PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
60. tidak tau apa-apa


__ADS_3

"Tapi untuk tempat tinggal atau untuk tanah yang akan kalian gunakan membangun tempat tinggal, itu terserah para tuan-tuan saja ingin mendirikannya di mana.


"Asalkan para tuan-tuan tak mengusik tempat berdirinya rumah-rumah para warga di sini." Jelas Pak Sono dengan bijaksana. Si biru dan si hitam pun mengangguk tanda mengerti.


"Mohon maaf sebelumnya pak. Kalau boleh kami tahu memangnya apa yang terjadi dengan Desa ini.?? Sampai-sampai masyarakatnya hidup begitu memprihatinkan ?" Tanya si hitam lagi. Pak Sono yang mendengarkan penuturan si hitam langsung menghela nafasnya dengan berat.


Kemudian dengan senang hati ia bercerita mengenai desa tersebut. Di mana Desa ini sudah berada di dalam kekuasaan kerajaan Pluto. Namun Desa mereka berada cukup jauh dari peradaban kota atau kerajaan itu. Jarak tempuh untuk ke desa ini juga cukup sulit. Sehingga tak ada punggawa punggawa istana yang datang melihat kondisi keadaan mereka.


Lebih tepatnya Desa ini sudah tidak diakui lagi walaupun masih berada di lingkungan atau wilayah kekuasaan sang raja Pluto. Sehingga Desa mereka tak tersentuh pembangunan atau penyuluhan apapun dari kerajaan itu.


Kehidupan mereka pun terus berpindah-pindah, banyak juga para warga yang sudah berpindah dari tempat itu ke desa Yang lain. Mendengar cerita dari Pak Sono, si hitam dan si biru sekilas merasa prihatin.


"Lalu kenapa tidak bertani saja Pak ? Atau memanfaatkan keragaman hayati yang ada di daerah ini. Lagi pula tanah yang ada di desa ini begitu subur."ucap sih biru lagi. Pak Sono langsung menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kami akan bertani tuan. Kami saja tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan lahan-lahan kosong. Kehidupan kami di kerajaan ini hanya bergantung kepada hutan yang ada di alam ini." Ucap Pak Sono lagi.

__ADS_1


Kalau dipikir-pikir, Desa ini benar-benar ketinggalan jauh. Hanya karena masalah pertanian saja mereka tak mengetahui caranya. Lalu bagaimana mereka hidup ? Kalau hanya sekedar mengandalkan hutan saja, suatu saat sumber daya dalam hutan pasti akan habis juga. Apalagi tidak dibudidayakan seperti itu.


"Mm... Baiklah kalau begitu. Kami akan segera membangun tempat tinggal untuk kami. Karena kami tidak berdua ke desa ini, ada tiga teman cewek yang masih menunggu kami untuk mendapatkan tempat tinggal. Jika Pak Sono mengizinkan, kami akan membangun tempat tinggal tempat berseberangan di samping tempat tinggal Pak Sono." Ujar si biru mencoba bernegosiasi. Dan tentu saja Pak Sono tidak keberatan. Lagi pula di desa ini juga tidak ada kepemilikan tanah, jadi rasanya tidak masalah.


"Baiklah tuan-tuan. Silakan lakukan apa yang kalian mau di tempat ini. Dan juga di sini juga tak ada pengamanan atau yang lain sebagainya. Jika ada bahaya yang ada atau yang datang menghampiri Desa ini, kita semua hanya mampu menyelamatkan diri masing-masing. Dan saya harap juga tuan-tuan mengerti dengan maksud saya." Ujar Pak Sono kepada keduanya lagi sebelum akhirnya si hitam dan si biru berpamitan untuk membangun gubuk mereka.


***


Kini setelah lama berbincang dengan Pak Sono. Mereka akhirnya memutuskan membangun sebuah kediaman sederhana berada agak jauh dari peradaban warga yang ada di sana. Ya sekitar 100 meter lah dari sana. Mereka membangun tempat itu dengan cepat secepat kilat. Namanya juga orang yang memiliki kekuatan ya, semuanya bisa terjadi hanya dengan mengucapkan bim salabim abraka nabra. Maka sesuatu yang mustahil pun akan terjadi. Setelah semuanya selesai, si biru dan si hitam pun bergegas menghampiri sang Nona dan juga kedua pelayannya di tepi pantai.


***


"Wah nona ini enak sekali... Selama kita berada di istana, tak pernah sekalipun merasakan makanan-makanan seperti ini. Apalagi bumbunya sangat maknyus.." uji Sisil sambil mempraktekkan tangannya mulutnya juga tak henti-hentinya mengunyah ikan-ikan bakar itu. Begitu juga dengan yang lain. Sampai akhirnya si hitam dan si biru datang menghampiri mereka.


Syuuutt

__ADS_1


"Wah sedang ada pesta kecil-kecilan nih!! Nona dan kalian berdua sangat curang !! Kenapa tak menunggu kami kembali baru melakukan pesta ini." Ujar si hitam dan si biru memprotes kepada ketiga gadis itu. Layaknya sebuah keluarga, si hitam dan si biru langsung bergegas mendudukan tubuh mereka di samping Putri Amelia dan Sisil. Mereka melihat ikan-ikan bakar yang begitu sangat menggugah selera.


"Wah nona !! Aromanya sampai membuat air liur ku menetes. Apakah aku boleh mengambilnya..!!" Seru sih hitam sambil mengusap-usap kedua tangannya matanya berbinar dan tertuju kepada ikan-ikan yang sedang dibakar itu. Tanpa menjawab pertanyaan dari si hitam, Putri Amelia langsung mencapit salah satu ikan bakar yang telah matang dan meletakkannya di hadapan sibiru, kemudian disusul dengan si hitam.


"Makanlah kalian berdua, pasti sangat lelah di perjalanan bukan..??" Tanya Putri Amelia langsung tersenyum ke arah keduanya. Mereka semua pun langsung menganggukkan kepala. Dan tak menunggu lama mereka Langsung menyantap ikan-ikan bakar yang sudah dilumuri bumbu-bumbu penyedap.


Suasana hening itu pun terjadi karena masing-masing dari mereka sibuk mengunyah makanan yang ada di hadapan mereka. Bahkan tak ada yang berani bersuara dan juga tidak ingin bersuara karena akan mengganggu konsentrasi makan mereka.


Sepertinya malam akan segera tiba. Putri Amelia dan kawan-kawannya memutuskan langsung untuk kembali ke tempat yang telah dibangun oleh si hitam dan si biru.


"Nona, sepertinya malam akan menjelang. Kami sudah membuat tempat perteduhan kita di desa ini, tentunya dengan persetujuan dari orang-orang desa di sana. Tapi nona, kehidupan di tempat ini begitu sangat menyedihkan. Tanah subur bukan menjadi sebuah jaminan untuk mensejahterakan masyarakatnya. Malahan mereka tak tahu bagaimana cara bercocok tanam." Ujar biru menjelaskan kepada Putri Amelia sesuai dengan hasil wawancara mereka kepada Pak Sono.


"Benarkah seperti itu !! Lalu bagaimana cara mereka bertahan hidup kalau bukan memanfaatkan hasil tanah subur ini ?" Tanya Putri Amelia kepada biru dan hitam. Sisil dan ruby mengganggu anggukkan kepala mereka.


"Iya Nona mereka tidak tahu cara bercocok tanam, atau membudidayakan tanaman. Mereka hanya bergantung kepada hasil hutan. Yang mungkin setiap hari akan berkurang dan bahkan bisa saja habis." Ujar si hitam lagi. Putri Amelia sedikit tertegun. Bagaimana mungkin ada sebuah desa atau orang yang tak mengerti Bagaimana cara menanam tanaman atau membudidayakan tanaman.

__ADS_1


__ADS_2