus ia lakukan di pedesaan ini


"Kira-kira untuk membangun sebuah pemukiman, apa yang harus aku lakukan ya. Mmm.... Sebaiknya dimulai saja dari hal membuat peta rancangan agar tidak tempang ke sana kemari. Aku rasa seperti itu dulu.." ujar Putri Amelia. Putri Amelia pun langsung memanggil Alen untuk menemaninya ke ruang pribadinya.


"Len.. Alen... Kamu di mana..?? Yuhu... Alen where are you...?" Ucap Putri Amelia mencari keberadaan Alen.


Tapi tak lama Alen pun muncul di hadapannya dengan mata yang terpejam. Melihat tingkah alen seperti itu membuat Amelia langsung tersenyum. Dia pun berjalan mendekat ke arah Alen dan menoyor kepalanya.


"Hey kebo... Ayo bangun jangan tidur terus... Saatnya untuk bekerja.." ujar Putri Amelia sambil menggandeng tangan kecil Alen yang kini telah berubah menjadi anak kecil kembali di ruang dimensi. Alan yang matanya berat itu pun memaksa untuk membuka matanya, Ia pun hanya pasrah ketika Nona nya menyeretnya begitu saja.

__ADS_1


"Memangnya pekerjaan Apa yang harus kita lakukan nona? Bukankah kita sudah lama tidak bekerja..?? Apakah otak kecilku ini masih bisa berpikir..??" Racau Allen tanpa membuka matanya seolah ia sedang mengigau atau memimpikan sesuatu. Putri Amelia yang mendengarkan aturan Alen tentu saja merasa tergelitik.


"Hehehe... tentu saja kamu masih bisa berpikir. Asalkan kamu membuka matamu dengan lebar dan jangan menutupnya terus seperti itu." Ujar Putri Amelia yang langsung mencubit pipi Alen yang sukses membuat Alen kesakitan dan langsung membuka matanya.


"Aduh nona..!!! Ini sakit sekali seperti capitan kalajengking...!!" Seru Alen kepada Putri Amelia. Putri Amelia kembali terkekeh..


"Memangnya ada kalajengking cantik seperti diriku..??" Ucap Putri Amelia dengan percaya diri. Melihat hal tersebut, Alen segera mecebikkan bibirnya. Kambuh lagi sifat percaya diri sang Nona nya.


Ck... Kambuh lagi kan sikap percaya diri nona.. padahal tidak ada orang yang mengatakan nona adalah kalajengking cantik. Suka sekali Nona menyama-nyamakan diri nona dengan sesuatu yang saya sebutkan. Dasar lebay.." ujar Alen kepada sang nona. Alen juga melipat kedua tangannya di atas dadanya sambil memanyunkan bibirnya 5 cm.


"Sudah, ayo bantu aku bekerja.. Aku ingin merancang sebuah pemukiman yang bagus untuk para warga. Dan kamu harus membantuku untuk membuat peta pemukiman. Agar susunannya terlihat lebih rapi." Ujar Putri Amelia lagi kepada Alen.


"Wah nona ini sangat bagus... Kalau rancangan pembangunan dan pembukaan pemukiman warga seperti ini, ini sangat rapi dan indah dipandang mata dari atas. Lalu apa yang harus saya lakukan lagi nona." Ujar Alen ketika melihat pekerjaan Putri Amelia telah selesai. Putri Amelia menepuk kedua tangannya setelah itu memberi perintahnya.


"Tugasmu ialah, cetakan peta ini di sebuah kertas. Atau printkan dengan baik itu ada mesinnya. Jadi kamu tidak perlu menggambar ulang di atas kertas." Ujar Putri Amelia sambil menunjuk mesin print yang berukuran tak seperti mesin print biasanya. Melihat hal itu Alen langsung berjalan mendekat. Melihat benda yang asing membuat Alen menggaruk-garut kepalanya saja.


"Nona Bagaimana caraku menggunakannya. Alat ini begitu asing, Aku bingung harus melakukan apa terlebih dahulu takutnya alat ini malah rusak.." ujar Alen kepada Putri Amelia. Putri Amelia pun tersenyum kemudian berjalan mendekat ke arah Alen.

__ADS_1


"Lalu apa gunanya kekuatanmu. Bukankah kamu sudah memiliki kekuatan baru ?" Tanya Putri Amelia kepada Alan lagi.


Seketika alen pun langsung teringat di mana ia akan mengetahui cara-cara penggunaan suatu benda jika menyentuh benda tersebut, begitu juga kepada manusia. Ia akan dapat mengetahui masa lalu yang dialami oleh orang tersebut dengan menyentuh tangannya atau jika hanya dengan menatap matanya.


Mendengar penuturan Putri Amelia, Alen dengan segera langsung menepuk jidatnya. Kenapa tiba-tiba ia tak kepikiran mengenai masalah itu. Lah!! memang pada dasarnya manusia itu harus di remote dulu baru bisa berubah atau berpikir dengan baik.


"Ala Mak.!!!. Nona aku benar-benar melupakan hal itu. Baiklah aku akan mencobanya. Mudah-mudahan bisa bekerja dengan baik." Ujar Alen langsung meletakkan tangan kanannya di atas printer tersebut serta merampakan beberapa mantra.


Seketika ingatan-ingatan Alen pun langsung dipenuhi Bagaimana cara kerja mesin printer itu dari awal dihidupkan atau dipasang sampai selesai, dan juga cara printer tersebut mengeluarkan gambarnya.


Dan tanpa menunggu dan banyak tanya lagi, Alen langsung mencoba untuk mengaplikasikannya. Ia memastikan kabel-kabel penghubung di sana. Akhirnya dengan secepat kilat maka tercetak lah peta rancangan pemukiman untuk warga tersebut.


"Wah ini benar-benar menakjubkan nona... Hanya perlu menggambar di kotak segi empat itu, dan kemudian mencetaknya dengan mesin ini. Dan hasilnya sangat rapi." Kagum Alen kepada kertas yang sudah tercetak peta rancangan pemukiman itu. Amelia tersenyum dan berbangga diri.


"Tentu donk. Di zaman modern, semuanya serba lengkap dan pakai mesin. Hanya saja tak dapat mengumpulkan energi spiritual seperti yang dilakukan di tempat ini.." ujar Amelia kembali mengerjakan sesuatu. Alen pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi, kenapa nona mau turun tangan untuk membantu para warga disini. Lagi pula, tempat ini tidak jauh dari laut. Dan biasanya, akses akan lebih mudah jika pemukiman dekat dengan laut. Tapi, kenapa rajanya malah mengabaikan desa atau tempat ini..??" Ujar Alen panjang lebar. Putri Amelia yang mendengar penuturan bijak dari Alen, hanya mampu mengedipkan bahunya.

__ADS_1


"Logika saja ya Len. Memangnya kamu pernah melihat dan tau, kalau di benua ini, ada yang membangun pemukiman di dekat laut, atau dengar jarak 500 meter dari laut..??" Ujar Amelia berbalik bertanya kepada Alen.


__ADS_2